HANYA KEPADA-MU KUBAKTIKAN DIRIKU
(Mat. 4:1-11)
Ada kelompok orang dalam menjalani hidup ini tanpa tujuan. Ada pula kelompok orang dalam menjalani hidup ini menjadikan uang tujuan hidup mereka dan bukan Allah. Sehingga mereka menjadi hamba uang dan bukan hamba Allah. Semua ini terjadi karena sesungguhnya mereka kurang yakin bahwa Allah menyertai mereka walaupun alasan mereka menjadikan uang adalah tujuan hidup mereka sepertinya masuk akal, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun seharusnya sebagai anak-anak Allah, hendaknya setiap kita mengajukan pertanyaan ini kepada diri sendiri sebagai perenungan kita setiap saat. “Mengapa saya hidup?”, “Untuk apa saya hidup?” Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas tentunya beragam, namun apapun jawaban kita, itulah yang menentukan tujuan hidup kita. Mengapa tujuan hidup itu penting?. Karena tujuan hidup kita memberi nilai hidup kita, memotivasi kita, mendisiplin diri kita dan mengontrol kita apakah kita ini adalah hamba yang setia dan siap membaktikan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan Yesus atau tidak. Karena itu hiduplah dengan tujuan yang tinggi seperti teladan Tuhan Yesus ketika Ia dicobai Iblis di padang gurun sebelum mengawali pelayanan di dunia ini untuk kemuliaan Bapa-Nya (Mat. 4: 4, 7, 10).
Melalui perenungan dari Injil Matius 4:1-11 dalam peristiwa Tuhan Yesus dicobai Iblis di padang gurun, maka kita kembali diingatkan bahwa tujuan hidup kita yang sebenarnya adalah untuk membaktikan diri dan hidup kita hanya kepada Allah. Dan mengapa ini sangat penting? Karena kita dapat membatasi dari hal-hal yang tidak penting, menolong kita memprioritaskan sesuatu yang penting, menolong kita mengerjakan yang terbaik dalam menjalani hidup ini, lebih-lebih mendorong kita untuk semakin percaya kepada Allah sepenuhnya dengan menunjukkan ketaatan kita kepada-Nya dengan pimpinan Roh Kudus.
Jadi, ketika kita memutuskan mengikut Tuhan Yesus berarti kita siap mengikuti jalan-jalan-Nya, kemanapun Tuhan Yesus melangkah kesanalah kaki kita juga harus melangkah. Mengikut Tuhan Yesus juga berarti siap meneladani hidup-Nya, sebab ada tertulis, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yoh. 2:6). Jangan hanya mengikut Tuhan Yesus hanya karena satu tendensi yaitu mengejar berkat dan mujizat-Nya saja, sementara kita tidak peduli keberadaan kita sendiri apakah sudah hidup benar di hadapan Tuhan atau belum, apakah jalan kita sudah seturut dengan kehendak-Nya atau belum, apakah kita sudah melayani Tuhan atau belum, apakah kita sudah membalas kasih Tuhan yang tak terukur, “…. betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya….” (Efs. 3:18), apakah kita sudah menjalankan misi Tuhan atau belum? Ingatlah akan sikap tegas Tuhan Yesus ketika hendak diperangkap oleh Iblis dengan berbagai cara supaya Tuhan Yesus gagal melaksanakan visi-Nya, datang ke dunia untuk mati dengan cara di salib demi menyelamatkan manusia yang berdosa. Tuhan Yesus tetap setia dan berbakti sepenuhnya kepada Bapa-Nya yang mengutus-Nya (Mat. 4:10).
Janganlah menjadi orang kristen yang hanya berkerinduan untuk diberkati saja, karena kalau tujuan hidup kita adalah bukan untuk berbakti kepada-Nya melainkan hanyalah untuk uang, berkat, atau jabatan Iblispun bisa memberikannya (Mat. 8-9). Ingatlah firman Tuhan dari Lukas 9:25, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan diri sendiri?”. Selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati.
