“Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang”
(Keluaran 17:11-13)
Renungan kita hari ini diambil dari kitab Keluaran 17:9-15. Ayat-ayat tersebut menceritakan ketika orang Amalek datang menyerang orang Israel di Rafidim. Menghadapi serangan itu, Musa sebagai pemimpin yang dipilih Allah untuk membawa Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, memberi tugas kepada Yosua untuk menyiapkan pasukannya menghadapi serangan orang Amalek tersbut. Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.” Yosua melakukan perintah itu lalu pergi berperang melawan orang Amalek. Musa sendiri bersama Harun dan Hur naik ke atas puncak gunung.
Yang sangat menarik dalam peperangan ini ialah apabila Musa mengangkat tangannya, maka tentara Israel kuat, tetapi apabila ia karena lelah, menurunkan tangannya, tentara Amalek-lah yang kuat. Menyadari akan hal itu, Harun dan Hur mengambil sebuah batu untuk tempat Musa duduk, mereka berdua menopang kedua tangan Musa, seorang di sebelah kiri dan seorang lagi di sebelah kanan sehingga tangan Musa bisa teracung sampai matahari terbenam, sehingga Yosua dan seluruh tentara Israel mengalahkan Amalek dan rakyatnya.
Tuhan Allah memberikan kemenangan besar itu kepada Israel karena ada kerja sama yang harmonis antara Musa sebagai pemimpin, dengan Yosua dan tentaranya yang berperang di medan pertempuran, serta Harun dan Hur yang membantu menopang tangan Musa. Kalau Musa mau, dia dapat saja naik ke atas puncak bukit itu seorang diri, lalu dengan tangannya ia mengacungkan tongkatnya ke arah tentara Amalek. Bukankah dengan tongkat itu Allah telah menolong Musa melakukan banyak mujizat yang luar biasa?. Tongkat itu pernah berubah menjadi ular (Keluaran 7:9). Dengan mengacungkan tongkat itu, air menjadi darah (Keluaran 7:19-20). Dengan tongkat itu pula Musa membelah laut Teberau dan menutupnya kembali (Keluaran 14:15), sehingga bangsa Israel luput dari kejaran Firaun dengan tentaranya. Dengan pertolongan Tuhan, melalui tongkat itu Musa memukul bukit batu di Horeb dan dari dalamnya mengalir air yang dapat diminum (Keluaran 17:4-7).
Musa dapat juga hanya menugaskan Yosua dengan tentaranya menghadapi Amalek. Tentara harus dihadapi dengan tentara juga bukan? Atau yang lebih sederhana lagi, Musa sendiri saja mengajak Harun dan Hur untuk naik ke puncak bukit dan berdoa dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati.
Tetapi bukan itu yang dilakukan Musa. Dia melibatkan sebanyak mungkin orang sesuai dengan tugasnya untuk menghadapi Amalek. Musa memerintahkan Yosua dan pasukannya menghadapi Amalek. Musa sendiri di puncak bukit beserta Harun dan Hur berdoa kepada Tuhan. Kerja sama yang harmonis itu mendatangkan kemenangan yang luar biasa.
Hal seperti itu juga yang kita perlukan sebagai gereja Tuhan. Untuk mencapai hasil yang luar biasa, kita perlu bekerja sama secara harmonis. Gereja sebagai tubuh Kristus adalah sebuah tim. Dalam dunia olah raga dikenal dua jenis olah raga yaitu olah raga perseorangan misalnya cabang olah raga tinju. Ada juga jenis olah raga yang terdiri dari tim misalnya sepak bola. Gereja adalah seperti tim sepak bola. Kita harus bekerja sama secara harmonis kalau kita mau memenangkan pertandingan. Kita tidak bisa bermain sendirian, kita harus melayani bersama dengan anggota gereja lainnya. Kita memerlukan pemimpin-pemimpin rohani, kita membutuhkan pelayan-pelayan Tuhan dan kita memerlukan teman-teman yang melayani sebagai pendoa.
Mari bekerja sama secara harmonis sesuai dengan panggilan dan karunia kita masing masing. Tuhan akan bekerja melalui kita. Rasul Paulus menulis kepada gereja di Efesus : “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan” (Efesus 2:19-21).
(JET 3172020)
Pokok Doa:
- Berdoa Gereja Baptis Indonesia Kebayoran Tuhan pakai menjadi saluran berkat buat banyak orang;
- Berdoa untuk Jemaat yg masih kuliah kiranya bisa cepat lulus dan langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya;
- Berdoa untuk Masyarakat Indonesia bisa lebih peduli terhadap protokol kesehatan, terlebih lagi Jakarta sdh masuk Zona Merah.
