“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”
(Ayb. 42:2-4, 6)
Tabiat manusia termasuk kita, ketika terjadi sesuatu yang membuat hidupnya terasa berat selalu bertanya: “Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Mengapa penderitaan ini terasa sangat berat? Mengapa setiap hari aku berdoa tetapi Tuhan belum menjawab doa-doaku?” Kita selalu membutuhkan penjelasan dari Tuhan terhadap masalah yang kita hadapi padahal dalam Amsal 25:2a dikatakan bahwa: “Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu”. Itu berarti kadang kala Allah sengaja menyembunyikan wajah-Nya dari kita supaya kita belajar untuk percaya pada-Nya dan hidup dengan iman, bukan dengan perasaan kita.
Jika kita membaca dan memerhatikan dalam 37 Pasal kitab Ayub, ia selalu bertanya “mengapa dan mengapa?”, misalnya: “Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa Engkau membiarkan ini terjadi? Mengapa rasa sakit ini sangat hebat terjadi? Mengapa kegelisahan ini begitu hebat? Mengapa Engkau belum menjawab doa-doaku?” Namun yang menarik Saudara, pada pasal yang ke-38, Ayub berhenti bertanya “Mengapa?”, sebaliknya Tuhan menjawab pertanyaan Ayub dengan pertanyaan-pertanyaan kepada Ayub, salah satu diantaranya adalah: “Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kala engkau mempunyai pengertian!” (Ayb. 38:4). Bahkan pada dua pasal berikutnya, Tuhan membombardir Ayub dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Tuhan sendiri. Baru setelah itu Ayub menyadari bahwa ia hanyalah seorang yang memiliki pengetahuan terbatas mengapa hingga mempertanyakan kedaulatan Tuhan. Maka, mulai saat itu Ayub berhenti bertanya dan mulai percaya. Dikatakan dalam Ayub 42:1-3, 6 “Maka jawab Ayub kepada TUHAN: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.””
Mari Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Jika kita memiliki beban persoalan yang berat, sudahilah pertanyaan-pertanyaan yang membuat beban itu justru semakin berat dan kita meninggalkan Allah, namun yang harus kita lakukan adalah percayalah kepada Tuhan apapun itu yang terjadi sebab Tuhan kita adalah Allah yang sanggup melakukan segala sesuatu tanpa kita fahami sebab kita adalah pribadi yang terbatas pengetahuan dan segala sesuatunya seperti halnya Ayub. Amin, Tuhan Yesus memberkati.
(AP19012022)
Pokok Doa:
- Doakan GBIK yang sudah mulai membuka ruang Sekolah Minggu secara onsite, agar terus dapat menjangkau jemaat dan melayani jemaat yang bertugas hari Minggu di kebaktian pagi;
- Doakan pelayanan Panitia Kunjungan dalam menguatkan Jemaat yang sedang membutuhkan perhatian, serta diberikan kelancaran dalam berkomunikasi;
- Doakan Pemerintah dalam memberikan vaksin booster bagi para lansia dan tenaga medis agar dapat digunakan seluruh lapisan masyarakat yang di wilayah NKRI.
