“Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan anaknya, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia”
(Yohanes 16:21)
Kelahiran seseorang dari rahim seorang ibu ke dunia identik dan kita kenal dengan sebutan hari ulang tahun. Dan tentunya bagi setiap kita yang berulang tahun pada umumnya akan mengalami sukacita dan bahagia yang sangat berbeda dengan hari-hari biasanya. Apa sebabnya? Oleh karena, di hari ulang tahun itu kita dapat berkumpul bersama keluarga kecil kita walaupun hanya sekedar untuk makan dan doa bersama; di hari ulang tahun kita banyak orang yang peduli dan memperhatikan kita dalam bentuk ucapan, doa, atau hadiah; di hari ulang tahun mungkin kita mampu berbagi dan mengadakan pesta dengan mengundang orang-orang yang kita kasihi. Namun dalam perenungan kita hari ini, semestinya yang harus membuat kita bisa bersukacita dan berbahagia di hari ulang tahun kita adalah bukan karena makanannya, ucapannya, pestanya, atau hadiah yang kita terima, melainkan karena kasih Tuhan Yesus Kristus yang telah menambahkan umur kepada kita serta karena kasih dan perjuangan dari seorang wanita yang mengandung dan melahirkan kita, yaitu ibu kita masing-masing seperti yang dikatakan dalam Yohanes 16:21 bahwa, “seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan anaknya, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia”.
Kita harus berterimakasih kepada Tuhan untuk seorang wanita, yaitu ibu yang baik dan yang melahirkan kita, karena dalam dunia yang egoistis dan serba materi ini, kita memerlukan seorang ibu yang saleh dan takut akan Tuhan untuk menopang dunia ini melalui doa dan kesalehan hidup mereka meskipun kita sudah berkeluarga dan tidak bersamanya lagi. Dalam Kitab Perjanjian Lama dikisahkan ada seorang wanita yang begitu mengasihi anaknya, wanita itu bernama Yokhebet ibu Musa, dimana ia tidak takut perintah dan ancaman seorang raja sekalipun (Kel. 1:16-22), asalkan ia dapat mempertahankan nyawa anaknya (Kel. 2:2; Ibr. 11:23) dan dengan demikian berarti ia mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk kebaikan dan keselamatan anaknya. Demikian pula dengan ibu kita, sadar atau tidak, mengakui atau tidak, sesungguhnya ibu kita telah berjuang bagi kebaikan dan keselamatan hidup kita di dunia. Oleh karena itu, mari kita sebagai anak harus selalu ingat dan tetap menaruh hormat kepada ibu yang melahirkan kita walaupun seorang ibu mungkin sangat dominan dibandingkan seorang ayah dalam kehidupan anak-anaknya karena sejak usia dini anak-anak lebih lama bersama ibunya daripada orang lain, dimana bayi berbulan-bulan telah berada di dalam kandungan ibunya dan setelah lahir berbulan-bulan juga berada dalam pelukan atau rangkulan seorang ibu daripada orang lain (Mzm. 22:9; Kel. 2:7); dan naluri seorang ibu lebih memanjakan anaknya daripada orang lain (1 Sam. 2:19; Yes. 49:15), sehingga sangat tepat jika ada peribahasa yang mengatakan bahwa “kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah”, yang artinya kasih ibu kepada anak itu tidak ada batasnya walaupun kasih anak ke ibu itu ada batasnya. Dan tentunya sangat disayangkan jikalau kita mendengar berita atau menemukan seorang anak yang jahat terhadap ibunya, malu mengakui ibunya karena keterbatasan dan kekurangannya, anak membunuh ibu kandungnya, suami merendahkan istrinya, laki-laki menganggap rendah dan melecehkan wanita, maka berdosalah ia karena kita semua terlahir dari seorang wanita. Tuhan Yesus memberkati kita. (AP04042020)

“Selamat Ulang Tahun di Dalam Berkat2, Kasih & Penyertaan Tuhan” utk ytk Pdt. Agus Panrimo , dan terima kasih banyak atas pelayanan dan kerja kerasnya dlm menumbuh-kembangkan iman jemaat GBIK. Kiranya Tuhan senantiasa memberi urapan baru yg memberkati setiap orang termasuk jemaat, mengaruniakan kesehatan, usia panjang di dalam berkat kasih dan penyertaan Tuhan yg indah di dalam keluarga, serta keberhasilan di dalam setiap langkah hidup di dalam Tuhan .
