“Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna”
(1 Yohanes 1: 3, 4)
Kata-kata di atas ditulis oleh Rasul Yohanes, seorang rasul yang sangat dekat dengan Tuhan Yesus. Dia bukan saja termasuk dalam lingkaran 12 murid, dia bahkan berada dalam lingkaran terdalam yaitu lingkaran tiga murid yang sangat dekat dengan Tuhan Yesus. Tiga murid yang sangat dekat dengan Tuhan Yesus itu adalah Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ketiga murid ini dibawa oleh Tuhan Yesus ketika menyembuhkan anak perempuan Yairus, seorang pemimpin rumah ibadah Yahudi di Kapernaum. Ketiga murid ini ada di samping Yesus ketika Yesus membangkitkan anak ini yang sudah meninggal (Lukas 8:40-56). Ketika Tuhan Yesus berada di daerah Galilea Kaisaria Filipi, Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke sebuah bukit. Di depan mereka Yesus menampakkan kemuliaan-Nya (Matius 17:1-8). Di taman Getsemani Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes menemani Yesus untuk berdoa (Markus 14:32-33). Jadi ketiga murid ini sangat dekat dengan Tuhan Yesus.
Yohanes memiliki kesempatan yang sangat istimewa dibandingkan dengan Petrus dan Yakobus, ketika dia berdiri dekat salib sewaktu Tuhan Yesus disalib. Dari atas kayu salib itu Tuhan Yesus berkata kepada Yohanes yang berdiri di samping Maria ibu Yesus: “Inilah ibumu” dan kepada ibu-Nya, Yesus berkata “Ibu, inilah anakmu” (Yohanes 19:25-27).
Kita tahu bahwa Yohanes dan Yakobus adalah anak-anak Zebedeus. Mereka adalah nelayan. Mereka adalah pekerja keras seperti Petrus. Tuhan Yesus memberi nama kedua anak itu Boanerges, yang artinya anak-anak guruh (Markus 3:17). Kita tidak tahu mengapa Yesus memberi mereka nama itu, mungkin sekali karena sifat mereka seperti petir – emosional. Kita bisa melihat hal itu ketika Tuhan Yesus tiba di suatu desa di Samaria untuk mempersiapkan keperluan Tuhan Yesus, orang-orang di desa itu menolak Yesus sebab mereka mengetahui bahwa perjalanan mereka menuju Yerusalem. Melihat hal itu, Yakobus dan Yohanes berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Lukas 9:53,54). Kita juga mengenal Yohanes sebagai murid yang dikasihi, sebab Injil seringkali menyebut Yohanes sebagai murid yang dikasihi Yesus. Rasul Yohanes yang dipakai Tuhan untuk menulis 5 kitab dalam Perjanjian Baru, yaitu Injil Yohanes , Surat 1,2,3 Yohanes dan kitab Wahyu, sangat banyak berbicara tentang kasih. Inilah yang menarik kita. Bagaimana murid yang bertemperamen sebagai guruh bisa berubah menjadi murid yang penuh kasih.
Kalau kita membaca 1 Yohanes 1:1-5 kita bisa menemukan apa yang membuat Yohanes menjadi murid yang dikenal sebagai murid yang penuh kasih. Dia telah melihat Yesus yang telah ada sejak semula. Yohanes telah mendengar bahkan telah melihat dengan mata kepalanya sendiri siapakah Yesus itu. Dia telah meraba, bersentuhan secara fisik dengan Yesus. Dia hadir ketika Yesus disalibkan, dia mendengar semua perkataan Tuhan Yesus pada saat-saat terahir kematian-Nya di kayu salib. Dia telah melihat dan mengalami sendiri hidup yang sebenarnya. Karena itulah dia bersaksi dan menulis semua yang dia alami bersama Yesus, bahwa “di dalam Dia ada hidup” dan mempersekutukan kita dengan Bapa dan dengan Anak-Nya Yesus Kristus. Hal itulah yang menggerakkan Yohanes yang dengan pimpinan Roh Kudus menulis Injil Yohanes, Surat 1, 2 dan 3 Yohanes, serta Wahyu.
Kita tidak mempunyai kesempatan seperti Yohanes, bisa melihat, meraba dan bersekutu secara fisik dengan Tuhan Yesus. Tetapi kita mempunyai pengalaman mendengar dan kemudian percaya dan menerima Tyuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kita telah menerima kasih karunia Tuhan Yesus melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib untuk menyelamatkan dan mengampuni segala dosa kita.
Jadi, marilah seperti Yohanes. Marilah kita bersaksi dan memberitakan pengalaman kita bersama Yesus. Kita mungkin tidak punya kemampuan menulis seperti Yohanes, tetapi Tuhan telah memberi kita Roh-Nya dan telah menaruh firman-Nya dalam mulut kita. Mari bersaksi tentang Yesus kepada siapapun juga sehingga kita mendapatkan sukacita yang sempurna. Mengapa sempurna? Menjadi sempurna karena kita sendiri sudah melakukan perintah Tuhan dan kita bersukacita karena ada orang yang diselamatkan oleh sebab percaya kepada Kristus yang kita beritakan.
Surat 1 Petrus 2: 9 mengatakan: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”.
(JET020721)
Pokok Doa:
- Doakan Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pendidikan Kebudayaan Reset dan Teknologi yang membuat aturan pembelajaran tatap muka di beri hikmat dari Tuhan sehingga dapat dilaksanakan sesuai dg keadaan saat ini yang masih di hantui penyebaran Virus Corona berserta mutasi dan varianya;
- Doakan GBIK dalam tata kelola Jemaat yang multi suku dapat bersatu terus di berkati Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama Gereja Gereja Baptis yang ada di Indonesia;
- Doakan Rencana Mubes GGBI bulan Agustus ini biar Tuhan menyatakan kehendakNya memberikan yang terbaik karena situasi kondisi saat ini biar hikmat Tuhan dan penyetaaNya nyata;
- Doakan Dokter Perawat Para Medis yang nangani korban Virus Corona di rumah sakit terus di berikan kekuatan ketekunan kesehatan dapat melayani pasien pasien dg baik;
- Mohon Tuhan melawat, menjamah dan menyembuhkan saudara-saudara kita terkasih, jemaat GBIK yang sedang terpapar virus COVID:
-
* Sdr. Tatok
* dr. Ana Marsino
* Bp. Marsino Bawadi
