Bacaan Alkitab : Kel. 25, 26, 27, 30, 31
(Kurun waktu : diperkirakan 1.446 – 1.444 S.M.)
“Tabernakel dan Pusat Penyembahan Kita”
download versi word file : Renungan Harian – Tgl 10 Februari 2017
Banyak orang pernah melihat ataupun terlibat didalam pembangunan gedung gereja. Umumnya orang tidak membangun gedung-gedung gereja dengan serampangan ataupun tanpa perencanaan yang matang. Segala sesuatunya dimulai dengan sebuah atau beberapa tujuan. Setelah itu, pendanaannya dikumpulkan, bahan-bahan bangunan dikumpulkan, pekerja dan tukang yang terampil dipekerjakan, dan akhirnya pekerjaan pembangunan pun dimulai. Ketika struktur bangunan telah selesai dikerjakan, kemudian bangunan tersebut diperlengkapi dengan perangkat-perangkat yang diperlukan untuk kegiatan penyembahan. Pada tahun 1.444 S.M., rencana untuk pembuatan konstruksi sebuah pusat penyembahan yang disebut Tabernakel atau Kemah Suci untuk Penyembahan, dimulai dalam waktu beberapa bulan setelah orang Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir dan juga sesaat setelah Allah memberikan hukum-hukum moral dan sosial kepada ummat Israel. Apakah tujuan pembuatan Tabernakel atau Kemah Suci tersebut? Siapakah yang merancang dan mendirikannya? Mengapa Kemah Suci tersebut dirancang seperti itu? Apa yang dapat kita pelajari dari pembangunan Tabernakel tersebut?
Setelah Allah memberikan Sepuluh PerintahNya dan hukum-hukum sosial kepada kaum Israel, kemudian orang Israel mengadakan perjanjian dengan Allah untuk mematuhi seluruh hukum tersebut. Mereka memulai suatu persekutuan dengan Allah. Kemudian Musa kembali mendaki Gunung Sinai untuk bertemu dengan Allah. Orang Israel baru saja menyaksikan Musa mendaki Gunung Sinai, sebelum suatu awan yang berapi turun dari langit (Kel.24 : 15-18). Apa yang ada di pikiran orang Israel saat itu? Mungkin saja mereka mengira bahwa Musa sudah hangus terbakar api tersebut, khususnya ketika dia tidak turun dari Gunung Sinai setelah beberapa waktu lamanya. Mungkin saja kondisi ini membuat iman mereka mulai terguncang. Iman mereka sedang diuji (Di dalam Alkitab, periode waktu selama 40-hari sering dijadikan dasar ujian iman), dan sulit untuk menunggu lebih lama lagi. Apakah kita dapat mempercayai bahwa hal-hal terbaik selalu berasal dari Allah, dan juga mau menanti-nantikan wajahNya?
Musa tidak terbakar oleh api tersebut dan ia pun tidak meninggalkan orang Israel. Allah sedang mempersiapkan untuk melakukan sesuatu yang baik bagi ummatNya. Mungkin inilah alasannya mengapa kadang-kadang kita tidak memperoleh jawaban yang seketika atas doa-doa kita – Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik bagi kita. Saat Musa berada di Gunung Sinai, ia memperoleh rancangan untuk pembuatan sebuah Tabernakel/ Kemah Suci, segala perabotannya, dan instruksi tentang kelengkapan jubah keimaman bagi para pelayan di Tabernakel tersebut. Tabernakel adalah suatu kemah suci pusat penyembahan yang bersifat fleksibel selama mereka berada dalam perjalanan di padang gurun. Konsep tentang Tabernakel mungkin pada masa kini dapat dipandang sebagai suatu pusat penyembahan ataupun gereja, tetapi perabot dan fungsi-fungsi yang ada pada Tabernakel tersebut sangat berbeda dengan pusat penyembahan masa kini.
Apakah tujuan pendirian Tabernakel/ Kemah Suci tersebut? Allah berfirman kepada Musa: “(25:8).. Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.” Meskipun Allah itu Maha Kuasa dan melampaui segala sesuatu dan Maha Hadir dimanapun pada waktu yang bersamaan, Allah berkehendak agar kehadiranNya selalu beserta dengan ummat Israel. Manifestasi fisik dari kehadiran Allah tersebut merupakan hal yang penting bagi ummat Israel, karena mereka dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang memiliki illah-illah asing. TUHAN, Allah sejati yang berkuasa di surga, menghendaki agar orang Israel hanya menyembahNya saja dan melakukan penyembahan tersebut secara benar. Meskipun kebanyakan dari kita bukan orang Israel, Allah juga menghendaki untuk berdiam di dalam setiap diri kita, sehingga kita menjadi Kemah Suci bagi kehadiranNya dan juga seumur hidup kita ditujukan untuk memuji dan memuliakan namaNya (Yoh. 1 :14; 2 Kor. 5 : 1-10; Ef. 2 ; 22). Pada akhir jaman, sekali lagi Allah akan menyatakan kehadiranNya bersama kita semua, sama seperti Ia telah menyatakan diriNya kepada ummat Israel (Wahyu 21 : 3).
