Bacaan 16 Maret 2026
1 Samuel 1-3
“Kemudian bernazarlah ia, katanya: ”Tuhan semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada Tuhan untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.””
1 Samuel 1:11
Kisah Hana yang terdapat didalam 1 Samuel 1:1-28 merupakan sebuah kisah luka eksistensial yang lahir dari meja makan (keluarganya sendiri – Penina, madu Hana yang terus menerus menyakiti hatinya). Hana tidak terluka oleh karena suaminya yang kurang cinta, namun karena Penina selalu menyerang sisi krusial dalam kehidupan orang Perjanjian Lama; yaitu keturunan. Ketiadaan keturunan/kemandulan merupakan sebuah situasi yang menyedihkan bahkan memalukan karena hal tersebut diidentikkan kepada ketidakberkenanan Tuhan atas seseorang (hilangnya masa depan, runtuhnya silsilah).
“Oleh karena hal yang menyakitkan, akhirnya Hana datang kepada Tuhan. Ia mengadukan perkaranya kepada Ia yang berkuasa atas alam semesta. Hana tau bahwa harta suaminya tidak bisa memulihkan statusnya dihadapan dunia, maka akhirnya Hana meninggalkan kepercayaannya kepada hal-hal lahiriah itu dan memfokuskan diri kepada Tuhan sebagai sumber pertolongan”
Hana bernazar, dan nazar yang ia ucapkan sangat spesifik (1 Sam.1:11), ini menandakan bahwa Hana bersungguh-sungguh atas apa yang ia ucapkan. Ia juga bernazar sesuai dengan hukum nazir (Bilangan 6) dan menyerahkan anaknya kelak untuk menjadi seorang nazir sepanjang hidupnya. Dalam tindakan tersebut terdapat “makna tersembunyi” yang luar biasa: Hana bergumul bertahun-tahun untuk memiliki anak agar ia tidak lagi dihina. Namun, saat ia akhirnya mendapatkan anak, ia justru melepaskan hak kepemilikannya. Dasar dari keputusan tersebut didasarkan oleh karena Hana ingin bangsanya memiliki pelayan yang didapatkan dari Tuhan. Saat itu Israel sedang dalam krisis kepemimpinan dimana imam Eli sudah tua dan anak-anaknya berlaku jahat. Krisis itulah yang menjadi dasar bagi Hana untuk bernazar menyerahkan anaknya menjadi pelayan Tuhan bagi bangsa; terbukti akhirnya Samuel menjadi seorang Nabi.
“Nazar Hana mengajarkan kita tentang pergeseran motivasi dalam doa. Seringkali doa kita tidak dijawab bukan karena Tuhan tidak mendengar, tetapi karena doa yang kita sampaikan hanya berfokus pada pemuasan ego sendiri“
Nazar Hana adalah bukti bahwa penyerahan total adalah kunci dari kelimpahan dan berkat Tuhan. Ketika Hana menyerahkan Samuel, Tuhan justru memberikannya lima anak lagi di kemudian hari (1 Samuel 2:21). Oleh sebab itu, marilah kita dapat melihat contoh ini untuk diterapkan didalam kehidupan. Dimana kita perlu mencontoh Hana yang tidak menganggap berkat Tuhan sebagai sesuatu yang perlu kita pegang erat-erat sampai akhirnya lupa dengan Sang Pemberi berkat. Namun sebaliknya, biarlah berkat yang kita terima dapat kita serahkan kembali kepada Tuhan untuk Ia kelola; baik itu pasangan, pekerjaan, anak, relasi, talenta, harta maupun jabatan. Karena kalau kita pegang berkat terlalu erat, maka hati kita akan sakit.
Pesan dari kisah ini tidak sedang mengajak kita untuk bernazar seperti Hana. Namun alangkah baiknya jika kita mau, rindu serta siap untuk bernazar. Pesan pentingnya adalah bahwa :
“Sesuatu yang kita dapatkan tidak boleh kita pegang untuk kita nikmati sendiri, namun perlu kita serahkan kepada Tuhan agar Ia yang mengelolanya”
Tuhan Yesus memberkati
YG160326
Pokok Doa SRHI GBIK
Senin, 16 Maret 2016
1. Berdoa bagi keluarga besar Dkn. Danet & Ibu Peggy yang berduka atas berpulangnya Ibunda terkasih (Ibu Eugenie Margriet Amahorseja) agar diberikan kekuatan dan penghiburan.
2. Mengucap syukur atas Ibadah Pagi 1, Sekolah Minggu, Ibadah Pagi 2, Ibadah Sore dan Ibadah Penghiburan yang telah berjalan dengan baik.
3. Berdoa untuk pembangunan insfrastruktur, terutama yang mengambil jalur jalan raya di daerah Jakarta dan sekitarnya, yang saat ini berjalan supaya dapat segera diselesaikan sehingga kemacetan dapat berkurang.
Pokok Doa untuk Cabang Imanuel, Rantauprapat (Sumatera Utara)
1. Berdoa untuk jemaat yang sedang sakit maupun dalam keadaan lemah tubuh supaya Tuhan jamah dan sembuhkan.
2. Berdoa supaya Jemaat Cabang Imanuel Rantauprapat dapat saling menopang satu dengan lainnya sehingga tetap dikuatkan dalam iman dan pengharapan akan kasih Kristus.
3. Berdoa untuk Pdt. Rejeki Pardamean Tambunan supaya Tuhan memberikan hikmat, kesehatan dan kemampuan dalam melayani Jemaat di Cabang Imanuel.
