“Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: tinggalah kamu disini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang , sesudah itu kami kembali kepadamu”
(Kej.22:5)
Dalam sebuah penyembahan dibutuhkan pengorbanan, hal inilah yang sedang diuji oleh Tuhan kepada Abraham. Tuhan ingin melihat seberapa tulus pengorbanan yang Abraham berikan kepada Tuhan.
Abraham yang notabene baru memiliki anak sah dari istrinya Sara diperhadapkan dengan sebuah perintah sulit dimana Tuhan ingin Abraham mengorbankan Ishak sebagai korban bakaran (Kej.22:2). Layaknya sebagai manusia, kita pasti dapat menggambarkan situasi hati Abraham dan Sara apalagi untuk kita yang sudah memiliki buah hati. Carut marut? Sudah pasti! Sedih? Apalagi! Senang? Wah, saya kira tidak mungkin. Namun itulah arti sesungguhnya dari penyembahan, yaitu pengorbanan. Hal ini terlihat jelas dalam perkataan Ishak ‘…Bertanyalah ia: disini sudah ada api dan kayu, tetapi dimanakah anak domba untuk korban bakaran itu?’ (Kej.22:7b). Ishak mengetahui dengan pasti bahwa dalam sebuah penyembahan memerlukan korban, hal inilah yang seharusnya menjadi prinsip hidup orang percaya dalam sebuah penyembahan.
Lantas apakah kita juga perlu membawa korban bakaran berupa hewan dan lain sebagainya kepada Allah saat ingin menyembah? Sudah sangat jelas bahwa Tuhan Yesus telah menjadi Korban Agung untuk kita (Ibr.10:1-18), sehingga kita dilayakkan dan diperdamaikan dengan Allah. Korban Agung tersebut membuat orang percaya tidak perlu lagi membawa korban guna pelayakan dan perdamaian dengan Allah. Namun demikian esensi penyembahan yang adalah pengorbanan tidak boleh dilupakan, orang percaya harus tetap membawa korban kepada Allah dalam sebuah penyembahan. Bukan lagi untuk pelayakan atau perdamaian, namun untuk ucapan syukur dan kesungguhan.
Dalam sebuah penyembahan, orang percaya harus membawa hati yang sungguh sehingga penyembahan tersebut tidak ternodai. Apa bentuk hati yang sungguh yang berkenan untuk sebuah penyembahan? Hati yang penuh kasih (Ibr.13:15-16; Fil.4:18). Hati yang penuh kasih akan membawa kepada totalitas penyembahan, karena penyembahan bukan hanya digereja saja melainkan keseluruhan hidup. Ketika orang percaya memancarkan kasih, maka itu adalah penyembahan yang harum bagi Allah. Ingatlah dengan baik bahwa hati yang penuh kasih adalah korban yang harum bagi Allah dan hati yang penuh kasih akan membawa kita kepada penyembahan yang berkenan.
Oleh karena itu kita perlu mempersiapkan hati dengan baik sehingga hidup kita dapat merepresentasikan kasih dan hidup kita dapat dicium harum oleh Allah. Jika kita saat ini masih terdapat noda dalam hati, mungkin karena sakit hati dengan seseorang ataupun ada kepahitan yang tak kunjung sembuh, datanglah kepada Tuhan dan lepaskanlah pengampunan sehingga hati kita kembali membaik dan dapat memancarkan sesuatu yang baik. Karena penyembahan yang baik perlu korban yang baik, yaitu hati yang baik yang penuh kasih. Tuhan Yesus memberkati
(YG21062023)
Pokok Doa GBIK:
- Doakan Pemerintah Indonesia dalam usaha membangun Sosial Ekonomi untuk kesejahteraan Rakyat Indonesia dapat berjalan lancar tepat sasaran menjadi berkat, dapat mengurangi kemiskinan yang ada di Indonesia;
- Doakan GBIK dalam Pengabaran Injil diberkati Tuhan dan menjadi berkat bagi Cabang maupun Pos PI yang ada dengan segala pergumulan dan tantangan yang ada dapat pertolongan dan pimpinan Tuhan sehingga berjalan sesuai rencana;
- Doakan Jemaat yang sedang ada pergumulan pribadi dalam keluarganya tentang pekerjaan, ekonomi dan kesehatan, tetap mengandalkan Tuhan dan dapat di jalani dengan rasa syukur penuh sukacita.
Pokok Doa GBIK Cabang GERBANG MUTIARA, Landak, Kalimantan Barat
- Mengucap syukur Kegiatan gereja dapat terus terlaksana;
- Bersyukur untuk remaja pria (SMA) (bapak muslim/ibu Dayak/ Kristen) kurang lebih 2 bulan aktif lagi ikut ibadah minggu dan bersyukur seorang ibu yang sudah lama tidak aktif ibadah mulai 2 minggu aktif lagi ikut ibadah;
- Doakan bimbingan belajar untuk anak SD dan yang akan masuk sekolah dapat terus berjalan.
