“Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini. Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku.”
(1 Sam. 24:12)
Dalam situasi seperti sekarang ini di mana pemerintah menetapkan adanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kita diperhadapkan kepada pilihan harus tetap tinggal di rumah atau bekerja. Kalau bekerja berarti keluar rumah, artinya bertemu dengan banyak orang, dengan resiko ketularan virus corona. Tetap tinggal di rumah tidak bekerja berarti tidak mendapatkan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Suatu dilema yang serba salah.
Daud pada masa pelariannya dari kejaran Raja Saul, mengalami dilema yang tidak kalah peliknya dengan situasi di atas. Kitab 1 Samuel 24 menceritakan ketika Daud dalam pelariannya sedang berada di padang gurun En Gedi tepatnya dalam satu gua untuk bersembunyi, Raja Saul yang mengejar-ngejarnya masuk gua tersebut untuk membuang hajat. Kemudian Daud diminta anak buahnya untuk membunuh Saul dari dalam gua, tetapi Daud tidak melakukannya. Dia hanya memotong punca jubah Saul, itupun dilakukannya dengan gemetar, dengan hati yang berdebar-debar (1 Sam.24:5-6). Sikap Daud ini menunjukkan bahwa
1). Daud menghormati ayah mertuanya, ayah isterinya (1 Sam. 18:27),
2) Daud menghormati orang yang diurapi Tuhan untuk menjadi raja (1 Sam. 24:7),
3) Daud menghormati pemimpin Negara di mana ia tinggal (1 Sam. 24:7).
Dalam hal ini kematangan berpikir Daud teruji dengan baik sekalipun dia masih muda. Ia menghargai orang hebat, ia menghargai pemimpin negara. Ia tidak mau menghabisi pemimpin negara karena kalau pemimpinnya mati, negara pasti akan menjadi kacau. Kematangan berpikirnya menunjukkan bahwa Daud layak untuk menjadi pemimpin negara pada saatnya nanti.
Berkaca dari apa yang dialami Daud dan akhir dari perjuangannya di mana akhirnya ia menjadi raja menggantikan Saul ayah mertuanya itu, rupanya menghormati pemimpin negara itu berdampak positif dalam hidupnya. Menghormati pemimpin negara berarti menaati atau tidak membantah setiap kebijakan yang diambil pemimpin negara tersebut. Itu adalah konsekwensi logis dari kedudukan kita sebagai warga negara yang memang seharusnya bersikap dan bertindak demikian. Mari kita ikuti apa yang menjadi kebijakan pemerintah supaya bencana nasional Covid 19 segera berlalu. Tuhan memberkati, Amin. (RI27042020)
Pokok Doa:
- Mari berdoa untuk kesempatan bisa menjadi berkat dan saksi selama masa pandemik.
- Berdoa untuk para pemimpin rohani di gereja , terus kuat dalam visi Tuhan melayani jemaat.
- Berdoa untuk anggota keluarga kita yang belum percaya pada Tuhan Yesus , kiranya mereka juga bisa menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
