“Kerana kamu berharap kepada Tuhan, bersukacitalah. Bersabarlah semasa mengalami kesusahan dan berdoalah sentiasa. Hendaklah kamu berkongsi milik dengan saudara seiman yang memerlukan bantuan, dan sambutlah saudara seiman yang tidak kamu kenal ke rumah. Berdoalah kepada Allah supaya Dia memberkati orang yang menganiaya kamu. Mintalah Allah memberkati mereka, dan janganlah minta Allah mengutuk mereka. Bersukacitalah dengan mereka yang bersukacita, dan menangislah dengan mereka yang menangis. Hendaklah kamu semua hidup rukun. Janganlah bersikap sombong, janganlah tolak tugas yang dipandang rendah. Janganlah anggap diri kamu lebih bijak daripada yang sebenarnya. Jika seseorang berbuat jahat terhadap kamu, janganlah balas dia dengan kejahatan. Berusahalah untuk melakukan apa yang dianggap baik oleh semua orang. Dengan sedaya upaya, berusahalah untuk hidup damai dengan semua orang. Saudara-saudaraku! Jangan sekali-kali balas dendam; biarlah Allah yang membalas dendam. Di dalam Alkitab tertulis, “Aku akan membalas kejahatan mereka. Aku akan menghukum mereka, firman Tuhan.” Janganlah balas dendam, tetapi lakukanlah apa yang tertulis di dalam Alkitab, “Jika musuhmu lapar, berilah dia makan; jika dia dahaga, berilah dia minuman. Kerana dengan berbuat demikian, kamu akan membuat dia malu.” Janganlah biarkan diri kamu dikalahkan oleh kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”(ROMA 12:12-21)
Sebagai orang Kristen sudah seharusnya kita semua memiliki karakter seperti Kristus! Karena Kristuslah pusat kehidupan semua orang percaya. Salah satu karakter Kristus adalah kasih (Yoh. 3:16; 10:10). Itu sebabnya kasih menjadi dasar ajaran Kristus yang harus dilakukan oleh setiap orang Kristen (1 Kor. 13:1-3, 13). Dengan kasih pula kita bisa hidup bersama dalam damai sejahtera.
Kasih adalah sikap hati yang mau memberi dan mau menempatkan nilai pada orang lain, dengan menanggalkan apa yang ada bahkan diri kita sendiri dalam upaya menguntungkan orang lain seperti yang Tuhan Yesus Kristus lakukan untuk kita. Namun pertanyaannya: Apakah saat ini kita sudah menjadikan Kristus pusat kehidupan kita? Apakah saat ini kita sudah menerapkan ajaran kasih Kristus yang membuat kehidupan bersama memiliki damai sejahtera itu?
Sekarang kita perhatikan, apa yang melatarbelakangi Rasul Paulus memberi pengajaran supaya kasih itu hendaklah jangan pura-pura, jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik supaya ada damai sejahtera dalam. kehidupan bersama (ay. 9)? Rasul Paulus tahu betul bahwa kasih itu dasar dari pelayanan, dan setiap pelayan Tuhan atau tubuh Kristus dengan berbagai karunia yang berbeda-beda, maka bisa saja terjadi perselisihan dalam tubuh Kristus (ay. 3-8). Ini berarti sudah dapat dipastikan bahwa dalam hal apapun termasuk pelayanan pasti diperhadapkan dengan orang yang memiliki karakter bermacam-macam, dan bahkan mungkin menyakiti kita. Dan supaya kita bisa menciptakan damai sejahtera dalam kehidupan bersama maka: Hendaklah kita saling mengasihi satu sama lain dengan mesra seperti orang-orang yang bersaudara dalam satu keluarga, dan hendaklah saling mendahului memberi hormat (ay. 10-12).
Untuk dapat terus menciptakan damai sejahtera dalam kehidupan bersama, hendaklah kita juga menerapkan kasih itu dalam hal membantu (ay. 13), dengan cara kita menyangkal diri, mengingat, dan menghargai pengorbanan Tuhan Yesus yang mati di atas kayu salib bagi kita (ay. 14-20).
Saudaraku yang terkasih, marilah kita kalahkan kejahatan dengan kebaikan (ay. 21) dan hidup dalam kasih-Nya supaya ada damai sejahtera dalam kehidupan bersama. Selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati.
