“Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.”
(Yoh. 21:5-7)
Siapakah yang tidak merasakan kesedihan jika orang yang kita kasihi telah pergi meninggalkan kita, misalkan pergi untuk sekolah di luar kota, di luar negeri, menikah mengikut suami, atau merantau mencari masa depan? Tentu semuanya akan mengalami kesedihan yang dalam meski kepergiannya adalah untuk tujuan yang baik dan sifatnya adalah sementara, karena suatu saat pasti akan bertemu lagi. Lalu bagaimana jika orang yang kita kasihi telah meninggalkan kita oleh sebab kematian; baik karena faktor usia, sakit penyakit, atau terjadi secara tiba-tiba? Tentu saja kesedihan kita lebih mendalam dan pilu daripada ditinggalkan oleh karena faktor yang pertama tersebut di atas.
Dalam peristiwa Paskah, tentu kita dapat membayangkan bagaimana sikap dan hati para murid Tuhan Yesus waktu itu dalam menghadapi kenyataan hidup; dimana orang yang begitu dikasihinya, diagung-agungkannya, dijadikan Guru atas mereka, dan oleh karena Dia pula mereka rela meninggalkan segala aktivitas dan profesinya demi mengikut Dia. Tetapi dalam waktu yang begitu singkat mereka harus ditinggalkan-Nya yaitu mati di atas kayu salib. Tentu sikap, hati, dan perasaan para murid Tuhan Yesus begitu campur aduk antara sedih, takut, khawatir, bahkan putus asa. Dan memang inilah yang terjadi dalam kehidupan mereka semenjak Tuhan Yesus mati, mereka akhirnya kembali kepada aktivitasnya sehari-hari, yaitu Petrus kembali menangkap ikan dan diikuti murid-murid yang lainnya (ay. 3) dan melupakan panggilannya dari penjala ikan menjadi penjala manusia (Mat. 4:18-22). Oleh karena itu dalam peristiwa penampakaan diri Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias (Yoh. 21:1-13), maka kita akan menemukan kebenaran firman Tuhan yang mengatakan kepada kita bahwa kehadiran-Nya menguatkan, yaitu:
- Sehebat apapun kita tanpa kehadiran Tuhan Yesus adalah sia-sia (ay. 3). Siapa yang tidak tahu kehebatan Petrus dan teman lainnya dalam hal menjala ikan? Kebanyakan mereka adalah nelayan yang ahli dalam mencari ikan. Tetapi mengapa ketika mereka mencari ikan malam itu tidak mendapat apa-apa? Oleh karena mereka sudah larut dalam kesedihan akan kematian Yesus, sehingga imannya telah goyah serta mengandalkan kekuatan sendiri karena mereka lupa akan janji-Nya yang secara langsung Ia sampaikan kepada mereka bahwa Ia akan mati dan bangkit pada hari yang ketiga (Mat. 12:40, 16:21. 17:9&23, 20:23, 26:32)
- Akuilah setiap persoalan kita dihadapan Tuhan serta lakukan perintah-Nya ketika Tuhan hadir dalam kehidupan kita (ay. 4-7). Kehadiran Yesus diantara para murid-Nya di siang hari tidak dikenali mereka, entah apa sebabnya Alkitab tidak menjelaskan. Tetapi dari peristiwa ini tentu kita dapat menafsirkan apa sebabnya mereka tidak mngenali Yesus, mungkin karena sudah putus asanya mereka akibat Yesus mati dan lelahnya mereka karena semalaman mencari ikan tanpa hasil. Tetapi meskipun Yesus tidak dikenalinya, Ia tetap rindu mengasihi dan menguatkan mereka dengan berkata apakah mereka mempunyai lauk pauk? (ay. 5). Ketika murid-murid-Nya berkata tidak maka Ia memerintahkan untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu dan akhirnya mendapatkannya (ay. 6), sehingga setelah itu mereka baru tahu bahwa Ia adalah Yesus (ay. 7)
Melalui peristiwa di atas kita dapat melihat bahwa hanya Yesuslah jawaban atas setiap persoalan, karena Dialah Tuhan yang sudah bangkit mengalahkan maut (ay. 12), dan kehadiran-Nya selalu menguatkan setiap orang yang dikasihi-Nya seperti yang ditunjukan kepada para murid-Nya ketika menghadapi persoalan yang bertubi-tubi. Mari kita yang sudah ditebus dari dosa biarkan semakin setia dan taat akan perintah-Nya. Amin, Selamat Paskah 2021, Tuhan Yesus memberkati.
(AP06042021)
Pokok Doa:
- Mari berdoa untuk saudara/i kita yang saat ini sedang dilanda Badai topan, Kupang Flores dan sekitarnya;
- Berdoa untuk Klinik Baptis Kupang yang hancur di terpa Badai topan;
- Berdoa bagi pemerintah Indonesia agar tanggap Darurat di Pulau Nusa Tenggara Timur, agar dapat memberi bantuan bagi yang tertimpa bencana.
