Bacaan Alkitab : Bilangan 11 – 12
(Kurun waktu : diperkirakan 1.446 – 1.444 S.M.)
“Bertahan Di Dalam Penderitaan Dan Kesulitan Hidup”
download versi word file : Renungan Harian – Tgl 3 Maret
Mungkin pada suatu saat ada banyak orang (termasuk juga orang Kristen) yang kehilangan pekerjaan dan nafkah mereka. Kadang-kadang kemudian karena terjadinya kesulitan keuangan, mereka harus menurunkan gaya hidup ataupun berpindah lokasi tempat tinggal. Apa yang terjadi jika hal-hal tidak berjalan baik sebagaimana diharapkan, entah di dalam keluarga ataupun dalam suatu organisasi? Biasanya akan ada berbagai masalah: ketidakpuasan, menggerutu dan bahkan sampai kepada desersi dan meninggalkan rumah atau organisasi, serta terjadinya pemberontakan. Hal tersebut juga terjadi pada awal perjalanan ummat Israel sebelum mereka sampai di Gunung Sinai, dan sayangnya, hal tersebut juga berlanjut setelah mereka meninggalkan Gunung Sinai menuju Tanah Perjanjian. Mengapa Allah mengijinkan segala penderitaan dan kesulitan hidup terjadi atas ummatNya? Orang yang percaya bahwa Allah hanya memberi berkat bagi ummatNya dan tidak pernah mengijinkan kesulitan hidup terjadi atas ummatNya, tentu akan mempertanyakan hal tersebut juga. Jika Allah telah membawa kita ke suatu tingkat hubungan yang baru denganNya melalui anakNya, Yesus Kristus, mengapa kemudian kita masih mengalami penderitaan dan kesulitan hidup? Bukankah orang Kristen seharusnya dihindarkan dari segala jenis persoalan dan diberkati secara rohani dan jasmani?
Persoalan dan kesulitan hidup akan menguji keteguhan karakter kita, serta mejadikan kita prajurit milik Yesus Kristus yang lebih kuat dan tahan uji. Kita perlu menunjukkan daya tahan yang kokoh. Keteguhan karakter kita akan teruji melalui panasnya api kesulitan hidup. Seringkali tujuan Sang Komandan atas berbagai penderitaan dan kesulitan hidup tersebut adalah agar dapat tercipta iman dan daya tahan yang lebih kokoh di dalam TUHAN.
Dalam perjalanan mereka di padang gurun, ummat Israel menghadapi tantangan fisik. Padang gurun bercuaca panas, kering, berangin dan penuh debu pada siang hari, dan menjadi amat dingin pada malam hari. Selain benda padat menyerupai roti yang dapat ditemukan pada permukaan tanah setiap hari (manna), hampir-hampir tidak ada lagi makanan atau air yang dapat ditemukan di padang gurun. Ada lebih dari 2 juta orang dan ratusan ribu hewan ternak yang perlu diberi makan. Ada banyak ular berbisa di padang gurun. Ummat Israel rawan terhadap serangan terbuka dari berbagai musuh tanpa adanya perlindungan alam. Apakah Allah akan bertindak dalam kesetiaan bagi mereka, ataukah sebaliknya, membiarkan mereka mati di padang gurun? Sebelum kita akan menghakimi ummat Israel, mungkin ada baiknya bagi kita untuk memperhatikan – jika kita berada pada kondisi mereka saat itu, apakah kita akan bertindak secara berbeda? Bagaimana kita dapat bertahan di dalam penderitaan dan kesulitan hidup?
Rahasia untuk dapat bertahan di dalam kesulitan hidup yang tengah dialami, adalah dengan merenungkan bagaimana Allah selama ini telah bertindak dengan setia kepada kita, dan oleh karenanya, tetaplah percaya bahwa Iapun akan tetap setia mengasihi kita. Melalui pengalaman mereka diselamatkan oleh tangan Allah sendiri, ummat Israel harus percaya kepada TUHAN yang telah menyelamatkan nyawa mereka, tetapi juga karena mereka telah menyaksikan bahwa TUHAN selalu setia. Dalam kekuatanNya yang penuh perkasa, Allah telah membebaskan ummat Israel dari perbudakan Mesir melalui sepuluh tulah/ malapetaka yang ajaib. Ia membelah Laut Merah sehingga mereka dapat menyeberang di atas tanah yang kering, dan menenggelamkam pasukan Mesir yang mengejar mereka. Ia memberikan air bersih untuk diminum dan roti untuk dimakan di padang gurun. Ia memberikan hukum-hukum moral dan sipil untuk dipatuhi, dan agar ummatNya dapat hidup lebih sejahtera. Ia memberikan petunjuk tentang Tabernakel/ Kemah Suci untuk sarana penyembahan bagi mereka, serta suatu system korban persembahan agar mereka dapat memperoleh pengampunan atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Ia memberlakukan hari-hari raya ibadah, agar mereka dapat memperingati dan mengingat segala hal-hal baik yang telah dilakukan TUHAN bagi mereka. Ia mengorganisir mereka agar siap berperang. Ia berjanji bahwa Ia akan selalu menyertai mereka dan berperang bagi mereka, jika mereka mau patuh kepadaNya. Dengan demikian, tampaknya kita akan melihat bahwa ummat Israel akan berterima-kasih dan siap untuk berperang dan meraih kemenangan, tetapi ternyata ada masalah di tengah perkemahan Israel ; mulai ada keluhan dan sungut-sungut serta pertikaian.
