“Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
(Lukas 23:41-43)
Injil Lukas menyatakan bahwa titik balik dalam kehidupan Yesus ialah, “Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,” (Lukas 9:51). Sekarang ini, khususnya pada saat kita memperingati Jumat Agung, seharusnya dengan teguh kita mengarahkan pandangan kita ke arah salib agar kita dapat menghargai hal yang dicapai Kristus dan hal yang ditawarkanTuhan kepada mereka yang percaya kepada penyelamatan-Nya. Pandangan tentang Kristus di Kalvari selalu bermanfaat bagi seorang Kristen. Ada satu lagu yang sering dinyanyikan pada perayaan Jumat Agung, dalam bahasa Inggris berjudul “Were You there When They Crucified My Lord”. Judul dalam bahasa Indonesia kalau tidak salah “Hadirkah Waktu Yesus Disalib?” Syair dalam bahasa Inggris (penulis hanya menampilkan ayat 1
Were you there when they crucified my Lord? (2 X)
Oh, sometimes it causes me, tremble, tremble, tremble
Were you there when they crucified my Lord?
Lyrik Indonesianya
Hadirkah waktu Yesus disalib (2 X)
O, ooo, Gentar, gentar, gentar,
Hadirkah waktu Yesus disalib?
Bagi kita pengikut Kristus, rasanya kita perlu sering mengarahkan pikiran kita ke Kalvari. Kita perlu mengingat Kalvari, karena di sanalah Allah menyatakan kasih-Nya yang sangat dalam bagi isi dunia ini sehingga Dia memberikan Anak-Nya yang tunggal. Kita perlu mengenang Kalvari di mana Kristus sedemikian dilukai karena pelanggaran kita dan diremukkan karena kesalahan kita. Kita perlu memperhatikan Kalvari dan menerima inspirasi untuk melihat Dia menanggung dosa-dosa kita sendiri di dalam tubuh-Nya di kayu salib. Kita perlu mencamkan peristiwa di Kalvari untuk menerima pengertian kebenaran yang luar biasa bahwa Tuhan telah menyatakan kasih-Nya kepada kita, di saat kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk orang fasik.
Ada banyak orang di Kalvari pada hari itu, ketika Anak Domba Allah yang tidak berdosa, tanpa noda, dan tanpa cela, disalibkan. Beberapa yang menonton, acuh tak acuh, tetapi di antara kerumunan itu ada juga para pemimpin Yahudi yang merasa telah menang dan merasa bahwa mereka benar. Mereka sangat membenci Yesus karena menurut mereka Yesus tidak cocok dengan gambaran mereka tentang Mesias. Menurut mereka, Mesias haruslah seorang yang berada, berkedudukan, seorang nasionalis dan seorang seperti raja Daud. Tentara Romawi yang brutal juga ada di sana. Mereka tidak peduli akan penderitaan Yesus, yang sedang menderita secara fisik, tapi juga mengalami penderitaan jiwa. Sengsara karena menanggung dosa sungguh jauh lebih berat. Lebih daripada itu, Yesus merasa sunyi, sendirian, ditinggalkan murid-murid. Dan penistaan yang ditanggungkan kepada-Nya luar biasa. Tak dapat lita lukiskan betapa Ia menderita untuk kita.
Jika kita berada di Kalvari pada hari itu, kita akan melihat dan mendengar banyak hal yang membutuhkan interpretasi jika kita menghubungkan diri kita dengan benar kepada Dia yang mati di tengah-tengah salib. Contoh, mendengarkan dengan penuh simpati tangisan mereka yang sekarat di kayu salib akan membantu kita belajar lebih banyak tentang Yesus. Dia pernah berkata: “Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, padahal kamu sendiri jahat? Yang diucapkan mulut meluap dari hati” (Matius 12: 34). Firman Yesus yang diucapkan dari salib memberikan kepada kita gambaran hati-Nya bagi orang-orang berdosa.
Saat Yesus memohon pengampunan bagi mereka yang bertanggung jawab atas penyaliban-Nya, hal membantu mengubah sikap seorang yang juga sedang disalibkan. Injil Matius mencatat “Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.” Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga. (Mat 27: 38-44). Sesuatu terjadi, seorang dari penjahat mengakui bahwa dia menerima hukuman yang pantas atas perbuatannya. Kemudian ia mohon Yesus mengingat dia ketika Ia memasuki kerajaan-Nya (Lukas 23: 40-43).
Jadi marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan, yang rela menderita untuk melepaskan kita dari kuasa dosa.
(JET02042021)
Pokok Doa:
- Berdoa untuk Gereja kita yang senantiasa mendukung jemaat semakin bertumbuh dalam iman;
- Berdoa untuk jemaat yang rindu untuk dapat beribadah secara offline terutama para usia lanjut agar mereka tetap dapat bersukacita;
- Berdoa bagi bangsa dan Negara kita agar tetap dapat membantu Daerah-daerah terdampak Musibah, agar dapat dijangkau oleh bantuan kemanusiaan.
