“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”(Matius 5:43-44)
Disakiti oleh sesama itu, baik secara fisik maupun verbal selalu meninggalkan luka batin. Dan kalau kita mengingat-ingat hal itu tentu tidak memberi rasa damai dalam diri sendiri dan ampun kepada orang tersebut. Sebagai anak-anak Allah yang menerima anugerah pengampuanan Allah, kita tidak boleh larut dalam duka dan luka yang mendalam bahkan menyimpan dendam atau balik berbuat jahat terhadapnya. Di luar ajaran Kristus, musuh atau orang yang memusuhi kita harus dibenci, tetapi kita sebagai anak-anak Tuhan, musuh atau orang yang memusuhi kita harus dikasihi, tetap diperlakukan baik dan didoakan (Mat. 5:43-44). Daud memberi contoh kepada kita bagaimana ia mengasihi musuh-musuhnya. Kepada raja Saul yang terus menerus mencoba membunuhnya, ia menyebutnya sebagai orang yang dicintainya dan yang ramah. Ia ungkapkan itu dalam ratapannya saat Saul dan Yonatan anak Saul yang mati terbunuh dalam peperangan. “Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa” (2 Sam. 1:23).
Selama Saul masih hidup, Daud terhalang untuk melakukan kehendak Allah yaitu menjadi raja atas Israel. Namun dalam lubuk hati Daud yang terdalam tidak ada sedikitpun niat untuk menyingkirkan raja Saul. Kini Saul dan anaknya telah mati, dan seharusnya Daud bersukacita karena hambatan bagi dia untuk menjadi raja telah tiada, namun kematian Saul dan Yonatan membawa duka yang sangat dalam bagi Daud. Inilah contoh hati yang mengasihi musuh.
Dari pengalaman hidup Daud, kita sekarang dapat mengerti bahwa mengasihi musuh adalah penyangkalan diri terhadap ambisi dan keinginan pribadi yang meluap-luap. Mengasihi musuh juga berarti kita harus belajar dengan hati yang tabah dan sabar menerima segala macam gangguan, hambatan, dan perilaku jahat yang dilakukan orang lain terhadap kita sebagai cara Allah membentuk karakter kita dan mempersiapkan kita meraih rencana Allah dalam hidup kita; dan jika hal ini kita sadari maka tindakan mengasihi musuh adalah sesuatu yang mutlak kita lakukan sekarang ini, bukan nanti. Dalam hal ini, kita juga harus tahu bahwa mengasihi musuh bukan berarti kita menyukai atau membenarkan perbuatannya, tetapi dengan mengasihinya berarti kita menyerahkan kepada Tuhan yang mampu mengubah manusia dan membalas segala perbuatan manusia (Rm. 12:19). Dan dengan menyerahkan orang yang memusuhi kita kepada Tuhan Yesus Kristus berarti kita juga rindu supaya mereka bertobat dan diselamatkan Tuhan.
Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, mari kita kembali renungkan hal ini! Jika orang duniawi memusuhi musuhnya dan berusaha membasminya dengan segala cara, maka itu sesungguhnya akan memunculkan musuh-musuh lainnya yang lebih besar dan lebih banyak lagi, dan satu-satunya cara untuk mengalahkan musuh kita adalah dengan cara mengasihinya seperti ajaran Tuhan kita Yesus Kristus, Juruselamat kita meskipun itu sangat sulit. Selamat belajar dan mencoba dan teruslah belajar dan mencoba tanpa jemu-jemu! (Gal. 6:9-10). Tuhan Yesus memberkati.
(AP22042024)
Pokok Doa GBIK:
- Doakan MK dalam memutuskan sidang sengketa Pemilu tahun 2024 para Hakim di beri hikmat Tuhan hasilnya dapat diterima seluruh masyarakat Indonesia tidak menimbulkan ganguan keamanan;
- Doakan GBIK tetap menjadi Gereja yang Injili setiap organisasi kepanitiaan yang ada bersatu padu setia ambil bagian untuk kemuliaan Tuhan.
- Doakan Jemaat tetap setia taat akan Firman Tuhan dan menjadi berkat di mana Tuhan tempatkan menjadi saksi saksi Kristus melalui tutur kata tingkah laku berkenan pada Tuhan.
Pokok Doa Cabang PURWONEGORO, Jawa Tengah
- Bersyukur persekutuan dan ibadah berjalan lancar
- Doakan pada bulan Mei akan mengadakan Ibadah padang/wisata rohani di Dieng
- Doakan yang sedang merantau, kuliah/belajar/bekerja di luar kota : sdri. Bayun, sdri. Intan, sdr. Yanto, kel. Bpk. Sembiring, sdr. Krisna.