Yang pertama, orang Israel mengeluh tentang kebosanan mereka atas makanan yang tersedia di perkemahan. Hal ini membuat Allah murka, karena dengan ajaib Allah telah menyediakan makanan bagi mereka, dan makanan tersebut rasanya enak dan juga bergizi tinggi. Ia menghendaki agar mereka merasa puas dan bersyukur dengan berkat yang telah diberikan Allah bagi mereka. Musa sangat tertekan atas keluhan dan sungut-sungut yang ditujukan kepadanya (para pemimpin selalu menanggung beban untuk dipersalahkan), dan kemudian Musa memohon pertolongan Allah. Allah memberi arahan untuk menunjuk 70 tua-tua Israel agar dapat berbagi beban pelayanan, dan Allah memberikan daging (burung puyuh) untuk menjadi makanan ummat Israel. Kemudian saat mereka mulai kenyang makan daging burung puyuh tersebut, Allah menghukum mereka atas dosa bersungut-sungut dan mengeluh. Apakah kita mendapati diri kita sebagai orang yang selalu mengeluh dan bersungut-sungut? Ini dapat membuat Allah menjadi murka. Kita perlu mengembangkan sikap bersyukur atas segala sesuatu yang telah diberikan TUHAN. Hal ini penting tidak hanya bagi diri kita, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita. Sikap yang sering mengeluh dan bersungut-sungut tersebut dapat menular kepada orang lain dan membahayakan iman dan sikap percaya kita kepada TUHAN. Kita perlu berterimakasih atas pemeliharaan TUHAN saat ini bagi diri kita. Sikap ini akan membantu kita untuk dapat menanggung segala kesulitan hidup dan memimpin kita kepada rasa puas dan akan meningkatkan iman kita.
Rupanya bukan hanya terjadi sungut-sungut dan keluhan tentang makanan, tetapi terdapat juga kecaman atas kepemimpinan Musa. Miryam dan Harun menentang Musa oleh karena ia menikahi seorang perempuan suku Kush (kita tidak tahu apa yang terjadi dengan istri Musa yang pertama, Zipporah; mungkin saja ia telah mati). Mungkin saja Harun dan Miryam tidak menyukai perempuan Kush tersebut, ataupun mungkin berpikir bahwa perempuan Kush tersebut dapat melemahkan kedudukan keluarga mereka di mata ummat Israel (The Bible Knowledge Commentary of The O.T. by Walvoord & Zuck, copyright 1985, halaman 228). Mungkin istri Musa, perempuan Kush tersebut dianggap sebagai kafir/ tidak kudus (karena bukan dari kaum Israel). Mungkin saja karena alasan inilah maka Allah membuat Miryam menjadi tidak kudus dengan memberikan penyakit lepra selama seminggu, untuk mengajarnya tentang menentang pemimpin yang diurapi Allah. Memang berbahaya untuk menentang pemimpin-pemimpin yang diurapi Allah, karena berarti juga telah menentang TUHAN, dan Ia akan bertindak untuk membela mereka.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Persoalan dan kesulitan hidup adalah suatu ujian bagi keteguhan karakter kita, dan akan menjadikan diri kita sebagai prajurit milik Yesus Kristus yang lebih tangguh (Yakobus 1 : 2 – 4) ;
- Seringkali tujuan Sang Komandan atas persoalan dan kesulitan hidup yang harus kita hadapi,adalah untuk menghasilkan iman dan daya tahan yang lebih kokoh di dalam TUHAN ;
- Allah dapat menjadi murka atas sikap selalu bersungut-sungut dan mengeluh. Hal itu menyatakan sifat yang tidak bersyukur. Sikap yang selalu bersungut-sungut tersebut dapat menular dan berbahaya bagi pertumbuhan iman dan sikap percaya kita di dalam TUHAN ;
- Rahasia untuk memiliki sikap puas dan dapat bertahan di tengah kondisi kesukaran hidup yang tengah dihadapi, adalah dengan merenungkan bagaimana selama ini Allah telah bersikap setia kepada kita. Kemudian kita dapat mempercayai bahwa Ia pun selalu setia di dalam perjuangan yang kita hadapi saat ini. ;
- Hormatilah para pemimpin yang dipilih Allah dan patuhilah mereka (Ibrani 13 : 7, 17). Allah akan membela para pemimpin yang dipilihNya.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Ketika kita membaca kitab Bilangan 11 : 4-9, khususnya bagian pertanyaan yang dilontarkan ummat Israel di akhir ayat 4 : “Siapakah yang akan memberi kita makan daging?”… Tidakkah pertanyaan yang dilontarkan kepada TUHAN tersebut terdengar sangat aneh? Ummat Israel telah dibawa TUHAN keluar dari perbudakan Mesir dengan berbagai keajaiban yang dinyatakan Allah dan telah mereka saksikan sendiri. Kemudian di ayat 4 – 6, mereka mencoba membesarkan ingatan mereka akan makanan-makanan yang lebh baik di tempat perbudakan Mesir, tetapi telah mengabaikan keadaan mereka yang sebenarnya sangat tertindas selama ratusan tahun di bawah perbudakan Mesir tersebut.
