Bacaan Alkitab : Imamat 5 : 1 – Imamat 7 : 38
(Kurun waktu : diperkirakan 1.446 – 1.444 S.M.)
“Rasa Bersalah dan Tanggung Jawab”
download versi word file : Renungan Harian – Tgl 17 Februari 2017
Siapa yang pecahkan lampu ini? Bukan saya! Siapa yang menggores mobil saya? Bukan aku! Siapa yang mencoret-coret dinding ini? Bukan saya! “Bukan saya” biasanya jawaban yang umum ketika disalahkan, tetapi kita tahu bahwa ada yang bersalah dan harus bertanggung-jawab. JIka Anda adalah orang tua dari anak-anak yang masih kecil, ataupun seorang pengasuh atau guru anak-anak, biasanya Anda dapat mengenali siapa yang berbuat salah, dengan melihat wajah mereka, atau kepala yang menunduk dan menolak untuk melihat mata Anda. Tetapi sayangnya ketika anak-anak mulai beranjak dewasa, mereka belajar bagaimana cara berbohong, sehingga ketika menjadi seorang remaja dan pemuda, mereka sudah pandai berbohong. Tetapi apakah kondisi ini yang dikehendaki Allah? Tidak, Ia menghendaki ummatNya untuk mengakui kesalahan mereka dan bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan mereka. Bagi ummat Israel, Allah memberikan perintah-perintah yang khusus berkenaan dengan tanggung-jawab ini. Meskipun bagi kita instruksi-instruksi yang diberikan kepada orang Israel tersebut tidak persis sama, tetapi dari Renungan Harian hari ini kita dapat belajar tentang bagaimana menghindarkan diri dari kesalahan-kesalahan. Di dalam Renungan Harian hari ini, kita juga akan melihat tanggung-jawab tambahan bagi para imam berkenaan dengan korban bakaran, penghapus dosa, korban sajian, korban keselamatan dan korban penebus salah. Ketentuan-ketentuan ini mengajar kita bahwa jika kita bertanggung-jawab dan setia menjalankan tugas-tugas kita, kita akan mendapat bagian yang terbaik dari Allah. Kita akan hidup di dalam persatuan dan persekutuan yang erat dengan Allah. Kita tidak harus menjalani kehidupan yang bersalah/ bercela di hadapan TUHAN.
Korban yang sangat mirip dengan korban penghapus dosa adalah korban penebus salah. Untuk korban penebus salah ini, yang dijadikan persembahan adalah seekor domba jantan yang tak bercela. Orang yang miskin dapat membawa persembahan berupa domba yang yang tak bercacat, atau dua ekor burung merpati atau burung tekukur, dan orang Israel yang paling miskin dapat juga mempersembahkan 2 liter tepung yang terbaik, yang harus diletakkan di atas hewan korban yang dibakar di api di atas mezbah. Setelah hewan atau burung untuk korban persembahan tersebut disembelih, darahnya dipercikkan di setiap bagian mezbah, dan sisanya dituangkan di dasar mezbah. Hanya bagian darah dan lemak hewan korban yang dipersembahkan di mezbah perunggu tersebut ; bagian yang terbaik dari daging hewan dan burung korban persembahan tersebut akan diberikan kepada para imam sebagai makanan bagi mereka (terkecuali korban penebus salah tersebut dilakukan untuk kesalahan mereka). Selebihnya dari potongan-potongan daging hewan kurban tersebut akan diletakkan di luar kemah dan dibakar. Ada tiga bagian dari korban penebus salah, dua dari antaranya tidak terdapat di dalam korban penghapus dosa. Yang pertama, adanya pengakuan dosa yang telah dilakukan terhadap Allah ataupun manusia, entah disengaja ataupun tidak. Yang ke dua, pengakuan dosa ini dilanjutkan dengan hukuman, yaitu korban penghapus dosa. Yang terakhir, suatu pembayaran ganti rugi sepenuhnya dilakukan atas hal yang menyebabkan dosa tersebut terjadi, ditambah 20% atas jumlah tersebut, jika memungkinkan ataupun jika hal tersebut pantas dilakukan.
Kebanyakan dari kita bukanlah orang Israel. Apakah yang harus dilakukan jika kita bersalah telah melakukan dosa terhadap Allah, anggota keluarga, tetangga, rekan sekerja ataupun bahkan terhadap orang lain yang tidak kita kenal? Yang pertama, sama seperti yang berlaku terhadap orang Israel, kita perlu bertanggung-jawab atas hal tersebut. Kita perlu mengakui kesalahan / dosa tersebut kepada orang-orang yang telah kita sakiti tersebut, entah kesalahan / dosa tersebut disengaja ataupun tidak. Segera setelah kita menyadari akan kesalahan tersebut, sedapat mungkin kita perlu mengakuinya.Ini merupakan hal yang sulit, terutama jika kita terbiasa untuk mencari-cari alasan atas sikap kita yang salah, ataupun menyalahkan orang lain untuk hal tersebut. Mari Bapak/Ibu/Saudara, inilah waktunya untuk bangkit mengambil tanggung-jawab yang memang harus dilakukan. Inilah waktunya untuk merendahkan diri dan mengakui jika kita memang bersalah.
