““Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit,maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.”(YAK. 1:2-8)
Menjalani kehidupan yang sulit dan penuh berbagai macam pencobaan adalah sesuatu yang melelahkan setiap manusia. Bahkan beragam kesulitan dan pencobaan itu membuat manusia sering putus asa dan tidak tahu kemana arah dan tujuan hidup manusia. Kesulitan membuat perut melilit, kepala pening, susah bernafas lega, susah tidur, bahkan susah makan. Tetapi ingatlah! Kesulitan hidup manusia itu bukanlah peristiwa yang terjadi secara acak. Orang-orang yang mengerti bahwa Allah bekerja di dalam dan melalui setiap kesulitan yang dihadapinya tahu betul bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dirinya dalam setiap masalah yang dihadapinya. Sebaliknya, dengan sifat-Nya yang penuh kuasa, Allah membangun dengan baik suatu struktur yang menopang kita (anak-anak-Nya) agar dapat menjalani proses tersebut disepanjang jalur dan batasan yang telah dirancang-Nya dengan cermat. Bahkan ketika keadaan bertambah penat, tidak menentu dan berliku-liku sehingga kita merasakan dukungan dan bimbingan-Nya, kita masih ditopang dengan kuatnya. Harapan satu-satunya tatkala kita harus melalui semua pengalaman sulit tersebut adalah dengan bertahan dan berpegang kuat-kuat. Ketika kesulitan mengusik kenyamanan kita, ada dua hal yang kita butuhkan: Kebutuhan untuk memahami apa yang kita alami (untuk mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan sulit yang menyesaki pikiran dan hati kita), dan kebutuhan kita akan pemulihan (untuk merasa lebih baik sehingga dapat menyelesaikan masalah yang kita hadapi). Dari kedua kebutuhan itu, pemahaman adalah kunci agar kita dapat menangani masalah secara efektif hingga tiba pada penghujungnya. Tanpa pemahaman yang dapat memberikan jawaban yang tepat, kita akan kehilangan arah dan harapan yang membawa rasa aman. Bapak, Ibu, dan Saudara terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus. Lihatlah siapa diri kita sebenarnya! Kesulitan membuat kita menilik diri sendiri dan bagian-bagian yang perlu diubah supaya kita dapat bertumbuh semakin serupa dengan Kristus dan itu, tentu saja, merupakan maksud dari – penebusan diri kita (Rm. 8:28-29) dan salah satu maksud Allah dalam pencobaan (Yak. 1:2-4). Tuhan Yesus memberkati.
