“Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, satu dalam kasih, satu jiwa, satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”
(Flp. 2:2-4)
Apa yang terjadi jika seseorang yang berumur dewasa tetapi secara fisik hanya memiliki tinggi badan kurang dari satu meter? Atau mungkin seseorang yang berumur dewasa tetapi dalam berperilaku dan bersikap orang tersebut masih seperti kanak-kanak, misalnya masih suka digendong orang tuanya, makan minta disuapi, mandi minta dimandikan, keinginannya harus selalu dipenuhi orang lain dan jika tidak dipenuhi tanpa malu ia menangis merengek-rengek bahkan marah-marah? Tentu tanpa berpikir panjang orang lain akan berkata baik secara langsung atau dalam hati tentang orang itu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam pribadi orang itu atau dalam bahasa lugasnya pasti orang itu tidaklah mengalami pertumbuhan yang seharusnya (tidak normal). Dan tentunya sesuatu yang tidak beres itu sangat mengganggu kehidupan orang itu sendiri dan orang lain. Lalu bagaimana jika dalam gereja tidak mengalami pertumbuhan yang seharusnya atau tidak sesuai harapan ? Jawabannya pasti ada sesuatu yang tidak beres pula dalam gereja itu.
Surat Filipi ini ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia sedang dalam keadaan di penjara oleh karena Injil, dan surat ini ditujukan kepada jemaat Filipi sebagai peringatan dan nasihat oleh karena Paulus melihat bahwa jemaat Filipi telah mengalami masalah yang sangat serius di dalam gereja dan masalah ini sangat mengancam keutuhan dan kesatuan hidup jemaat Filipi, yaitu sikap hidup mementingkan diri sendiri dan mulai menyimpang dari ajaran firman Tuhan. Oleh karena Rasul Paulus tahu dan sadar betul bahwa persoalan-persoalan itu sangat merugikan kehidupan jemaat dan menjadi penghambat pertumbuhan gereja, maka Rasul Paulus menjelaskan kepada jemaat Filipi tentang penyebab persoalan itu dan memberikan pengajaran secara tegas bagaimana menyelesaikan persoalan itu sehingga umat Allah kembali bersatu dan menjalankan ajaran firman Tuhan (Flp. 2:1-11).
Filipi 2:3-4 dikatakan bahwa jemaat Filipi telah mengalami perselisihan yang disebabkan oleh karena adanya sikap hidup umat Allah yang saling mementingkan diri sendiri sehingga menganggap orang lain tidak penting dan maunya selalu mendapat pujian. Sikap ini merupakan wujud kesombongan karena menganggap diri lebih baik dan hebat daripada orang lain dan mengharapkan orang lainpun menganggap dan mengakui apa yang diinginkannya. Kesombongan ini tentu dapat menghancurkan hubungan antar pribadi jemaat dan berpotensi menghambat kemajuan dan pertumbuhan gereja. Oleh karena persoalan itu menjadi ancaman yang membahayakan jemaat Filipi, maka Rasul Paulus menanggapi dan memberikan nasihat pengajaran secara tegas kepada jemaat Filipi supaya kembali bersatu dan memberi jawaban untuk mencegah perpecahan itu yaitu dengan menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat di dalam Kristus Yesus (ay. 5). Disini Paulus menjelaskan bahwa Yesus rela melepaskan identitas dengan segala hak-Nya walaupun Ia adalah Allah. Ia rela mengosongkan diri-Nya supaya orang berdosa dapat diselamatkan meskipun Ia dihina, direndahkan, disiksa, bahkan harus mati di atas kayu salib (ay. 6-8). Sikap seperti inilah yang diharapkan Rasul Paulus kepada jemaat Filipi dalam menghadapi perpecahan umat Tuhan meskipun ini bukan perkara yang mudah, sebab itu sebagai umat Allah perlu melatih diri untuk bersikap rendah hati dalam membangun hubungan antar sesama manusia khususnya antar sesama umat Allah. Dengan demikian, maka gereja akan mengalami pertumbuhan yang seharusnya dan berkenan dihadapan Allah.
Melalui nasihat dan pengajaran Rasul Paulus di atas, maka sangatlah jelas bahwa pertumbuhan yang seharusnya dilakukan oleh umat Allah dan gereja adalah jika setiap umat Allah memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat di dalam Kristus yaitu tidak mementingkan diri sendiri melainkan hidup saling mengasihi, menasehati, menopang satu dengan yang lain, serta memelihara persekutuan Roh untuk satu tujuan bersama dalam pelayanan. Tuhan Yesus Memberkati.
(AP29062022)
Pokok Doa:
- Berdoa bagi GBIK yang terus berusaha untuk memberikan atau mengadakan acara Gereja yang membuat Iman percaya jemaat dapat bertumbuh dan dikuatkan;
- Berdoa bagi Sekolah Minggu yang akan sibuk dalam menyelenggarakan SIL agar diberi kekuatan dan kesehatan;
- Berdoa bagi bangsa kita agar tetap dapat memberikan keamanan dan ketentraman Rakyat Indonesia diberbagai Sektor.
Pokok Doa TPW EKLESIA, Pelita, Halmahera Utara
- Pelayanan dan kesehatan Gembala Sidang: Pdm. Yunus Tuwongadil beserta keluarga;
- Kesetiaan jemaat dalam berbakti dan melayani;
- Pelaksanaan pembangunan Gedung ibadah yang sedang berjalan;
- Kesehatan jemaat.
