PERCAYALAH KEPADA ALLAH
(Kis. 27:14-25)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata percaya berarti mengakui atau yakin bahwa sesuatu itu benar-benar ada, nyata. Juga bisa berarti bahwa percaya itu memastikan diri bahwa sesuatu atau seseorang memiliki kemampuan/kelebihan yang dapat menolongnya. Jadi percaya kepada Allah berarti percaya dengan penuh keyakinan bahwa Allah itu ada, dan keberadaan-Nya itu memiliki kemampuan yang dapat menolong umat manusia. Dia adalah Allah yang Mahakuasa yang berkuasa atas sorga dan dunia, sehingga dapat melakukan perkara-perkara besar yang terkadang melampaui akal pikiran manusia.
Peristiwa perjalanan Paulus menuju Roma melewati lautan luas yang ditulis dalam Kis. 27:1-44, memberi pengajaran besar kepada kita perlunya percaya kepada Allah bahwa Ia baik, Ia Mahakuasa dan mampu menolong kita dalam kondisi apapun juga. Perjalanan itu ditempuh Paulus karena ia naik banding kepada Kaisar di Roma (Kis. 25:11), dan perjalanan itu harus dilaluinya dengan susah payah dan menempuh resiko yang sangat berat karena angina badai yng disebut “angin timur laut”(Kis. 27:14-15). Namun akhirnya Paulus dapat menenangkan diri dan seluruh orang yang berada dalam kapal tersebut yang berjumlah 276 orang (Kis. 27:37). Dengan cara bagaimana Paulus dapat membuat orang dalam kapal tenang dan akhirnya percaya?
- Mendengar firman-Nya. Setelah mereka putus asa, Tuhan berfirman kepada Paulus dan Paulus menyampaikan firman tersebut kepada semua orang yang di kapal, bahwa mereka harus tabah hatinya, sebab tidak ada seorang pun di antara mereka yang akan binasa kecuali kapal yang ditumpanginya (Kis. 27:22). Firman Tuhan tepat datang pada waktu yang sangat kritis dan melegakan. Berawal dari mendengar inilah mereka percaya dan akhirnya selamat. Memang untuk menjadi percaya harus diawali dengan mendengar firman-Nya. “Jadi, iman timbul dari pendengaran, pendengaran akan firman Kristus.” (Rm. 10:17).
- Melakukan firman-Nya. Dimulai dari mendengar firman yang mengatakan supaya tabah, orang-orang dalam kapal itu dengan arahan dari Paulus akhirnya menuruti, melakukan firman itu. Ada yang dengan cepat menurutinya, tapi ada yang sedikit dipaksa menurutinya. Beberapa anak buah kapal ada yang berusaha melarikan diri dengan mau meninggalkan kapal. Mereka sudah menurunkan sekoci, lalu ketahuan dan akhirnya sekoci itu dipotong talinya oleh prajurit-prajurit sehingga sekoci itu hanyut, tetapi anak buah kapal itu belum sempat masuk dalam sekoci. Jadi mereka masih dalam kapal (Kis. 27:30-32). Mendengar firman Tuhan dan melaksanakan firman-Nya untuk tabah, menyebabkan 276 orang dalam kapal itu selamat sekali pun kapalnya hancur.
Dari peristiwa tersebut di atas, kita bisa mengerti bahwa menjadi orang percaya diawali dengan mendengar firman Tuhan dari siapa pun dan kapan pun. Setelah itu apa yang sudah didengar itu diimani, diyakini sebagai suatu kebenaran. Iman yang dimiliki mengharuskan untuk melaksanakan setiap firman yang didengar tersebut. Sampai di situ genaplah ia disebut sebagai orang percaya. Jadi orang percaya bukan sekedar telah mendengar firman Tuhan, tetapi harus menindaklanjuti dengan melaksanakan firman tersebut. Sehubngan dengan kondisi saat ini, marilah kita tetap setia mendengar firman-nya sekalipun melalui aplikasi medsos yang ada, mari kita laksanakan kebenaran firman Tuhan tersebut dengan penuh kesadaran dan ketulusan, pastilah Tuhan akan berkenan kepada kita dan memberi yang terbaik kepada kita. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
