“Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
(Lukas 10:33-37)
Selama beberapa hari ini kita merenungkan tentang “kasih itu murah hati”. Apa arti sesungguhnya kasih murah hati itu. Kasih murah hati pasti bukan kasih yang murahan. Bukan pula kasih asal-asalan yang dilakukan dengan setengah hati. Kasih murah hati adalah kasih yang tulus dan sangat mulia, yang penuh dengan pengorbanan. Mari kita melihat satu contoh yang ada dalam Alkitab, yang diceriterakan oleh Tuhan Yesus dan ditulis oleh Lukas dengan pimpinan Roh Kudus dalam Lukas 10:23-37.
Dalam injil tersebut dipaparkan bahwa pada suatu hari seorang ahli Taurat bertanya kepada Tuhan Yesus apa yang harus dia perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. (Perhatikan yang bertanya adalah seorang ahli hukum Taurat— orang yang sangat paham tentang hukum /firman Tuhan). Yesus balik bertanya kepadanya, apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang dia baca di sana? Ahli Taurat itu menjawab : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Kemudian Tuhan berkata kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup”. Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
Lalu Tuhan Yesus menceriterakan kepadanya tentang seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Orang itu jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
Kemudian datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Dia pergi kepada orang yang sedang menderita setengah mati itu, lalu merawat serta membalut luka-lukanya. Setelah itu ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: “Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? Dia menjawab: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Penulis yakin bahwa Anda juga setuju akan jawaban ahli Taurat itu. Jadi, Kasih yang murah hati adalah kasih yang dinyatakan dalam perbuatan. Rela menolong siapapun yang berada dalam kesukaran dan membutuhkan pertolongan. Perhatikan dalam ayat-ayat ini Tuhan Yesus menyebut orang yang dirampok itu dengan “seorang”, tidak disebutkan namanya, asal usulnya, pekerjaannya, agamanya atau status sosialnya.
Kasih yang murah hati ialah kasih yang diwujudkan dalam tindakan rela berkorban. Perhatikan orang Samaria yang baik hati itu. Ia rela membawa orang yang dirampok itu ke penginapan. Orang Samaria itu memberi waktunya, tenaganya, uangnya untuk merawatnya. Dia rela berjalan kaki dan orang yang ditolongnya itu dinaikkan ke atas keledai miliknya. Kasih yang murah hati adalah kasih yang memberikan pertolongan sampai tuntas dan tidak mengharapkan balasan. Cermati juga orang Samaria itu, ketika keesokan harinya dia akan melanjutkan perjalanannya , dia meninggalkan uang sebesar dua dinar, dan memberi pesan kepada pemilik penginapan itu untuk merawat orang Samaria itu. Selanjutnya dia juga berkata jika ia harus menambah biaya lebih dari itu, dia akan menggantinya, waktu dia kembali.
Saudaraku pembaca SRHI yang dikasihi Tuhan, marilah kita minta kepada Tuhan, hati yang dipenuhi dengan kasih yang murah hati.
(JET03032023)
Pokok Doa:
- Berdoa untuk kesehatan jemaat saat musim penghujan ini supaya terhindar dari sakit penyakit;
- Berdoa untuk daerah yang terkena banjir supaya warga yang terdampak tidak terkena sakit dan dapat melewati masa sulit;
- Berdoa untuk panitia tolong menolong supaya diberikan hikmat dan kekuatan untuk melaksanakan tugas pelayanannya.
Pokok Doa Cabang BERSINAR, Kisaran, Sumatera Utara
- Doakan kesehatan Keluarga Pdt Lammarua Simamora biaya pendidikan anak anak;
- Mengucap syukur atas terlaksananya pelatihan PI;
- Doakan supaya jemaat terbeban membawa jiwa-jiwa bagi Tuhan.
