“17:18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; 17:19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. 17:20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 17:21 supaya mereka semua menjadi satu , sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku , supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: 17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”
(Yohanes 17:18-23)
Pengudusan adalah kata kerja sekaligus kata sifat. Alkitab menyatakan bahwa kita harus kudus, sama seperti Allah adalah kudus (1 Pet. 1:16). Kita harus hidup tidak bercela dan tidak bercemar di dunia ini, sama seperti Allah yang tanpa dosa. Kudus yang dimaksud di sini adalah kata sifat. Kita dalam keadaan kudus. Namun kudus adalah kata kerja, seperti halnya dalam Yohanes 17:17 ketika Yesus berdoa agar Bapa menguduskan para murid. Makna kata kerja ini berarti dikhususkan atau didedikasikan. Kita adalah orang-orang kudus, dalam pengertian kita dipisahkan dari dunia ini untuk menjadi milik Allah selama-lamanya.
Kalau kita melihat dari konteks Yohanes 17, Yesus berdosa supaya Bapa menguduskan para murid. Kemudian la berkata bahwa “sama seperti Engkau mengutus Aku, demikian pula Aku mengutus mereka.” Artinya para murid dikuduskan (didedikasikan) untuk menjadi pemberita kebenaran. Kita tidak bisa memilih bahwa kita mau dikuduskan untuk menjadi milik Allah dan menerima. warisan sorga saja. Semua orang kudus harus berdedikasi untuk pemberita kebenaran.
Sudah tiga tahun Yesus bersama para murid. Yesus mengajar, mendidik, melatih dan mementor mereka. Sudah saatnya mereka praktek penginjilan secara pribadi. Tidak ada penundaan, tidak ada tambahan waktu. Waktunya sudah cukup bagi mereka. Apa yang diharapkan dari orang-orang sederhana tersebut, yang imannya masih goncang ketika Yesus disalibkan. Tetapi Yesus tetap pada keputusan-Nya. la harus pergi dan meninggalkan tugas untuk para murid. Tidak butuh waktu lama, hanya berselang 10 hari setelah Yesus meninggalkan mereka, Petrus yang telah menyangkal Tuhan memberitakan Injil dengan berani. Hal ini menjadi intropeksi bagi kita. Butuh berapa lama kita belajar dan belajar Firman Tuhan untuk dapat menjadi pemberita Injil. Sudah berapa lama kita menjadi seorang yang “tahu segalanya” akan Alkitab tetapi tidak pernah memberitakan kepada orang lain. Petrus dan Yohanes bukanlah orang terpelajar, tetapi ketaatan mereka kepada Tuhan membuat mereka menjadi pemberita Firman Tuhan yang efektif.
Doa berikutnya dari Yesus adalah “supaya mereka menjadi satu”. Kesatuan kita bukanlah kesatuan yang kita usahakan. Kita sudah bersatu dengan Tuhan sehingga kita pun sebagai orang percaya sudah menjadi satu. Sayangnya banyak orang percaya tidak memperlihatkan kesatuan itu kepada orang lain. Sehingga yang mereka lihat adalah perpecahan dan pertengkaran. Kita baca dalam Kisah Para Rasul bahwa semua jemaat itu sehati sepikir dan bersatu. Sehingga, seperti yang Yesus katakan dalam ayat 23 bahwa mereka mengenal Bapa. Ini terbukti ketika jemaat mula-mula dimana Allah menambah jiwa mereka yang diselamatkan.
