“Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.”
(Mazmur 86:1-3)
Mazmur 86 ini oleh Lembaga Alkitab Indonesia diberi judul :Doa Minta Pertolongan. Doa Daud
Doa adalah suatu hadiah istimewa dari Tuhan, sayangnya banyak orang mengabaikannya. Penulis yakin Anda setuju dengan pendapat tersebut di atas. Memang banyak orang Kristen yang berusaha keras untuk berdoa dengan tekun dan khidmat, tetapi tidak sedikit juga yang melalaikannya. Orang melalaikan doa karena keduniawian telah menguasai manusia dan hal itu sangat merugikan. Orang banyak, bahkan kadang-kadang orang Kristen melalaikan doa dan tidak biasa berdoa karena kemalasan rohani. Orang cenderung memilih kesenangan duniawi sehingga sering melewatkan pemberian yang sangat berharga itu, yaitu acuh untuk berdoa.
Daud adalah seorang pendoa yang setia. Kita dapat melihat hal itu dalam mazmur-mazmur yang ditulisnya. Mazmur 86 ini adalah salah satu mazmur yang berisikan doa Daud. Daud adalah orang yang sangat berkenan di hati Tuhan. Tuhan sangat mencintai Daud. Dalam Mazmur 86 ini kita melihat salah satu orang kudus Allah di tempat yang paling suci, di hadapan Allah yang adalah Rajanya. Saat itu Daud sedang terpuruk. Dia merasa miskin dan sengsara. Dia ingin sekali dilepaskan dari keterpurukannya. Dia rindu dipulihkan dan bangkit kembali. Dia merasa nyawanya terancam.
Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita rindu untuk dilepaskan dari keterpurukan, hal pertama yang baik untuk kita lakukan adalah meneladani Daud. Ia mengambil tempat yang tepat, ia datang menghampiri Tuhan. Dengan merendahkan diri ia berseru nyaring kepada Tuhan, seolah-olah meratap dia berkata, “Aku ini seorang pengemis yang hina, hamba memerlukan pertolongan”. Daud menempatkan ALLAH sebagai Allah yang Mahatinggi namun penolong dan pengampun yang setia. Daud menempatkan ALLAH sebagai Bapa yang lembut, IA mengerti dan memahami hal yang dikatakan oleh anak-anak-Nya yang lemah.
Kata yang sangat penting dalam Mazmur 86 ini adalah “sebab“. Kata “sebab” berkali-kali muncul dalam doa Daud ini. Karena ruang yang terbatas mari kita memerhatikan 5 kata sebab dalam ayat 1-5.
Dalam ayat 1 “Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin.” Ketika kita datang kepada Tuhan dalam doa, kita harus datang sebagai pengemis. Ada dua kata dalam bahasa Yunani yang menunjukkan kemiskinan. Satu menunjukkan kemiskinan terhormat, kemiskinan seorang pria dalam keadaan sederhana, yang bekerja keras untuk mendapatkan makanannya. Yang lainnya berarti “pengemis”, keadaan orang yang tidak punya apa-apa, yang benar-benar bangkrut. Inilah kata miskin yang dipakai Daud dalam doanya ini. Dalam khotbah Tuhan Yesus yang kita kenal dengan Khotbah di Bukit dan tertulis di Matius pasal 5, Tuhan Yesus berfirman: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3).
Dalam ayat 2, “Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. Kata sebab dalam ayat 1 adalah untuk orang yang “miskin” tetapi kata sebab dalam ayat 2 ini adalah untuk orang yang dikasihi Tuhan dan yang percaya kepada Tuhan. Kita berani menghampiri hadirat Tuhan dan memohon kepada-Nya karena kita adalah anak-anak-Nya. Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang Kristen di Roma menulis: “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”(Roma 8:15). Kita dapat datang kepada Tuhan dan berdoa memohon Tuhan mencukupkan keperluan kita karena Allah adalah Bapa kita.
Dalam ayat 3 “Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. ” Kata sebab yang ketiga dalam ayat 3 ini menunjukkan kepada kita apa yang harus menjadi sifat kita. Jika kita ingin tetap dalam persekutuan dengan Tuhan, kita harus memanggil Dia “sepanjang hari.” Rasul Paulus meminta orang Kristen di Efesus dan kepada kita juga: “dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,” (Efesus 6:18). Dalam Kisah Para Rasul 12:5-10 diceritakan tentang Petrus yang ditangkap dan dipenjarakan dengan penjagaan sangat ketat oleh Herodes. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. Dan pada malam sebelum Herodes menghadapkannya, Malaikat Tuhan menepuk, membangunkan Petrus, menyuruhnya merapikan diri, lalu memimpin Petrus keluar dari penjara dengan melalui para penjaga sampai ke pintu gerbang penjara yang juga terbuka dengan sendirinya.
Dalam ayat 4: “Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku”. Pemazmur memulai Mazmur 86 ini dengan meminta Tuhan untuk “menundukkan telinga-Nya kepadanya,” tetapi dia melanjutkan sampai pada suatu titik kepercayaan harapan sehingga dia berani minta Tuhan menundukkan telinga-Nya dan ia sendiri mengangkat jiwanya ke hadirat Allah. Pengangkatan itu dilakukan agar ia dapat mengambil bagian dalam sukacita Allah. Tuhan adalah pusat kebahagiaan abadi. “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mazm 16:11).
Dalam 5: “Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.” Ini adalah alasan yang sangat penting mengapa kita berdoa kepada Tuhan. Allah adalah Allah yang penuh kasih sayang dan penuh pengampunan. Itulah sebab mengapa ketika Tuhan Yesus mengajarkan bagaimana cara berdoa kepada murid-murid-Nya, Tuhan Yesus mengajarkan agar setiap pendoa memohon kepada Tuhan untuk mengampuni dosanya. Tuhan penuh kasih setia kepada setiap orang yag berseru kepada-Nya.
Tuhan Yesus juga mengajarkan dalam Matius 7:7-11: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, marilah menghampiri Tuhan dalam doa dengan setia sebab Allah berfirman: “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” (Yeremia 33:3)
(JET19082022)
Pokok Doa:
- Bangsa Indonesia dalam upaya swasembada pangan khususnya kebutuhan pokok dapat mencapai target Pemerintah. Kiranya harga kebutuhan pokok stabil dan terjangkau;
- GBIK dalam menolong jemaat dan mendorong pertumbuhan rohani. Kiranya Gereja diberi hikmat kebijaksanaan untuk menjadi berkat bagi Jemaat;
- Jemaat GBIK yang merindukan buah hati dalam rumah tangga kiranya tetap mengandalkan Tuhan, tetap berupaya, sabar menantinya sampai mendapatkan jawaban Tuhan.
Pokok Doa Cabang MARGA MULYA, Bengkayang, Kalimantan Barat
- Pemulihan kesehatan jemaat yang sedang sakit: Ibu Delina Linda, Bp. Agustinus Simbun, Nenek Winda dan yang sedang mengandung: Ibu Lista, Ibu Sila, Ibu Susi, Ibu Ratna;
- Jemaat yang di luar negeri TKW : Bp. Hamidi, Bp. Hermanto Ugit, Sdr. Lius;
- Anak-anak yang baru memulai studi di jenjang SD, SMP, SMA, dan PT;
- Pencalonan Bp. Sumardi Amos sebagai Kepala Desa;
- Kesetiaan dan kejujuran jemaat dalam memberi persembahan & persepuluhan.
