Bacaan Alkitab : Ayub 1 – 3
(Kurun waktu : diperkirakan 2.324 – 2.224 S.M.)
(mengikuti masa hidup Abraham)
“Mengapa Orang Yang Baik dan Benar Menderita?”
download versi word file : renungan-harian-tgl-5-januari
Kehilangan/ berpulangnya seorang bayi atau orang yang terkasih oleh kematian yang terlalu dini, kehilangan usaha, kehilangan tempat tinggal, memburuknya kesehatan, kehilangan rasa hormat dan kepercayaan dari teman, atau kehilangan sahabat, semuanya adalah hal menyakitkan bagi setiap orang. Bayangkanlah jika semua hal tersebut terjadi dalam waktu seminggu ataupun sebulan : sungguh suatu bencana! Jika hal tersebut terjadi kepada orang yang jahat, kita dapat berkata: “Baguslah, memang dia patut mendapat ganjaran. Tuhan sedang membalas semua kejahatannya.” Namun ketika bencana tersebut terjadi kepada orang yang tidak bersalah, baik, jujur dan benar di hadapan Tuhan, kita akan menggelengkan kepala kita sambil berkata : “Kenapa hal tersebut dapat terjadi kepadanya? Dimanakah Tuhan, apakah Ia melihat semuanya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga pernah dilontarkan tokoh Alkitab yang bernama Ayub. Pada dasarnya, thema kitab Ayub dapat diringkaskan kedalam sebuah pertanyaan : “Mengapa Orang Benar Menderita?”. Hari ini kita akan belajar tentang kitab Ayub.
Mungkin Anda akan berkata : “ Tunggu dulu….kemarin kita masih akan menuju pertengahan kitab Kejadian, mengapa hari ini langsung ke kitab Ayub?. Ini pertanyaan yang baik, karena saat ini kita sedang melakukan pendalaman Alkitab secara kronologis, bukan berdasar metode yang biasa, atau berdasar penggolongan kitab2 yang biasanya dicantumkan di Alkitab pada umumnya, di mana kitab Ayub biasanya diletakkan di bagian pertengahan Alkitab, setelah kitab-kitab syair : Mazmur, Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung, sesuai dengan jenis kitab-kitab tersebut. Tetapi secara kronologis, kisah kehidupan Ayub terjadi di tahun yang hampir bersamaan dengan riwayat kehidupan nenek moyang orang Yahudi, seperti Abraham, Ishak dan Yakub.
Mengapa hal yang buruk terjadi kepada orang yang baik? Dimanakah Allah? Seringkali kita sulit mengerti apakah Allah peduli dan mau menolong kita di saat kesulitan terjadi, tetapi sesungguhnya Allah melihat semuanya dan peduli (Mazmur 139). Ada pertentangan antara Allah dan Iblis (penghulu malaikat yang berdosa dan si Ular Tua di Taman Eden), dan kadang-kadang Allah mengijinkan Iblis untuk menguji iman kita. Dalam kasus Ayub, Iblis bermaksud mengganggu kehidupan Ayub agar mengutuki Allah. Kita harus selalu ingat bahwa Iblis adalah musuh kita yang berjalan disekeliling kita, sama seperti singa yang mengaum dan siap menerkam yang lengah (I Petrus 5 :8). Adalah kehendak Allah untuk selalu memberkati Ayub karena kesalehannnya, tetapi Allah mengijinkan ujian terjadi dalam hidup Ayub, sama seperti tanah liat yang diuji melalui api pembakaran. Kadangkala Allah pun menempatkan kita ke dalam api ujian dan kesukaran hidup, agar kita dapat menjadi bejana Allah yang lebih baik, kuat dan indah.
Apa yang harus kita lakukan ketika hidup kita menjadi pahit dan keras? Apakah kita bersungut-sungut dan mengutuki orang lain, atau malahan mengutuki Tuhan? Penderitaan adalah hal yang sulit. Saat kita mengalami penderitaan, seperti menggunakan kaca mata satu-arah, kita hanya bisa merasakan rasa sakit dari penderitaan tersebut. Apakah yang akan kita lakukan jika hidup kita diuji dengan berbagai ‘api’ kesulitan hidup? Istri Ayub, ketika diuji dengan kematian semua anaknya, kehilangan harta benda dan penghargaan dari orang lain, serta kondisi Ayub suaminya yang kehilangan kesehatan, kemudian menyarankan agar suaminya mengutuki Allah dan kemudian mati saja. Sebelum kita mulai menyalahkan istri Ayub atas sikapnya tersebut, lebih baik kita juga menyadari bahwa jika kita harus mengalami semua kejadian seperti Ayub tersebut, mungkin kita akan bertindak sama.