Hal yang sama secara rohani dapat pula terjadi pada diri kita ketika tengah mengalami persoalan atau kesulitan hidup; betapa dengan mudahnya kita mengekspresikan tangisan kekecewaan, keluhan atau sungut-sungut yang mempertanyakan “Siapa yang akan memberi kita makan daging?”, artinya kita sedang mencari penolong yang lain selain TUHAN, dan sedang melupakan kebaikan dan pertolongan-pertolongan TUHAN bagi kita di masa lampau. Kemudian dapat juga terjadi bahwa kita malah ingin kembali berada dalam ‘perbudakan Mesir’, atau hidup yang dikuasai dosa dan kesenangan duniawi (perhatikan di Bil. 11: 4, ada orang yang terjangkit ‘nafsu rakus’, yang dalam bahasa Ibraninya disebut “Ta’avah”, yaitu keinginan kuat untuk mendapat kesenangan yang berdosa, dan kata ini dipakai juga, misalnya, di kitab Kej. 3:6, I Samuel 2 : 16, Mazmur 10 : 3). Menurut pendapat Anda, jika kitapun dicobai untuk mengejar kesenangan yang berdosa, bagaimana cara terbaik untuk mengatasinya?
Lalu jika kitapun secara tidak sadar tengah mempertanyakan TUHAN dengan cara yang sama seperti ummat Israel tersebut di atas, sebaiknya kita sungguh-sungguh sadar bahwa kita telah meragukan kasih dan pertolongan TUHAN yang sanggup membawa kita keluar dari persoalan kita, dan juga yang pasti sanggup juga memelihara hidup kita. Bagikanlah tentang cara-cara terbaik agar iman kita tetap kokoh ditengah berbagai persoalan dan kesulitan hidup, dan kemudian bagikanlah pendapat kita tentang cara terbaik untuk menanggulangi bahaya menulari dan melemahkan iman orang lain juga, oleh karena kekurang percayaan tersebut.
Ayat Hafalan Hari Ini :
- 2 Timotius 2 : 3 “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.”

Shalom,sbg pemerhati,yg sy garisbawahi ayat 16 & 25,ttg 70 tua2 yg semula diharapkn bisa tolong Musa melayani Umat Israel,Tuhan berfirmn,sebagian dari Roh Tuhan yg hinggap dlm Musa, ditaro kedlm 70 tua2 itu.di ayat 25, 70tua2 sprt nabi,tetapi sesudah itu tdk lagi. D ayat29 Musa mengeluh, ah,klo …..
Yang tersimpul oleh sy,dgn Kej 6:3 Roh Tuhan tdk bisa slamanya didalam 70tua2 itu, krn kedagingan,dibanding roma3:23 kemuliaanNya tinggalkn bait Allah,tidak hinggap dtubuh kt yg fana. Hanya sewaktu saja.karna Yesus, Pentakosta,Roh Kudus slama2nya dlm kt Yoh14:16
& pimpin kt kesluruh kebenaran Yoh16:13, evaluasi penerapan:jemaat roma3 tak 1 orgpun cari Tuhan,tentu bkn jemaat GBIK? Roh Tuhan yg hinggap dlm kt sdh kt trima dgn buka hatikita tmpt RK,apkh tiap saat kt dipimpin RK itu?klo org kristen msh sebut,sy rohana ta rohani? Blm mo d pimpin RK,smoga peristiwa Bilangan11:29 Roh Tuhan yg hinggap sewaktu2 aja,sprt jemaat roma3 ? Hilang kemuliaan Allh?ta hinggap lagi, eli eli lama sabahtani,ta hinggap lai,krna Yesus pikul semua dosa sedunia,tentu pendosa jauuuuuh dari Tuhan yg kudus. 7 kata itu kata kunci yg patut kita kaji ulang,ada pesan inti yg terdalam bahkan sebagai manusia yg alami sakitnya daging kita,klo kiamat tertunda tertahan hny semata2 krn Yesus pernah kenali daging kita sewaktu disalibkan,namun sgala hujat diampuni, Ingatlah, yg hujat RK lah yg ta beroleh ampun disini d disana. Amin