“Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.” (2 Petrus 3:15)
Firaun jatuh dalam dosa kesombongan di mana ia mengeraskan hatinya sendiri terhadap Allah sebelum akhirnya Allah mengeraskan hatinya. Firaun merasa dirinya seorang pemimpin yang tidak pantas diarahkan, ia juga bermegah atas kekayaan dan kekuasaannya hingga mengesampingkan Allah. Memang Firaun notabene adalah seorang yang tidak percaya kepada Allah, tetapi semasa hidupnya ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri mengenai perbuatan–perbuatan dahsyat Allah. Namun Firaun tetap saja tidak mau percaya akan Allah karena hati dan matanya telah tertutupi kesombongan.
Hal yang sama bukankah terjadi juga dalam kehidupan orang percaya? Memang mungkin kita tidak sekejam Firaun yang sampai mengeraskan hatinya, namun kita tidak jauh beda dengan Firaun yang akhirnya melupakan Allah ketika kita sudah memiliki dunia ini. Hal ini menjadi ironi yang menyedihkan karena orang percaya seharusnya tidak boleh terjerumus dalam kenyamanan dunia sampai melupakan realitas kekekalan.
Apa yang terjadi pada Firaun seharusnya dapat menjadi pengingat bagi setiap kita bahwa apa yang kita miliki sekarang dapat dengan mudah dihapuskan Allah. Mungkin saat ini Allah sedang berada dalam masa kesabaran-Nya ketika Ia melihat kita terfokus pada dunia dan melupakan-Nya, namun pada suatu waktu yang cukup, Ia akan memberi pelajaran untuk kita. Ingatlah bahwa Allah mengasihi kita dengan keadilan-Nya karena Ia adalah Kasih dan Adil.
Oleh karena itu, marilah kita bersikap rendah hati dihadapan-Nya. Dengarkan setiap nasihat yang Allah berikan melalui pembacaan perenungan Firman dan khotbah. Lihatlah dengan ketulusan hati perkara dahsyat yang telah Allah tunjukkan kepada kita agar kita senantiasa terpesona dan tidak mendua. Mulailah melatih diri dengan sikap ketertundukkan agar kita dapat memposisikan diri sebagaimana mestinya. Karena mata Allah menjangkau dan melihat setiap kita (Am.15:3; 5:21; 2 Taw.6:20; Ay.34:21; Mzm.34:15; 113:6; Yer.16:17; 32:19; Zak.4:10; Ibr.4:1,13; Peng.3:12), maka apapun yang kita lakukan harus berorientasi kepada-Nya (Kol.3:23). Tuhan Yesus memberkati.
(YG14082024)
Pokok Doa GBIK:
- Berdoa untuk pelayanan dan kesehatan Pendeta Agus Panrimo dan Ibu Leli Panrimo, Pdt. Em. Julianus Tarapa dan Ibu Julia Tarapa, para Diakon dan keluarga.
- Berdoa untuk Organisasi dan Kepanitiaan GBIK dalam mempersiapkan calon ketua dan anggota untuk periode pelayanan tahun 2025.
- Berdoa untuk program-program pemerintahan saat ini dapat diselesaikan dengan baik sebelum masa tugas berakhir.
Pokok Doa Cabang IMANUEL, Rantau Prapat, Sumatera Utara
- Doakan kiranya kehadiran Sekolah Minggu dapat bertambah jumlahnya.
- Doakan penjangkauan dan penginjilan gereja kiranya jemaat dapat memberanikan diri dalam menjangkau jiwa baru.
- Doakan jemaat yang sedang merantau baik yang kuliah dan bekerja di luar kota: Siska, Fitri, Dinda, Maria, Ester.
