DISELAMATKAN KASIH KARUNIA ALLAH
(Tit. 2:11-15)
Memasuki bulan Agustus dimana bulan ini adalah bulan bersejarah begai bangsa Indonesia, kita telah melihat geliat masyarakat yang dengan antusias menyambut peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita sayangi. Umbul-umbul di mana-mana telah kita lihat sepanjang jalam bahkan rumah-rumah pribadi pun satu demi satu mulai memasang bendera Merah Putih dengan berbagai ukurannya. Bangsa Indonesia medeka dari penjajahan, diikrarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 melalui Proklamasi Kemerdekaan yang diucapkan oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta. Diyakininya kemerdekaan yang diperoleh karena berkat rahmat Allah yang Mahakuasa dan didorong oleh keinginan luhur bangsa Indonesia (Alinea 3 Pembukaan UUD 1945).
Apa yang terdengar di masyarakat selama ini bahwa keselamatan hanya di dalam Tuhan Yesus bukan karena perbuatan manusia (Gal. 2:8-9), dinyatakan oleh Paulus kepada Titus dengan tegas merupakan suatu fakta, bukan sekedar gossip. Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua orang sudah nyata. (Tit. 2:11). Hal ini merupakan cermin dari apa yang dialami Paulus, ia merasakan bagaimana Allah sendiri telah menyatakan diri kepadanya, menyelamatkan hidupnya dan memroses dirinya menjadi seorang hamba. Apakah yang dirasakan oleh Paulus tersebut sudah kita rasakan bahwa keselamatan itu adalah suatu kenyataan? Keselamatan bukan hanya teori atau ajaran semata, tetapi keselamatan adalah pengalaman pribadi yang nyata bersama dengan Tuhan Yesus.
Allah yang menyelamatkan umat manusia itu, bukan sekedar menyelamatkan saja, tetapi juga memberi arahan-arahan yang menjadikan orang percaya mengalami pertumbuhan yang maksimal. Titus 2:12 menyatakan, “Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil, dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.” Dari ayat tersebut kita bisa menyatakan bahwa yang Tuhan Yesus lakukan bagi orang percaya agar kuat dan tetap di dalam kasih-Nya adalah -2 dan +3. Minus dua itu adalah: 1) tinggalkan kefasikan, 2) tinggalkan keinginan-keinginan duniawi. Sedangkan plus tiga yang dimaksud adalah: 1) hidup bijaksana, 2) hidup adil, dan 3) beribadah di dalam dunia sekarang ini. Ini adalah tuntunan yang istimewa yang dirasakan Paulus dan mestinya juga kita rasakan sebagai pribadi yang telah merasakan keselamatan sebagai suatu kenyataan. Menarik untuk dicermati bagian terakhir arah dan sekaligus nasihat untuk beribadahlah di dalam dunia sekarang ini. Ini menunjukkan bagian yang harus dilakukan orang percaya agar kuat dan terus bertumbuh dalam imannya, diperlukan senantiasa beribadah, bukan nanti atau besok setelah suasana memungkinkan, tetapi sekarang ini. Sekarang ini, ya sekarang ini, jangan tunda-tanda lagi sampai waktu yang tidak ada tentunya. Apa yang akan terjadi besok, lusa atau nanti tidak ada yang tahu, artinya segala sesuatu bisa terjadi.
Untuk dapat merasakan pengalaman dengan Tuhan, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang harus diusahakan atau diciptakan sendiri. Dalam hal ini sebenarnya hanya dibutuhkan kepekaan seseorang anak Tuhan dalam merasakan pertolongan Tuhan. Semakin kita setia dalam beribadah dan berkomunukasi dengan Tuhan, maka Tuhan dengan sendirinya akan memroses kita menjadi pribadi yang semakin peka terhadap kehadiran dan kebersamaan kita dengan Tuhan. Hal ini tidak bisa terjadi secara instan, namun memerlukan pertumbuhan rohani melalui aktivitas rohani kita dengan Tuhan. Selamat menikmati karunia Tuhan dalam wujud keselamatan hidup kita, Tuhan Yesus memberkati, Amin.