Hal yang ke dua, kita perlu memohon pengampunan TUHAN. Berbeda dengan hewan korban yang dipersembahkan oleh orang Israel, Kristus Yesus adalah korban yang sempurna untuk membayar lunas seluruh dosa kita; Ia adalah korban penghapus dosa dan penebus salah bagi kita.
Darah kambing dan lembu jantan, serta percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang dianggap najis menurut upacara penebusan dosa tersebut, sehingga secara lahiriah kemudian mereka dikuduskan (Kita akan melihat lebih lanjut tentang upacara ini pada pasal-pasal selanjutnya di dalam kitab Imamat). Namun betapa jauh lebih kudus lagi, darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup (Ibrani 9 : 13 – 14).
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (I Yoh. 1 : 9).
Yang ke tiga, sama seperti terhadap orang Israel, jika memungkinkan, kita perlu memberikan ganti rugi atas kesalahan yang telah kita lakukan. Apakah kita perlu menambahkan 20% dari nilai kesalahan tersebut sebagai pembayaran ganti rugi? Tidak ada perintah di Perjanjian Baru mengenai hal ini. Namun demikian untuk beberapa kasus, jika kita mau mengikuti prinsip ini, tentunya akan mengurangi jumlah tuntutan hukum di masyarakat, karena dengan demikian kita menempatkan diri kita sebagai pribadi yang jujur dan mau melakukan hal-hal yang benar. Hukuman denda yang harus dibayar dapat juga menjadi alat pencegah atas terjadinya pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut.
Sejauh ini, penekanan tentang persembahan-persembahan korban di dalam kitab Imamat utamanya baru berfokus pada setiap individu orang Israel. Banyak instruksi juga telah diberikan kepada para imam berkenaan dengan korban-korban persembahan tersebut. Sekarang fokus kitab Imamat bergeser pada tanggung-jawab tambahan bagi para imam berkenaan dengan persembahan-persembahan korban tersebut.
Untuk persembahan korban bakaran, para imam diharuskan menjaga agar api yang ada di atas mezbah perunggu tersebut tetap menyala. Mengapa? Mungkin ini melambangkan kesediaan Allah untuk menerima persembahan ummatNya. Setiap saat jika kita mau datang menghampiri Allah untuk memohon pengampunanNya, Ia selalu siap untuk mengampuni kita ataupun menerima persembahan korban pujian dan dedikasi kita.
Setiap saat ketika abu bekas korban bakaran akan dipindahkan dari atas mezbah perunggu, para imam yang akan memindahkan abu tersebut harus mengenakan pakaian linen yang bersih sebelum melakukan tugas tersebut (dengan anggapan bahwa mezbah tersebut adalah suci, dan dikhususkan bagi Allah), dan kemudian imam tersebut diharuskan untuk menukar pakaiannya dengan pakaian yang biasa, untuk membawa abu tersebut keluar dari perkemahan, ke tempat yang telah ditahirkan menurut upacara tersebut.
Ketika para imam mempersembahkan korban sajian di hadapan TUHAN, mereka diharuskan mempersembahkan segenggam penuh tepung terbaik dengan minyak serta kemenyan yang ada di atas korban sajian tersebut sebagai bagian dari upacara persembahan korban sajian tersebut, dan selebihnya dari persembahan tersebut harus dimakan oleh para imam dan keluarganya. Pengecualian yang ada, tentang kewajiban imam untuk memakan habis sisa korban sajian tersebut, adalah jika persembahan korban sajian tersebut merupakan persembahan dari seorang imam, ataupun jika dilakukan saat pengurapannya untuk memangku jabatan imam. Dalam hal ini, maka seluruh korban sajian tersebut harus didedikasikan sepenuhnya bagi Allah saja.
Sama seperti persembahan lainnya, korban penghapus dosa merupakan persembahan yang sangat kudus dan segala sesuatu yang menyentuh korban penghapus dosa tersebut akan menjadi kudus pula. Yesus Kristus adalah Korban Penebus Dosa bagi kita.
“ … Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus…..Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” (Ibrani 10 : 10, 14).
