“Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sekal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.”
(Mrk. 6:48)
Ketika penulis masih bujang dan menjadi seorang nelayan di Bulukumba Sulawesi Selatan terjadilah suatu peristiwa yang sangat dramatis dan itu merupakan pengalaman yang sangat menegangkan bagi penulis. Pada suatu hari rombongan kapal ikan “Air Kembali 2” menuju lautan bebas tempat dimana rumah-rumah ikan “Orang suku Bugis menyebutnya rompong” yang menjadi bagian atau milik dari rombongan kapal itu pada hari kedua menghadapi kerusakan mesin kapal di tengah lautan bebas. Semua rombongan yang sudah ahli dalam berlayar mengalami ketakutan apalagi penulis yang hanya seorang perantau untuk mencari nafkah. Berenang sajapun tidak bisa. Kapal itu telah hanyut tanpa arah sejauh beribu-ribu mil dan rupanya terdampar di pulau Langara Sulawesi Tenggara dan di tolong oleh warga suku tersebut.
Pengalaman nyata dari penulis ini menjadi sebuah ilustrasi dalam kehidupan kita semua. Apakah Saudara pernah mengalami seperti peristiwa yang dialami oleh penulis? Meskipun tidak semua orang mengalami pengalaman yang sama dalam kesulitannya, namun penulis sangat yakin bahwa setiap orang telah mengalami badai persoalan yang kadang itu bisa membuat hidupnya keluar jalur. Kisah dalam Markus 6 ini, Tuhan Yesus mengutus para murid-Nya untuk berangkat terlebih dahulu ke Betsaida, sementara Ia pergi ke bukit sendirian untuk berdoa. Itu bukan perjalanan yang panjang dengan perahu, tetapi mereka terhempas oleh badai. Ketika Tuhan Yesus melihat mereka kesulitan melawan angin rebut di tengah-tengah danau, Dia datang menolong mereka.
Mungkin saat ini kita berada dalam posisi yang penuh kesulitan baik di dalam pekerjaan, pernikahan, atau keuangan yang menjadikan kita tidak dapat mengendalikan diri sehingga keluar dari jalur. Yakinlah semua pasti akan terselesaikan karena Tuhan Yesus melihat dan memberi pertolongan karena Tuhan Yesus selalu datang kepada anak-anak-Nya yang sedang payah dan ingin terbebas dari badai persoalan dalam hidupnya seperti yang pernah dialami oleh para murid-Nya: “Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sekal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka” (Mrk. 6:48).
Ada hal menarik yang patut kita renungkan adalah ketika para murid-Nya sedang menghadapi badai topan, Ia tidak menyuruh murid-murid-Nya untuk datang kepada-Nya, melainkan Dia yang telah datang kepada mereka. Ini bukan berarti jika kita menghadapi persoalan hidup Tuhan Yesus melarang kita untuk datang kepada-Nya melalui doa dan permohonan; malah seharusnya kita datang kepada-Nya tanpa mengenal lelah. Perhatikan baik-baik! Dalam hal tertentu jika umat-Nya mengalami persoalan hidup Tuhan Yesus datang menghampirinya (murid-murid-Nya) sebab Ia tahu bahwa murid-murid-Nya (kita) saat-saat tertentu memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa dan kehilangan arah tujuan. Tuhan Yesus datang bukan untuk memberi intruksi, bertanya mengapa bisa terjadi persoalan, atau datang untuk marah-marah. Tidak Saudara! Ia datang dengan tujuan yang pasti yaitu mau menolong dan meluruskan jalan hidup setiap orang yang jatuh, hilang arah dan yang percaya kepada-Nya karena bagi Dia, kita adalah anak-anak-Nya dan bukanlah anak yatim piatu (Yoh. 14:18). Amin, Tuhan Yesus memberkati.
(AP25022021)
Pokok Doa:
- Doakan pertumbuhan Iman para anggota Gereja melalui pelayanan terhadap jemaat yang saat ini sulit dijangkau karena keterbatasan sarana dan prasarana;
- Doakan anak- anak yang ataupun akan menghadapi ujian tengah semester agar dapat mengerjakan tugas dengan baik dan benar;
- Doakan dan dukung Pemerintah kita dalam menangani daerah-daerah yang terkena musibah banjir dan bencana alam lainya.
