“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”
(Yeremia 29:7)
Yeremia, putra seorang imam, lahir dan dibesarkan di Anatot, desa para imam (6 km dari Yerusalem), selama pemerintahan Raja Manasye yang jahat. Ia melayani sebagai nabi di kerajaan selatan Yehuda, sepanjang 40 tahun terakhir dari sejarahnya (626-586 SM) pada tahun ke-13 pemerintahan Raja Yosia. Ia turut mendukung gerakan pembaharuan Yosia. Akan tetapi, ia segera menyadari bahwa gerakan itu tidak menghasilkan perubahan sejati dalam hati bangsa itu. Yeremia mengingatkan bahwa jika tidak ada pertobatan nasional sejati, maka hukuman dan pemusnahan akan datang. Yeremia masih hidup untuk menyaksikan serbuan Babel ke Yehuda yang berakhir dengan kebinasaan Yerusalem dan Bait Suci dalam tahun 586 SM. Hukuman Tuhan berupa pembuangan ke Babel tergenapi.
Yeremia seringkali disebut “nabi peratap”, seorang yang menegur umat Tuhan dengan keras, namun berhati lembut. Lihat Yeremia 8: 21-9:1: “Karena luka puteri bangsaku hatiku luka; aku berkabung, kedahsyatan telah menyergap aku. Tidak adakah balsam di Gilead? Tidak adakah tabib di sana? Mengapakah belum datang juga kesembuhan luka puteri bangsaku? Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangisi orang-orang puteri bangsaku yang terbunuh”. Sifatnya yang lembut itu menjadikan penderitaannya semakin mendalam ketika firman nubuatan Allah ditolak penduduk Yehuda. Sepanjang sejarah bangsa Yahudi tidak pernah ada teladan kesungguhan yang begitu mendalam, penderitaan tak henti-hentinya, memberitakan amanat Allah tanpa takut, dan syafaat tanpa kenal lelah dari seorang nabi seperti halnya Yeremia.
Namun ketika Yeremia telah berhenti berharap, Tuhan justru mengingatkannya bahwa masih ada harapan. Ia mendapatkan kekuatan karena janji Tuhan. Tuhan sendiri yang menyertainya sehingga ia dapat berkata, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan. 3:22-23). Ini adalah kalimat yang sangat menguatkan di tengah penderitaan yang sedemikian hebat. (Catatan: Selain Kitab Yeremia, Nabi Yeremia juga menulis Kitap Ratapan.
Teks kita hari ini merupakan isi surat yang ditulis dan dikirim oleh Yeremia kepada bangsa Yehuda yang dibawa sebagai tawanan ke Babil. Dalam suratnya ini Yeremia tetap menasihati bangsa Yehuda untuk tetap tabah dan menjalani kehidupan mereka secara normal. Yeremia meminta mereka untuk memelihara hidup mereka agar jumlah mereka tidak berkurang tetapi justru terus bertambah. Nabi Yeremia juga meminta mereka untuk tidak membenci bangsa Babil. Justru Yeremia meminta mereka untuk mengusahakan kesejahteraan negeri Babil dan mendoakannya. (Yeremia 29:5-6). Yeremia menyatakan kepada mereka bahwa hukum Allah ini hanya berlangsung selama 70 tahun, Tuhan akan membebaskan mereka kembali.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, nasihat Yeremia kepada bangsa Yehuda sangat baik untuk kita. Kalau Yeremia menasihati orang Yehuda tetap mengasihi dan mendoakan serta mengusahakan kesejahteraan bangsa Babil yang menawan mereka, seharusnya kita juga berkewajiban untuk mendoakan dan mengusahakan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah tanah air kita sendiri. Telah 77 tahun Tuhan mengaruniakan kemerdakaan bagi negeri kita ini.
Rasul Paulus menasihati kita untuk menaikkan doa syafaat bagi semua orang termasuk mendoakan pembesar dan pemimpin negara kita. “ Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita” (1 Timotius 2:1,2).
(JET26082022)
Pokok Doa:
- Petani di Indonesia dapat mengolah lahan sebaik-baiknya guna mendukung swasembada pangan. Kiranya Tuhan memberkati dengan hasil tanah yang melimpah guna mencukupi keperluan masyarakat Indonesia;
- Gembala Sidang, Asisten GS, Para Diakon, Kepala Kantor Sekertaris dan Karyawan tetap dalam perlindungan penyertaan Tuhan, diberi hikmat dan semangat dalam mengerjakan tugas tanggung jawabnya;
- Jemaat GBIK dapat membangun rumah tangga yang takut akan Tuhan, tetap bersukacita, serta dapat menghadapi semua tantangan dan kesulitan dengan mengandalkan Tuhan.
Pokok Doa TPW PENGHARAPAN, Birinoa, Halmahera Utara
- Pemulihan kesehatan jemaat yang sedang sakit: Ibu Sinadia;
- Anak-anak yang baru memulai studi di jenjang SD, SMP, SMA;
- Anak-anak dari jemaat yang belum percaya: Aldi, Lita, Opan, Elen dapat menerima Kristus.