Bagaimanakah sikap Ayub menghadapi segala penderitaan tersebut? Dalam Ayub 1:21, dia berkata : “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Kemudian Ayub juga menegur istrinya dengan perkataan : “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk ? ” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (Ayub 2 : 10). Untuk dapat meresponi dengan sikap seperti Ayub tersebut, tentu kita memerlukan hubungan pribadi yang sangat erat dengan Tuhan. Apakah kita telah memiliki hubungan seerat itu dengan Allah? Karena Allah pasti memberikan kekuatan bagi kita untuk menghadapi ujian hidup. Roh Kudus akan menjadi Penghibur dan Penasihat dalam hidup kita (Yoh.14 ; 16-17). Roh Kudus akan memberikan perspektif yang baru yang lebih baik, saat kita membaca Firman Allah. Allah adalah pribadi yang penuh kuasa dan melampaui segala akal pikiran manusia. Rencana Allah jauh lebih sempurna dibanding rencana manusia. Allah adalah tetap pribadi yang baik, bahkan saat keadaan disekitar kita berlawanan dengan yang kita inginkan. “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mazmur 27 : 14)
Apa yang kita lakukan ketika kita melihat orang lain mengalami musibah dan kesulitan hidup? Apakah kita langsung menyampaikan kata-kata seperti yang terdapat di kitab Roma 8:28? Meskipun tindakan tersebut merupakan ajaran yang baik, tetapi hal tersebut tidak selalu menjadi cara yang tepat; orang yang sedang menderita mungkin tidak akan dapat menangkap maksud dari ayat-ayat tersebut, terutama saat mereka sedang mengalami penderitaan ataupun kehilangan yang berat.
Apa yang harus dilakukan ketika melihat seorang yang baik, takut akan Allah dan bersikap benar, kemudian mengalami penderitaan? Teman-teman Ayub awalnya telah melakukan hal yang benar; mereka mengunjungi Ayub untuk menghiburnya. Selama tujuh hari berturut-turut mereka hanya berdiam diri dan duduk di samping Ayub. Kadang-kadang hal seperti inilah yang diperlukan orang yang sedang menderita; mereka hanya perlu orang yang mau duduk disamping mereka dan mendengar segala keluh kesah dan beban. Adalah hal yang baik untuk berada di sisi orang yang sedang menderita untuk menunjukkan rasa simpati kita, daripada kita hanya berasumsi dan kemudian memberi sekedar jawaban atas kasus yang dihadapi orang tersebut. Ayub merasa sangat menderita dan ingin mati. Ia mengutuki hari kelahirannya dan berharap bahwa ia tidak pernah dilahirkan. Orang dapat berkata macam-macam tentang penderitaannya, dan kita hanya perlu mendengar mereka berkeluh-kesah. Kita hanya perlu menemani mereka dan menunjukkan rasa simpati tanpa mengkritik apapun. Inilah persahabatan yang sejati. Lalu mengapa orang benar harus menderita? Meskipun kita dapat memberikan jawaban-jawaban secara theologis, namun tetap kita harus mengakui bahwa kita tidak tahu kehendak Allah atas kondisi tertentu dalam hidup seseorang. Marilah kita berhenti menghakimi orang lain dan lebih berfokus pada sikap-sikap yang bersimpati kepada orang yang sedang menderita.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Mengapa orang benar menderita? Kita tidak tahu jalan pikiran Allah. Mungkin Allah mengijinkan penderitaan itu terjadi agar mereka menjadi orang-orang kristen yang lebih indah, lebih kuat. Rencana Allah jauh lebih tinggi dan mulia dibandingkan rencana manusia, dan hikmat Allah jauh di atas hikmat dunia. Kita hanya perlu percaya kepadaNya.
- Bagaimana respons kita ketika mengalami penderitaan? Makin mendekatlah kepada Allah untuk mendapatkan penghiburan yang kita perlukan. Bacalah FirmanNya untuk mendapatkan nasihat dan pengertian illahi.
- Bagaimana sikap kita dalam menanggapi penderitaan yang dialami orang lain? Bersimpatilah kepada mereka, jangan mengkritik atau menawarkan solusi yang terlalu cepat. Jadilah pendengar yang baik dan jangan menghakimi.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Menurut Anda, apakah Iblis mencobai manusia hanya melalui penderitaan? Bagaimana dengan penderitaan yang disebabkan oleh tindakan manusia itu sendiri? Bukankah dengan mengalami penderitaan, kita juga belajar sesuatu yang baik/ berguna? Bagaimana dengan kekayaan atau keberhasilan hidup: apakah Iblis juga menggunakan hal-hal ‘positif’ ini untuk mencobai manusia? Diskusikanlah.
Ayat Hafalan Hari Ini :
- Roma 12:15 “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”
- Ayub 1:21 “katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”
