Bacaan, 2 Februari 2026
Imamat 1-3
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Roma 12:1
Kita memang tidak perlu mempersembahkan korban seperti orang-orang didalam Perjanjian Lama karena Tuhan Yesus telah menjadi Korban Agung bagi manusia (Ibr.10). Namun inti sari korban bukanlah sebatas ritual semata; melainkan sikap hati yang dipersembahkan. Sehingga kita masih perlu mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, yaitu tubuh kita untuk kemuliaan nama-Nya (Roma 12:1-2).
Setidaknya ada 3 hal yang dapat kita dapatkan dari Imamat pasal 1-3 untuk memperlengkapi kehidupan kita saat ini. Pertama, korban bakaran (Imamat 1) yang berbicara mengenai “totalitas dalam mempersembahkan”. Dasar dari pengertian diatas didasarkan atas cara korban bakaran dilakukan; yaitu seluruh korban dibakar habis dan menjadi wangi-wangian kepada Tuhan. Hal ini melambangkan bentuk penyerahan diri secara total dihadapan Tuhan agar dapat menjadi dupa yang harum dihadapan-Nya. Tuhan tidak menginginkan sisa-sisa waktu atau sisa-sisa tenaga kita; Ia ingin semuanya dari kita karena Ia ingin menjadi pusat didalam kehidupan kita dan Ia ingin kita berpusat kepada-Nya.
Kedua, korban sajian (Imamat 2) yang berbicara mengenai “kehidupan yang tak tercemar” sebagai persembahan yang harum dihadapan-Nya. Korban sajian merupakan korban yang berisi tepung terbaik (tanpa ragi), dengan minyak dan kemenyan. Korban sajian tidak boleh mengandung ragi (simbol dosa/keangkuhan). Sehingga dengan dasar tersebut maka kita perlu menjaga integritas sebagai anak-anak Allah dalam menjalani kehidupan sehingga apa yang kita lakukan tidak tercampuri oleh dosa (hal-hal negatif). Korban sajian memberikan makna bagi kita agar kita berusaha mempersembahkan hidup yang tidak tercemar oleh dosa.
Ketiga, korban keselamatan (Imamat 3) yang berbicara mengenai “persekutuan dengan Allah”. Dasar dari pengertian diatas didasarkan karena dalam praktik korban keselamatan, Imam bersama dengan penyembah menikmati sedikit/sebagian korban yang disajikan. Hal tersebut memberi kesan bahwa hubungan kita dengan Tuhan harus menjadi dampak bagi sesama sehingga sesama dapat menikmati hubungan yang sama. Praktik sederhananya adalah dengan membangun “meja persekutuan” dengan orang lain—berbagi berkat, memberikan pengampunan, dan menciptakan damai sejahtera di lingkungan kita.
Ketiga jenis korban dalam Imamat 1-3 memberikan makna indah bagi kehidupan kita saat ini, dan biarlah kita dapat menjadi pribadi yang dapat menerapkannya sehingga nama Tuhan senantiasa dipermuliakan.
Tuhan Yesus memberkati
YG020226
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 02 Februari 2026
1. Bersyukur Ibadah Minggu Pagi 1, 2 dan sore dapat berlangsung dengan baik serta kelas-kelas Sekolah Minggu dan Ibadah Anak juga bisa terlaksana.
2. Berdoa untuk pemulihan kesehatan Pdt. Agus Panrimo dan jemaat yang sakit.
3. Berdoa untuk Presiden, wakil presiden serta para menteri supaya dalam menjalankan pemerintahan memiliki hati yang takut akan Tuhan dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.
Pokok Doa untuk Cabang Gerbang Mutiara, Landak, Kalimantan Barat
1. Berdoa supaya Tuhan memberkati mata pencaharian Jemaat, baik pekerjaan maupun usaha yang dilakukan sehingga segala kebutuhannya dapat tercukupi, dan bagi Jemaat yang belum mendapatkan pekerjaan kiranya Tuhan membuka jalan berkat.
2. Berdoa untuk kesiapan Jemaat, masyarakat dan pemerintah setempat dalam menghadapi musim hujan yang rawan mengalami banjir.
3. Doakan pelayanan Pdt. Timbul Purwono beserta keluarga supaya Tuhan memberikan kesehatan, hikmat dan kemampuan dalam menggembalakan Jemaat Cabang Gerbang Mutiara.
