“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa. Aku tidak layak lagi disebut anak bapa; Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari lalu mendapatkan dia lalu merangkulnya dan mencium dia.”
(Luk. 15: 18-20)
Perumpamaan tentang anak yang hilang, yang Tuhan Yesus ajarkan kepada banyak orang, yang tertulis dalam Lukas 15: 11-32 sudah kita kenal dengan baik. Anak bungsu yang nakal itu akhirnya sadar dan menyesali apa yang dilakukannya. Tekadnya untuk kembali kepada orangtuanya sudah bulat, ketika ia pulang ke rumahnya, orangtuanya menyambut dengan penuh kehangatan dan pelukan dan ciuman kasih dari orangtua kepada anaknya yang telah lama hilang.
Dalam perumpamaan tersebut, anak bungsu itu mengalami pertobatan sejati. Dalam pertobtan sejati menyangkut tiga hal yang penting yaitu :
- Pertobatan menyangkut pikiran seseorang. Pertobatan dimulai dari kesadaran dalam pikiran bahwa ia telah berbuat salah. Anak bungsu yang nakal itu menyadari akan keadaannya setelah terpuruk, apalagi ia harus makan makanan babi, sementara orangtuanya banyak memiliki orang upahan yang diberi makanan melimpah. (Luk. 15: 16-17). Dengan sadar dalam pikiran tersebut manusia akan menyesal akan apa yang dilakukannya selama ini.
- Pertobatan menyangkut perasaan hati seseorang. Setelah sadar dan menyesali kesalahannya, anak bungsu yang nakal itu dengan perasaan hatinya yang pilu, merasa berdosa terhadap sorga (Tuhan) dan bapanya (Luk. 15: 18). Ia menangis tersedu-sedu mengingat keadaannya. Penyesalan harus diikuti dengan kesadaran bahwa dirinya telah berbuat dosa.
- Pertobatan menyangkut kehendak seseorang. Penyesalan, dan perasaan hati yang berdosa perlu diikuti dengan tindakan nyata untuk memohon pengampunan. Inilah yang dimaksud dengan pertobatan menyangkut akan kehendak untuk membereskan segala dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan. Anak bungsu yang nakal itu mewujudkan kehendaknya dengan kembali kepada orangtuanya, minta ampun, sekalipun nanti ia tidak dianggap lagi sebagai anaknya lagi, setidak-tidaknya sebagai orang upahan ayahnya tidak semenderita saat itu (Luk. 15:19-20). Pertobatan yang sungguh tidak merasa gengsi mengakui salah dan dosanya.
Tuhan adalah Allah yang setia, Ia tidak lalai dan tetap setia pada janji-Nya, maka “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.” (Yes. 55: 7). Jangan pernah merasa gengsi mengakui dosa dan salah yang pernah kita perbuat di hadapan Allah maupun manusia. Tuhan memberkati, Amin.
(RI01072020)
Pokok Doa:
- Doakan Tuhan menganugerahkan rejeki untuk masyarakat Indonesia;
- Doakan Jemaat GBiK semakin tekun berdoa , setelah selesai program Doa Berantai;
- Doakan Jemaat GBIK tetap setia membawa anak-anak mereka beribadah dan di beri peralatan untuk menghadirkan SM online bagi anak2x.

Amin