“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”(Yoh. 10:27)
Domba merupakan hewan yang paling sering dikutip untuk sebuah perumpamaan atau penggambaran dalam Alkitab. Bahkan sejak Perjanjian Lama, domba telah mengambil peran di dalam upacara korban. Namun di tengah peran domba yang sangat signifikan tersebut, ia memiliki kelebihan – kekurangan yang ternyata menggambarkan kehidupan orang percaya yaitu mengenal suara gembala (+) tetapi memiliki jangkauan penglihatan yang pendek (-).
Pertama, seekor domba memiliki kelebihan mengenal suara gembalanya dengan baik. Hal ini bukanlah sebuah asumsi saja melainkan sebuah fakta yang memiliki bukti empiris serta dikuatkan oleh pernyataan Tuhan Yesus Kristus yang terdapat di dalam Yohanes 10:27-30. Sebagai orang percaya, kita sudah pasti akan menempatkan suara Tuhan di barisan terdepan untuk menjalani kehidupan baik untuk mengatasi persoalan, mengambil keputusan maupun untuk laku kehidupan. Namun yang menjadi “PR”nya adalah orang percaya tidak selalu mengandalkan suara Tuhan untuk menjalani kehidupannya sehingga orang percaya tersesat dan mengalami hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Suara Tuhan yang telah tertulis di dalam Kitab Suci sudah seharusnya menjadi tuntunan mutlak bagi kehidupan orang percaya. Sebagai orang percaya yang memiliki kelebihan mengenal suara Gembalanya dengan baik, maka suara Gembala yang kita dengar harus kita ikuti sehingga kita tidak tersesat, hilang atau mati.
Kedua, seekor domba memiliki penglihatan yang cenderung pendek. Domba hanya memiliki penglihatan jelas sekitar 5 meter saja. Oleh karena itu domba lebih mengandalkan indra pendengarannya yang begitu baik untuk mendengar suara gembala dan untuk menjalani kehidupannya. Dengan kekurangan tersebut, maka domba sudah sepatutnya berhati-hati dalam melangkah dan tidak mengambil sebuah keputusan tanpa melibatkan suara gembala. Suara gembala perlu menjadi perhatian utama sehingga domba tidak tersesat, hilang dan mati. Suara Gembala yang tertulis di dalam Kitab Suci diibaratkan sebagai sebuah pelita (Mzm.119:105) yang hanya menerangi langkah demi langkah. Tujuan sebuah pelita adalah agar orang percaya berjalan tidak tergesa-gesa, menghindari jurang atau batu sandungan serta yang paling penting agar orang percaya dapat mengandalkan selalu pelita/suara Gembala itu.
Kelebihan dan kekurangan kita sebagai domba mengarah khusus kepada suara Gembala. Dan sudah sepatutnya kita mengandalkan suara Gembala untuk menjalani semua aspek dalam kehidupan kita. Jangan sampai berjalan dengan pengertian sendiri (Ams. 3:5), andalkan suara Gembala agar tidak tersesat, hilang atau mati.
Tuhan Yesus memberkati
Pokok Doa GBIK:
(YG080524)
- Berdoa untuk jemaat yang sudah pensiun dan usia lanjut agar diberikan kesehatan dan berkat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan selalu bersukacita.
- Berdoa untuk seluruh anggota Panitia Kunjungan GBIK agar diberikan kesehatan dan perlindungan Tuhan dalam menjalankan tugas pelayanannya, sehingga jemaat dapat merasakan kasih Tuhan melalui pelayanan mereka.
- Berdoa untuk Badan Usaha Pemerintah yang mengatur kebutuhan rakyat banyak (BULOG, PLN, Pertamina, dll.) agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik demi kesejahteraan rakyat Indonesia.
Pokok Doa Cabang IMANUEL, Rantau Prapat, Sumatra Utara
- Doakan untuk kegiatan Sekolah Minggu, kiranya semakin bertumbuh baik dan jumlah kehadiran semakin bertambah.
- Doakan jemaat yang saat ini sedang merantau (kuliah/belajar/bekerja di luar kota,) selalu diberkati Tuhan; Ester, Fitri, Siska, Dinda, Lena, Yohana.
- Doakan anak-anak berhasil dalam melaksanakan ujian akhir SD, SMP, SMA; Ari, Tiara, Grace, Yemima.