Allah sendiri yang merancang Tabernakel dan kemudian orang Israel diperintahkan untuk mendirikannya, dan kemudian Allah juga memilih para pekerja dan seniman serta memberi keahlian untuk mengerjakan konstruksi Tabernakel tesebut (Kel. 35 ; 30). Bangunan Kemah Suci tersebut akan menjadi suatu tempat penyembahan yang besar.
“(25:1) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: (25:2) “Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu. (25:3) Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga; (25:4) kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing; (25:5) kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan kayu penaga; (25:6) minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian, (25:7) permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada. … (25:9) Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.”(Kel. 25 : 1-7, 9).
Allah juga menghendaki agar setiap diri kita juga terlibat didalam pembangunan tempat-tempat penyembahan bagiNya. Ia memberikan bagi kita segala keahlian dan kemampuan untuk membangun tubuhNya, yaitu Gereja (I Kor.12 ; Ef 4 : 1-16, Roma 12 : 6-8). Kita telah dipilih dan disiapkan TUHAN bagi pekerjaan tubuhNya untuk memberikan segala pujian dan kemuliaan bagiNya (Ef. 1 : 3-6, 11-13).
Tabernakel direncanakan untuk dibuat dalam struktur yang dapat dibongkar dan dipindahkan, karena orang Israel sedang berada dalam perjalanan melalui padang gurun. Sebagai ganti dari bahan bangunan bata dan mortar, Kemah Suci tersebut didirikan dengan bingkai papan dari kayu penaga, tirai dari kain ungu tua dan muda, kain lenan dan kain kirmizi, gelang-gelang pengait dan alat pencengkeram tembaga. Seluruh perabot di dalam Kemah Suci tersebut memiliki gelang-gelang pengait dari emas dan kayu pengusung yang dilapis emas.
Perabot-perabot yang terdapat di dalam Tabernakel tersebut adalah: Tabut Perjanjian (sebuah peti kecil dari kayu penaga yang disalut emas dengan tutupnya – tutup pendamaian- terbuat dari emas murni, dimana duduk di atasnya terdapat dua buah cherubim (malaikat) dari emas tempaan dengan sayapnya yang terkembang saling berhadapan ke atas, sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian tersebut dan kedua muka cherubim tersebut memandang ke tutup pendamaian tersebut ). Perabot lainnya adalah kandil dari emas murni dengan tujuh lampu penerang (menorah), satu meja roti sajian dari kayu penaga yang disalut emas murni, di mana setiap hari nya seorang imam akan meletakkan di atasnya, dua belas roti bundar tak beragi , sebuah mezbah pembakaran ukupan yang ukurannya kecil, terbuat dari kayu penaga dan disalut emas murni, sebagai pembakar rempah-rempah dan minyak urapan, bejana pembasuhan dari tembaga untuk tempat para imam mencuci tangan, dan sebuah mezbah korban bakaran dari tembaga untuk tempat korban bakaran yang dibawa oleh orang-orang yang datang untuk melakukan penyembahan. Setiap perabot dalam Kemah Suci tersebut memiliki suatu maksud, dibuat dengan mengikuti pola tertentu yang ditetapkan Allah, dan merupakan lambang tentang hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang.
