““Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: “Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu,”
(Keluaran 4:13-14)
Apabila Anda sedang membaca Kitab Keluaran saat ini, maka Anda mungkin bertanya “Apakah Allah bisa murka”? Sebelum merenenungkan hal itu, mari pikirkan, mana yang lebih “lunak” murka atau marah ? Walaupun kedua kata itu mempunyai arti yang sama, tetapi kata murka bernuansa lebih keras dan menakutkan. Dalam Kitab Keluaran kita dapati sekurang-kurangnya terdapat 6 kali kata “murka”. Dari semua ayat itu kita bicarakan tiga peristiwa saja yang patut kita renungkan bersama.
Pertama ialah ketika Allah memanggil Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Musa memberi beberapa alasan mengapa dia merasa tidak sanggup untuk menerima tugas yang berat itu. Musa merasa tidak sanggup untuk melaksanakan tugas itu karena Musa kuatir bangsa Israel tidak percaya bahwa Allah yang menyuruh dia untuk memimpin mereka. Musa juga merasa bahwa dia berat mulut, berat lidah dan tidak pandai berbicara. Walaupun setiap kali Musa memberi alasan ketidak- sanggupannya, Allah selalu memberikan penguatan dengan tanda-tanda mujizat, dan Musa masih tetap menolak, “Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan IA berfirman: “Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya. Maka engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan. Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya. Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mujizat” (Keluaran 4:14-17).
Selanjutnya dalam Keluaran 17 kita membaca bangsa Israel tiba di Rafidim di Padang Gurun Sin. Di sana tidak ada air. Mereka datang bersungut sungut kepada Musa dan Harun. Lalu Musa berdoa kepada Tuhan, dan Allah menyuruh Musa membawa tua-tua Israel berdiri di muka Gunung Horeb dan Musa memukul bukit batu itu dua itu kali dengan tongkatnya, lalu air keluar dari dalam bukit batu itu.
Di dalam Kitab Bilangan pasal 20 ayat 1-5, peristiwa itu juga dipaparkan. Yaitu ketika bangsa Israel tiba di padang gurun Zin (Bil 20:1), bangsa Israel bertengkar dengan Musa dan Harun karena tidak ada air. Ketika Musa meyampaikan hal itu kepada Allah, Allah berfirman : ”Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya” (Bil. 20:8). Tetapi sayang sekali Musa tidak melakukan persis/tepat seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya. Tuhan minta aggar Musa hanya berseru kepada batu itu, tetapi Musa memukul batu itu dengan tongkatnya ( 20: 11). Atas kekeliruan itu Allah menghukum Musa dan Harun: “Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka“ (Bilangan 20:12). Sangat tragis! Mereka berdua tidak dapat masuk ke negeri perjanjian.
Satu lagi dalam Kitab Keluaran 32 yaitu ketika bangsa Israel meminta Harun membuatkan bagi mereka patung anak lembu dari emas, kemudian mereka menyembah patung lembu emas itu. Peristiwa itu membuat Allah murka (32:10) Walaupun Musa berdoa untuk mencoba melunakkan hati Allah agar tidak murka (32:11-14, 31-32), tetapi Allah tetap menghukum mereka. Allah berfirman: “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku” (32:33), sehingga pada hari itu 3.000 orang mati.(Keluaran 32:28
Allah bisa murka karena DIA adalah Allah yang Mahakudus, Allah tidak dapat berkrompomi dengan dosa!! Berhati-hati dan jauhilah dosa! Tetapi puji Tuhan, DIA juga adalah Allah yang suka mengampuni: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).
(JET22012021)
Pokok Doa:
- Mendoakan untuk bencana alam meletusnya gunung merapi, diharapkan tidak menimbulkan korban jiwa ataupun kerugian besar di masa pandemi ini;
- Mendoakan kepatuhan warga negara NKRI supaya patuh terhadap protokol kesehatan dan mengikuti program pemerintah vaksinasi Covid 19;
- Mendoakan rumah sakit – rumah sakit yang ada dalam mengelola dokter, perawat, obat dan pasien dengan baik terlebih rumah sakit – rumah sakit baptis, dokter dan perawat yang juga jemaat gereja dalam memberikan pelayanannya dimanapun mereka berada dan ditempatkan diberikan kesehatan.
