“5:6 Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan; 5:7 melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi..”(AYUB 5:6-7)
Kisah perjalanan hidup Ayub diawali dengan menjelaskan tentang Ayub. la adalah seorang yang saleh dan jujur, ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ayub memiliki tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan, la juga diberkati dengan kekayaan yang luar biasa, sehingga ia merupakan orang yang terkaya (Ayub 1:1-3). Kemudian, Ayub 1:13-19, menerangkan bahwa semua ternak yang ja miliki habis dirampas orang termasuk para penjaga ternaknya dibunuh dengan pedang. Bahkan ketika ketujuh anaknya laki-laki dan ketiga anaknya perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudaranya yang sulung, tiba-tiba angin ribut melanda rumah itu dan roboh menimpa ke sepuluh anak Ayub, sehingga mereka semua mati.
Saudaraku, mungkin setiap kali kita membaca atau mendengar kisah tentang Ayub, kita bertanya-tanya, ada apa dengan Ayub? Kalau kita memperhatikan kembali apa yang dijelaskan di dalam Ayub 1:1, kurang apa Ayub? Bukankah ia seorang yang saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan? Bahkan Allah sendiri mengakui ketika berdialog dengan Iblis, Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tidak ada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (ayat 8). Rasanya sulit dimengerti bahkan sulit untuk diterima, “mengapa Ayub harus mengalami permasalah hidup yang bertubi-tubi.” Namun demikian, apa yang tertulis dalam Alkitab yang adalah firman Allah, pastilah ada maksud TUHAN untuk menyatakan kebenaran-Nya kepada setiap orang, termasuk kita. Mari membaca teks kita, Ayub 5:6-7
Ayub pasal 5 ini merupakan percakapan antara Elifas dengan Ayub yang adalah sahabatnya. Jika kita membaca berlulang-ulang dan memperhatikan, sepertinya bukan sekedar teguran, tetapi bisa juga mengarah kepada penghakiman Elifas terhadap Ayub. Tapi apa pun itu motivasi Elifas, mari memperhatikan apa yang ja katakan khususnya di dalam ayat 6-7 demikian, “Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan; melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi.”
Permasalahan hidup dapat disebabkan oleh kasalahan manusia itu sendiri. Dalam kisah perjalanan hidup Ayub, kita diberitahu bahwa anak-anaknya memiliki kebiasaan buruk, yaitu pesta makan-makan dan minum anggur (Ayub 1:4,13). Kemudian, apa yang dilakukan Ayub? Ayub memanggil mereka, menguduskan mereka dan mempersembahkan korban bakaran” (Ayub 1:5), tetapi tanpa menasihati anak-anaknya untuk berhenti dan bertobat dari kebiasaan yang buruk. Kemudian, permasalahan hidup juga dapat disebabkan oleh karena Allah yang mengizinkan. Rasanya sulit diterima, mengapa Allah yang penuh kasih mengizinkan ciptaan-Nya mengalami permasalahan hidup. Saudaraku, Allah mengizinkan Ayub mengalarni permasalahan bukan tanpa tujuan. Ayub berkata: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:5-6). Iman Ayub dimurnikan melalui permasalahan hidup yang ia alami. Itulah tujuan Allah mengizinkan umat-Nya mengalami permasalahan hidup.
Saudaraku, mari senantiasa minta hikmat dari Tuhan, supaya kita dapat merespon secara tetap setiap permasalahan hidup yang kita alami. Tuhan Yesus Kristus, gembala yang baik melimpahkan segala rahmat-Nya untuk kita. Amin