Tabernakel tersebut dibagi dalam bagian-bagian yang dipisahkan oleh tirai-tirai yang didekorasi sangat baik dan berdasarkan pola tertentu. Luas Kemah Suci tersebut adalah sekitar 45,7 meter x 22,9 meter yang terdiri dari tenda dengan kain lenan halus, kain ungu tua, kain ungu muda dan kirmizi yang dipintal benangnya. Didekat pintu masuk terdapat mezbah besar tempat kurban bakaran, dan di area tengah Kemah Pertemuan diletakkan bejana pembasuhan bagi para imam. Didalam Kemah Suci di Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus yang berukuran 13,2meter x 4,6 meter, ditempatkan meja roti sajian, kandil emas dan mezbah pembakaran ukupan di Ruang Kudus, dan kemudian dipisahkan oleh tirai yang tebal dan kuat yang didesain dengan gambar cherubim, adalah Ruang Maha Kudus. Di dalam Ruang Maha Kudus yang berukuran sekitar 4,6 meter x 4,6 meter tersebut, terdapat Tabut Perjanjian yang disalut dengan emas murni. Pelajaran yang lebih rinci lagi mengenai rancangan Tabernakel tersebut akan kita bahas di Renungan Harian berikutnya, dan mengenai arti rohani dari Tabernakel di Perjanjian Lama tersebut dihubungkan dengan Perjanjian yang Baru, dapat dilihat di Ibr. 8 : 5, Ibr. 9 : 1 – 10 : 25.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Allah berkehendak untuk berdiam di dalam setiap diri kita, sehingga kita menjadi kemah suci bagi kehadiranNya. Ia memberikan kita kedamaian dan kehadiranNya setiap saat dalam hidup kita ;
- Allah menghendaki agar setiap diri kita terlibat aktif bagi pekerjaan pembangunan pusat penyembahan bagi Nya, yaitu tubuh Kristus / gerejaNya, melalui talenta-talenta yang sudah diberikanNya bagi kita ;
- Kita semua telah dipilih dan berada dalam rencanaNya untuk pekerjaan-pekerjaan yang memuliakan namaNya.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Menurut Anda, mengapa Allah merancang pembuatan Tabernakel sebagai pusat penyembahan ummat Israel kepada TUHAN tersebut dengan sedemikian rinci nya? Bagaimanakah kita dapat mengaplikasikannya dengan ibadah dan pekerjaan pembangunan tubuh Kristus/ Gereja Kristus saat kini?
- Di dalam kitab Keluaran 29, kita membaca tentang pentahbisan Harun dan anak-anaknya sebagai imam bagi Allah, yang didahului dengan tujuh hari persembahan korban penghapus dosa untuk menyucikan mezbah korban bakaran dan menguduskan Harun dan anak-anaknya sebagai imam. Menurut Anda, bagaimana hal nya dengan kekudusan Yesus dibandingkan dengan pengudusan para imam tersebut? Apakah Anda sungguh percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh pribadi yang amat kudus? Maka ketika kita percaya kepadaNya dan menerima korban darahNya untuk menyucikan segala dosa kita, bagaimanakah sikap kita selanjutnya berkenaan dengan kekudusan yang dianugerahkan Yesus bagi kita?
- Di dalam kitab Keluaran 30, kita membaca tentang mezbah pembakaran ukupan, yang dalam Perjanjian Baru, antara lain di dalam kitab Wahyu 8 : 3-4 digambarkan sebagai doa-doa ummat yang dinaikkan di hadapan Allah, yang naik ke surga seperti ukupan wangi-wangian yang kudus. Bagaimanakah kehidupan doa Anda saat ini, apakah Anda sungguh meyakini bahwa doa-doa yang Anda sampaikan dengan tulus di hadapan Tuhan itu seperti ukupan kudus?
- Ayat Hafalan Hari Ini :
- Keluaran 25 : 8 “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.”

Allah rindu berdiam didalam diri kita,sprt roti yg d pechkn,kita bagian dari RohNya,1 Roh dg berbagai karunia,1 tbuh dg berbagai anggota
Menyadari tubuh kt tmpt RohNya, RK menjadi Roh penolong, pengingat,penghibur,pendoa,bersaksi, menginsafkan.apkh kita meresponi kerinduanNya, jika Dia dlm kt,kt d dalm Dia tentu kt tdk men duka citakn Roh Kudus dg tabiat yg ta patut d luar kasih karunia.Hebrew 8:2&5 tertulis Musa mndpt gambaran & bayangan dari Surga utk mem persiapkn interior design bait Allah. Masa kini msh ada bayangan & gambaran dari surga yg pimpin kita umatNya,hny utk bs peka mendpt hal tsb, kt hrs akrab dg FT,dg Alkitab yg bs jwb segala masalah, dg catatan masa zaman baru di awali dg tanda2 yg dibrikn utk kt umat percaya dg mewaspadai cyber era yg bs kroping gambr atw buat gambar wajah plus jerawat atw kroping jerawat terhapus, alhasil tdk sesuai aslinya ľagi.ibarat tongkat musa munculkn tongkat2 yg serupa tp ta sama.bagi yg akrab dg Firmn Tuhan pasti d pimpin RK kepd seluruh kebenaran,hng bs bedakn mana tongkat asli atw palsu. Mari Roh Kudus pimpinlah umat percaya Yesus.Amin