“Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati”
(Pengkhotbah 9:3)
Raja Salomo dan kalimat di atas mengatakan bahwa meskipun manusia itu ada perbedaannya baik kaya dan miskin, pintar dan bodoh, yang terhormat dan rakyat biasa (Pkh. 6:8), namun pada dasarnya nasib semua orang sama, yaitu mereka terlahir di dunia, hidup dan hatinya diwarnai kejahatan dan kebebalan lalu menuju alam orang mati (Pkh. 9:3). Dalam hal ini kita harus menyadari penuh bahwa yang membuat manusia satu dengan yang lainnya itu berbeda dan sama adalah Allah dalam hikmat-Nya. Kitab Suci dalam Perjanjian Lama, Allah digambarkan sebagai Allah yang sangat tegas dan kudus, sehingga Ia tidak bersedia menyaksikan kejahatan, apalagi memberinya toleransi, bahkan ketika Tuhan Yesus muncul dalam sejarah umat manusia itu, sebagian besar masih dianggap najis karena perbuatan manusia atau karena seseorang itu bukan bangsa Yahudi. Kaum wanita dianggap najis paling tidak sekali dalam sebulan (Im. 15:19). Siapapun juga najis jika ia makan makanan yang haram. Dengan kata lain, hanya beberapa orang saja yang dianggap suci dalam menghampiri Allah. Musa yang dianggap suci dan layak untuk berbicara dengan Allah pun harus menutup wajahnya (Ul. 34:10)
Yesus Kristus Tuhan kita adalah Allah dalam rupa manusia, namun Ia bergaul dengan orang-orang berdosa. Pelacur, pencuri, penipu, pemungut cukai, dan lain sebagainya. Kita dapat bayangkan hal itu mendatangkan pukulan hebat pada tatatanan keagamaan pada saat itu. Yang terancam bukan saja identitas Tuhan Yesus, tetapi juga adat istiadat keagamaan pada saat itu. Ia memperlakukan setiap orang sama dalam kesahariannya selama di dunia dengan bukti-bukti mukjizat yang dilakukan-Nya misalnya, membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, membuat orang lumpuh berjalan, orang buta dapat melihat kembali bahkan ketika Ia menyapa para nelayan, pelacur, dan pemungut cukai sebagai sahabat-sahabat-Nya. Tuhan Yesus tidak saja menerima mereka secara pribadi “yang tidak suci” ini, tetapi menunjukkan cinta kasih yang tulus bagi mereka dan mereka datang dari berbagai kota dan desa untuk merasakan uluran kasih-Nya. Tuhan Yesus tidak menghukum pelacur yang ketangkap basah yang dilemparkan pada kaki-Nya. Ia menyalurkan pengampunan dengan berkata: “Pulanglah dan jangan berbuat dosa lagi”. Kepada Zakheus pemungut cukai yang dibenci bangsanya, Ia berkata: “Hari ini keselamatan dari Allah turun atas rumah ini”. Dihadapan-Nya, setiap orang merasa aman dan menemukan diri mereka sendiri sebagai makhluk ciptaan Allah yang sama.
Inilah misi Tuhan Yesus bagi umat manusia yang harus juga menjadi misi kita sebagai orang percaya, yaitu memperlakukan semua orang sama dan sederajat. Tuhan Yesus pergi menjumpai orang-orang di pasar, Bait Suci, di tepi danau, di jalan-jalan Yerusalem, di bukit dan lembah Yudea lalu menolong dan memberi jawaban atas segala masalah mereka, serta menerima mereka apa adanya. Dengan perlakuan-Nya yang demikian maka Petrus yang murtad kembali kepada-Nya. Tomas yang bimbang menemukan keyakinannya dan berkata: “Ya Tuhan, Ya Allahku”. Zakheus melihat dosanya dan bersedia mengembalikan apa yang telah dicurinya. Kita semua yang dahulu berdosa bisa sadar akan setiap dosa kita lalu bertobat kepada-Nya.
Haleluya, Tuhan Yesus memberkati.
(AP16062020)
Pokok Doa:
- Doakan Keamanan dan ketertiban di Indonesia dalam hal ini masyarakat bertoleransi terhadap lingkungan hidup ber gotong royong menghadapi kenyataan di masa sulit ini tetap hidup rukun.;
- Dokan GBI Kebayoran dalam hal ini Panitia PI dalam programnya di samping pembangunan secara fisik juga diberikan kemampuan untuk membangun secara Rohani, penginjilan pribadi ada pelatihan pelatihannya yg dapat diikuti Jemaat GBIK;
- Doakan Anggota jemaat GBIK yang perlu pekerjaan baru dan usaha usaha yg saat ini di geluti Tuhan berkati sehingga dapat menopang kebutuhan sehari-hari nya tercukupi.