Adalah hal yang menarik untuk dikemukakan berkenaan dengan hal ini, bahwa ketika Yesus menyembuhkan orang yang sakit, beberapa orang menyatakan iman mereka dengan berkata bahwa jika saja mereka dapat menyentuhNya, maka mereka akan disembuhkan. Dan orang-orang sakti yang melakukan hal tersebut memang disembuhkan dan dipulihkan sepenuhnya (Mat. 9 : 20-21, Mat.14 : 35-36, Mark. 3 ; 10, Mark.6 : 56, Mark. 8 : 22, Luk. 5 : 12-13, Luk. 6 : 19). Saat Yesus menyentuh roh kita, maka Ia juga menyembuhkan jiwa kita yang berdosa dan menjadikan kita pribadi yang kudus.
Ketentuan tambahan untuk korban penebus salah dan korban penghapus dosa sangat mirip sifatnya; para imam dapat memakan bagian yang baik dari tubuh hewan kurban tersebut setelah mempersembahkan darah dan lemak hewan kurban tersebut. Tanggung jawab pribadi untuk tugas keimaman tersebut, kemudian mendapatkan imbalan yang sesuai. Inilah prinsip tugas keimaman bagi para imam yang bertugas tersebut :
“ (7:7)Seperti halnya dengan korban penghapus dosa, demikian juga halnya dengan korban penebus salah; satu hukum berlaku atas keduanya: imam yang mengadakan pendamaian dengan korban itu, bagi dialah korban itu. (7:8)Imam yang mempersembahkan korban bakaran seseorang, bagi dia juga kulit korban bakaran yang dipersembahkannya itu. (7:9) Tiap-tiap korban sajian yang dibakar di dalam pembakaran roti, dan segala yang diolah di dalam wajan dan di atas panggangan adalah bagi imam yang mempersembahkannya.
(7:10) Tiap-tiap korban sajian yang diolah dengan minyak atau yang kering adalah bagi semua anak-anak Harun, semuanya dapat bagian.” (Imamat 7 : 7-10).
Mereka yang telah melakukan tanggung-jawab pelayanannya dengan baik dan juga yang setia terhadap tugas pelayanan tersebut,layak menerima bagian yang terbaik dari Allah ( I Petr. 1 ; 15-16, Imamat 11 : 44 – 45, Imamat 19 : 2, Imamat 20 : 7).
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Apa yang harus dilakukan saat kita bersalah telah melakukan suatu dosa ?
Hal pertama, bertanggung-jawablah atas hal tersebut. Akuilah dosa di hadapan Tuhan ;
Yang ke dua, mohonkanlah pengampunan Tuhan ;
Hal yang ke tiga, jika memungkinkan dan patut dikerjakan, lakukanlah ganti rugi sepenuhnya atas kerugian dan kesalahan tersebut ;
- Kita dapat memiliki pilihan untuk hidup dalam persatuan dan persekutuan yang erat dengan Allah. Kita tidak perlu tetap menjalani hidup di dalam kesalahan/ dosa. Kita dapat memperoleh damai dari Tuhan ;
- Para pelayan Tuhan yang melakukan tanggung-jawabnya dengan baik dan setia, layak mendapat bagian terbaik dari Allah ;
- Hendaknya kita menjadi kudus dalam seluruh kehidupan kita, sebab Allah itu kudus.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Dalam kitab Imamat 5, kita melihat penjelasan lebih detail lagi tentang “dosa yang dibuat dengan tidak sengaja” di hadapan Tuhan yang sebelumnya telah disebutkan di Imamat 4, dengan menyebutkan dosa-dosa yang terjadi karena kita mengabaikan hal-hal yang sebenarnya adalah dosa. Atau, dosa-dosa yang tidak disengaja tersebut berarti segala pelanggaran yang kita sebenarnya tidak ingin/ tidak suka untuk melakukannya, ataupun juga dosa-dosa tersembunyi yang tidak kita ketahui bahwa kesalahan tersebut telah kita lakukan, misalkan saja ketika mengabaikan untuk lebih mengasihi dan menghormati Tuhan, mengasihi sesama dan melakukan perintah Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh lagi. Jika orang Israel dituntut bahkan untuk memperhatikan setiap dosa yang tidak disengaja tersebut, lalu bagaimana hal nya dengan sikap kita terhadap setiap bentuk dosa?: mungkin juga dosa tersebut belum tercetuskan atau masih dalam bentuk pikiran, tetapi dapat juga berupa hal-hal yang “sengaja kita lakukan walaupun tahu bahwa hal tersebut adalah dosa” dan perbedaan diantara kedua jenis dosa tersebut terletak pada hati orang yang melakukannya. Seberapa peka kah kita terhadap bahaya yang dapat terjadi akibat dosa-dosa tersebut dan dampaknya terhadap hubungan persekutuan kita dengan Tuhan? Lalu seberapa besarkah kita memerlukan pengampunan dan penyucian atas dosa-dosa tersebut? (Perhatikan juga kitab Ibrani 10 : 26 – 29).
Ayat Hafalan Hari Ini :
- I Yoh. 1 : 9 “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”