Terima kasih utk Renungan Harian pada hari ini yg sungguh2 baik, yang mengingatkan setiap diri kita, khususnya di hari Ultahnya, untuk tidak lupa berterimakasih, menghormati dan memperhatikan para Ibu (dan tentu jg Ayah) yg telah melahirkan kita.
Di banyak ayat2 dalam Alkitab, Tuhan menggunakan ayat2 tsb untuk menyampaikan hal2 rohani yang lebih dalam/tersirat dibandingkan dengan yg ‘tersurat’ , tentang kasih Allah yang jauh melebihi kasih dan naluri seorang Ibu yg baik, terhadap anak2 nya secara lahiriah ( baik seorang Ibu yang secara lahiriah telah melahirkan anak2nya, maupun perempuan2 mulia yang telah rela mengasihi dan membesarkan anak2 yang mungkin bukan berasal dari rahimnya sendiri, mungkin berbentuk ‘Orang Tua Asuh’ yg membantu pendidikan anak2 kurang mampu, ataupun dengan cara mengadopsi anak2 tsb. ). Firman Tuhan selalu menyentuh hati , berbicara dan mengingatkan tentang berbagai segi ‘tugas/ kewajiban’ setiap manusia dgn perannya masing2, mis. di dlm keluarga, ttg hal2 yg benar sebagai Ibu/ Ayah maupun Anak. Maka ketika kita membaca ayat Alkitab di dalam 1 Samuel 2 : 19, kita tahu bahwa Hana telah melakukan tugasnya yg baik sebagai seorang Ibu yang memperhatikan kebutuhan Samuel kecil akan jubah/mantel yg dapat menghangatkan tubuh kecilnya, terutama saat Samuel kecil harus ikut berjalan jauh dgn orang tuanya utk beribadah & mempersembahkan korban pada hari raya keagamaan khusus. Dan sebagai Ibu yang sungguh2 taat kpd Tuhan, Hana telah mengajar Samuel kecil untuk menghormati Allah dan mematuhi perintahNya. Demikian pula, di dalam kitab Yesaya 49 : 15, Allah hendak mengatakan bahwa sudah menjadi naluri alamiah bagi seorang Ibu yang baik/ sehat jiwanya, untuk selalu menjaga, melindungi, mengasihi anak2 yang dikandungnya, tetapi jika, dan dapat saja terjadi, kasih yang sudah sewajarnya dilakukan seorang Ibu terhadap anaknya tsb tidak dilakukannya, Allah tetap mengasihi anak2 tersebut dengan cara2Nya yang ajaib dan besar .
Bagi kaum Ibu (baik secara lahiriah yg mengandung & membesarkan anak2nya, maupun para ‘Ibu’ yg turut memikul tanggung-jawab membesarkan anak2 yg bukan dikandungnya, ataupun para ‘Ibu secara rohani’ yang mencurahkan waktu utk turut membesarkan dan menanamkan nilai2 yang baik sesuai ajaran Alkitab), ada standard 2 moralitas dan karakter yang dikehendaki Allah untuk dimilikinya, seperti di dalam Amsal 31, Titus 2 : 3-5, 1 Tim.2 : 9-15.
Lalu tentang kewajiban seorang anak untuk menghormati, mematuhi, merawat Ibu dan Bapaknya di dalam Tuhan, khususnya ketika mrk menjadi tua; Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa semuanya itu adalah untuk kebahagiaan, kesejahteraan, kesuksesan dan keberlangsungan yg baik bagi si Anak itu sendiri (jadi demi kebaikan dirinya sendiri) seperti dapat kita temukan di Efesus 6 : 1-3 dan/atau , Kolose 3 :20; namun juga agar ia terhindar dari segala dosa, kutuk dan hukuman Tuhan, seperti diingatkan Tuhan di dalam Imamat 20 : 9, Amsal 20 : 20, Matius 15 : 3-4.
Akhirnya, sebagai manusia2 kepunyaan Allah dengan peran yang kita jalankan masing2 di dalam keluarga inti, maupun keluarganya Allah, marilah berfokus kepada tugas2 dari Allah, bahwa “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kolose 1 : 16).
Tuhan memberkati.✝️