“Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”
(Mat. 7:3)
Dalam sebuah gereja pasti menghendaki yang namanya pertumbuhan dan kemajuan baik secara kwantitas maupun secara kualitas. Oleh karena itu, sebagai Pendeta (Gembala Sidang) membuat visi, misi, dan strategi untuk mencapai gol atau tujuan yang diharapkan. Dan tentunya untuk mencapai hal itu tidaklah mudah dan tidaklah mungkin dapat dilakukan oleh seorang diri saja. Kita semua memerlukan relasi dan kerjasama dari sesama kita (baik organisasi gereja, kepanitiaan gereja yang duduk sebagai panitia perancang serta seluruh jemaat Tuhan). Dengan kata atau pengertian lain, bahwa sesungguhnya keberhasilan gereja dan pelayanan yang kita lakukan sangat ditekankan yang namanya “keharmonisan”. Setiap kita sebagai orang percaya harus saling mendukung dalam hal kebaikan dan kebenaran, saling menguatkan jika mengalami lemah dan putus asa, bahkan saling memahami serta menyadari bahwa sesungguhnya setiap kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing; sehingga ayat firman Tuhan di atas menganjurkan kepada kita untuk tidak melihat kelemahan, kesalahan, kekurangan dan sesuatu yang negative dalam diri orang lain. Atau dengan kata lain, kita harus mampu melihat kebaikan orang lain dan bukan kesalahannya. Kita harus mengakui bahwa seringkali kita merasa sakit hati, dihina, dilecehkan, tersinggung dan perasaan negative lainnya, yang sesungguhnya ini adalah manifestasi dari kehidupan yang mementingkan diri sendiri. Mementingkan diri sendiri adalah sumber dari segala masalah, pertikaian, pertengkaran, dan musuh utama hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia. Mementingkan diri sendiri selalu menciptakan ketidakpuasan terhadap pekerjaan atau pelayanan yang dilakukan orang lain. Orang yang mementingkan diri sendiri merasa ditipu, dihalang-halangi, dirampas haknya atau dikucilkan oleh orang lain (sahabat sepelayanan kita). Jadi, jika kita membiarkan hal ini terjadi menguasai diri kita masing-masing, itu berarti kita kehilangan hak istimewa sebagai pelayan Tuhan yang sangat berharga di hadapan Tuhan (1 Kor. 4:1-2).
Saudara seiman yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Perlu kita sadari bahwa dalam melihat kebaikan diri orang lain kita harus siap untuk tidak kecewa saat kita melihat kekurangan dalam diri orang lain. Malah sebaliknya, kita wajib bertemu dan berbicara dengan hati secara pribadi untuk menolong sahabat sepelayanan kita jika ada suatu kekurangan atau hal lain. Kekurangan atau kesalahan yang ada jangan sampai membuat orang lain merasa tertolak atau terhina, sehingga hal ini membuat jurang pemisah atau tidak terwujudnya keharmonisan antara kita dan sesama kita dalam melayani Tuhan. Kita harus menerima setiap orang apa adanya karena mereka adalah pribadi-pribadi yang sudah diselamatkan Tuhan tetapi juga pribadi-pribadi yang tidak luput dari kelemahan dan kesalahan karena masih dapat jatuh dalam dosa. Namun demikian, kita harus memperlakukan orang lain seperti cara yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada semua orang berdosa (termasuk kepada kita secara pribadi), sehingga dengan demikian kita dapat membawa diri kita begitu rupa dan menjadi berkat bagi orang lain. Kita tidak iri dengan keberhasilan orang lain atau mencemooh orang lain dikala jatuh dalam kekurangan dan kelemahan, karena kita adalah bagian dalam hidup orang lain, dan orang lain adalah bagian dari hidup kita. Amin, Tuhan Yesus memberkati.
(AP28072020)
Pokok Doa:
- Berdoa untuk orang yang terkena Virus Covid 19 yang sudah parah kiranya ada mujizat kesembuhan terjadi hingga boleh merasakan perjumpaan pribadi bersama Kristus sang Tabib Ajaib;
- Berdoa buat jiwa-jiwa yang haus akan Tuhan. Kiranya Tuhan mengirimkan seseorg yang dapat memenangkan jiwanya;
- Berdoa untuk Pekerja-pekerja Tuhan yang ditempatkan diperdalaman kiranya Tuhan beri kekuatan dan memenuhi segala yang diperlukan.

Terima kasih renungan nya . Tuhan Yesus memberkati