Disitu ada ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya.
(Yoh. 2:6-8)
Secara umum, ada dua kecenderungan negatif manusia untuk mencapai sesuatu jika keadaannya terjepit atau terhimpit masalah. Kecenderungan yang pertama adalah menyerah pada nasib. Sebagai contoh yang kesannya rohani yaitu orang itu berdoa sepanjang hari dengan sangat yakin bahwa rejeki itu akan datang kapan saja (menanti rejeki turun dari langit) tetapi ia tidak melakukan usaha apa-apa. Kecenderungan yang kedua adalah seseorang berusaha sekuat tenaga, mati-matian dengan kekuatan sendiri serta melupakan Tuhan. Waspadalah saudara, kecenderungan seperti ini tanpa kita sadari juga bisa menghinggapi dan terjadi pada kehidupan orang percaya.
Peristiwa mukjizat yang dilakukan Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita, yaitu mengajarkan keseimbangan antara usaha manusia dan campur tangan Tuhan. Sekarang mari kita perhatikan kisah ini baik-baik saudara! Ketika Tuhan Yesus memberikan perintah kepada pelayan-pelayan yang ada di pesta perkawinan untuk mengisi enam tempayan yang ada penuh dengan air, ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak ada hubungannya dengan permasalahan yang ada yaitu soal kekurangan anggur. Tetapi para pelayan itu tetap melakukan apa yang diperintahkan Yesus kepada mereka. Selanjutnya, perintah Tuhan Yesus kepada para pelayan juga tidak masuk akal lagi. Tuhan Yesus memerintahkan kepada para pelayan supaya air dalam enam tempayan itu dicedok dan dibawa kepada pemimpin pesta. Dapat kita bayangkan saudara apa yang para pelayan pikirkan ketika membawa enam tempayan berisi air putih biasa kepada pemimpin pesta, dan apa yang terjadi serta bagaimana nasib para pelayan seandainya air yang dibawanya itu tetap seperti air biasa? Sudah dapat dipastikan mereka pasti akan menghadapi resiko besar, yaitu malu, dimarahi, bahkan bisa dihukum. Walau demikian, dijelaskan dalam firman Tuhan ini, mereka tetap melakukan apa saja yang diperintahkan Tuhan Yesus kepadanya. Dan luar biasanya lagi, hasil dari ketaatan para pelayan itu membuahkan sukacita bukan hanya kepada pribadi para pelayan itu tetapi bagi semua orang yang ada dipesta itu karena air putih biasa warna dan rasanya berubah menjadi anggur. Hal ini tidak mungkin terjadi jika para pelayan pesta perkawinan itu tidak mau dan taat kepada Yesus untuk melakukan apa yang menjadi bagian atau tugas mereka meskipun Tuhan Yesus bisa saja membuat segala mukjizat terjadi. Dari pelajaran firman Tuhan ini saudara, kita diajar untuk tetap taat dan setia pada perintah Tuhan Yesus meskipun kadang perintah itu kelihatannya terasa aneh untuk kita lihat, dengar dan pikirkan sehingga membuat kecenderungan kita akan lebih mudah melakukan apa yang kita kehendaki. Namun, jika kita memandang perintah Tuhan dengan akal pikiran manusia, maka kita justru akan mengalami banyak kesulitan dan tidak memperoleh hasil yang terbaik bagi kita. Haleluya, Tuhan Yesus memberkati.
(AP19052020)
Pokok Doa:
- Doakan Bangsa dan Negara dalam hal ini Lembaga Pemasyarakatan yg ada di seluruh Indonesia tetap aman tidak ada gejolak dari warga binaan yg ada di dalamnya tetap sehat setelah selesai menjalani masa hukum kembali ke masyarakat hidup baik & takut akan Tuhan.
- Doakan masyarakat Indonesia tetap semangat, sabar dan taat akan aturan dan norma yg berlaku di Indonesia & dapat bergotong royong menghadapi dampak pandemik Covid 19.
- Doakan Jemaat GBIK tetap teguh dalam Iman pengharapan dan pemeliharaan Tuhan di masa masa sulit saat ini dapat menyikapi dengan benar dalam menjalani kehidupan dari hari ke hari yg baru tetap mengandalkan Tuhan.

Buah Prrcaya