“Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal aku”. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.”
(Luk. 22:61-62)
Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang bersedih dan atau menangis, di antaranya adalah tidak naik kelas, tidak diterima lamaran kerja yang diajukan, putus cinta, ditinggal orang yang dikasihinya dan banyak lagi penyebab lainnya. Jika hal-hal itu bisa kita hindari, antisipasi tidak terjadi, maka kesedihan dan tangisan juga tidak akan terjadi. Persoalannya adalah mungkinkah kita mampu mengantisipasi tangisan dan atau kesedihan itu?
Setelah peristiwa “Doa sepelempar batu” di Taman Getsemani, ketika Tuhan Yesus masih berbicara dengan para murid, datanglah Yudas membawa serombongan orang, lalu menyerahkan Tuhan Yesus untuk ditangkapnya. Kemudian Tuhan Yesus ditangkap dan dibawa ke rumah Imam Besar. Dengan diam-diam Petrus mengikuti ke mana Tuhan Yesus dibawa serombongan orang tersebut, untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada-Nya. (Luk. 22: 47-48; 54-55).
Seorang hamba perempuan mengenali Petrus dan menyapanya dan mengatakan bahwa Petrus adalah salah seorang pengikut Yesus. Dengan cepat Petrus mengatakan, “…. Bukan, aku tidak kenal Dia.” (Luk. 22: 56) Lalu ada lagi orang lain yang mengenalnya dengan menyapa hal yang sama dan Petrus menjawab, “…. Bukan, aku tidak.” (Luk. 22: 58). Untuk yang ketiga kalinya ketika seseorang menyapa hal yang sama, Petrus menjawab yang sama, “…. Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.” (Luk. 22: 60). Setelah itu ayam berkokok, dan Petrus teringat apa yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa hari ini sebelum ayam berkokok ia akan menyangkal-Nya tiga kali. Lalu Petrus menangis dengan sedihnya.
Petrus menyesal dan merasa berdosa telah melakukan hal yang sangat memalukan itu. Dalam hal ini, apakah Petrus tidak dapat mengantisipasi untuk tidak melakukan hal tersebut? Seharusnya ia dapat mengantisipasinya, jika ia memiliki keberanian untuk menghadapi segala resiko dari kejujurannya, dengan mengatakan bahwa dirinya adalah salah satu dari murid Yesus. Sayang Petrus tidak memiliki keberanian tersebut.
Memang kejujuran itu resikonya berat, tetapi kalau kita berani bersikap dan bertindak jujur sekalipun dalam keadaan yang kurang baik, kita terhindar dari hal yang mendukakan hati Tuhan. Beranikah kita melakukan kejujuran itu sekalipun berat resiko yang harus kita terima dari kejujuran tersebut? Selamat berjuang untuk berani bersikap dan bertindak jujur. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
(RI05042022)
Pokok Doa:
- Doakan Gereja kita dalam rencana membuka kelas-kelas Sekolah Minggu dan mengambil keputusan dengan bijaksana dalam mengikuti kelas persiapan dan prokes yang ketat;
- Doakan pemuda/pemudi yang sedang mencari tempat magang agar Tuhan membuka pintu-pintu perusahaan yang mau menerimanya;
- Doakan masyarakat Indonesia yang melaksanakan puasa agar terjalin kerukunan dan saling menghormati.
Pokok Doa Cabang BERSINAR, Kisaran, Sumatera Utara
- Doakan jemaat yang sedang sakit dan pergumulan rumah tangga;
- Doakan jemaat yang sedang mencari pekerjaan;
- Doakan para pemuda/pemudi dalam masa depan mereka (pekerjaan, mencari pasangan hidup, pelayanan).
