“Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.”
(Lukas 24:30-31)
Waktu kecil saya suka melihat tayangan TV “Si Buta dari Goa Hantu”, sebuah film silat Indonesia yang mengisahkan kepahlawanan seorang pendekar buta. Walaupun buta tetapi pendekar tersebut memiliki ketajaman indera keenam yang luar biasa, sehingga dalam menghadapi musuh-musuhnya selalu dapat melewatinya dengan baik sekalipun harus berjuang dengan mati-matian. Mata jasmaninya tidak berfungsi dengan baik, tetapi mata hatinya/mata rohaninya berfungsi maksimal.
Ketika dua orang murid Tuhan Yesus yang sedang melakukan perjalanan menuju kampung Emaus kira-kira 7 mil (kurang lebih 10 km) dari Yerusalem, bercakap-cakap tentang peristiwa kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, tiba-tiba Tuhan Yesus mendekatinya tetapi mereka tidak tahu bahwa itu Tuhan Yesus. Kemudian Tuhan Yesus ikut nimbrung dalam percakapan mereka. Setelah sampai kampung mereka mengajak Tuhan Yesus tinggal bersama karena hari telah petang menjelang malam. Pada saat mereka duduk bersama untuk makan malam bersama, Tuhan Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada kedua murid tersebut. Melihat apa yang dilakukan Tuhan Yesus, seketika itu seolah selaput mata mereka terbuka, bahwa yang ada di hadapannya adalah Tuhan Yesus sendiri (Luk. 24:28-31). Apa yang menyebabkan terbukanya mata kedua murid tersebut? Tidak lain karena apa yang dilakukan Tuhan Yesus yakni mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecah roti , dan memberikan kepada mereka, mengingatkan akan kebersamaan mereka dengan Tuhan Yesus sebelum Dia disalibkan. Pengalaman kebersamaan dengan Tuhan Yesus yang begitu melekat kuat dalam hati dan ingatan, menyadarkan bahwa Dia selalu dekat dan menyertainya sekalipun tidak melihat dengan mata jasmani, tetapi mata rohani kuat merasakannya.
Dalam hidup kita seringkali mata kita dibutakan, tidak melihat begitu besarnya kasih Tuhan bagi kita, oleh karena tekanan hidup dan hamparan persoalan yang menggelayuti hidup kita. Dalam kondisi seperti itu, yang perlu kita lakukan adalah membuka mata rohani kita lebar-lebar supaya kepekaan rohani kita makin kuat merasakan begitu besar kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Dia tidak jauh dari kita, Dia tidak akan membiarkan kita sendirian menghadapi awan gelap itu. Tuhan Yesus membekati, Amin.
(RI24042020)
Pokok Doa:
- Doakan anggota masyarakat yang kehilangan pekerjaan , kiranya hikmat dan damai Tuhan menyertai mereka untuk terus percaya pemeliharaan Tuhan dan terus berjuang.
- Doakan untuk setiap usaha dan pekerjaan kita , memuliakan Tuhan dan kita bisa jadi saksi yang benar bagi negara kita.
- Doakan hikmat bagi petugas pembagi bantuan sosial dalam menjalankan tugasnya .
