“Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya”
(Matius 21:12-14)
Dalam Kitab Injil Matius 21:1-17 Rasul Matius mencatat beberapa peristiwa menjelang saat terakhir hidup Tuhan Yesus sebelum Ia disalibkan. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya pergi ke kampung dan menemukan seekor keledai betina beserta seekor anaknya, tertambat. Yesus menyuruh mereka untuk melepaskan keledai itu dan membawa keduanya kepada Yesus.
Maka pergilah murid-murid itu dan melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya. Orang-orang yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Mereka berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” Apa yang dialami oleh Tuhan Yesus ini merupakan penggenapan firman Tuhan yang dinubuatkan oleh nabi Zacharia (9:9). Ketika Yesus masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: “Siapakah orang ini? Orang banyak itu menyahut: “Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea.”
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”. Dalam Injil Yohanes 2:14 tertulis: “Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ”. Kita bisa membayangkan dan memahami mengapa Tuhan Yesus menjadi marah dan bertindak keras terhadap mereka yang tidak menghormati fungsi Bait Allah. Mereka menjadikan Bait Allah bagaikan pasar dan bukan tempat untuk beribadah dan berdoa kepada Tuhan.
Pembaca SRHI yang dikasihi Tuhan, mari berhenti sejenak dan merenungkan bagaimana seharusnya sikap orang Kristen terhadap rumah ibadah. Ketika mereka mengikuti ibadah di dalam ruang ibadah / gedung gereja, menurut pendapat Anda apakah ketika kita sudah berada di dalam ruang ibadah, kita masih bebas bercakap-cakap dengan orang lain atau seharusnya kita menenangkan diri dan menyiapkan hati dan pikiran kita untuk berbakti? Menurut pendapat Anda apakah sesudah berada di dalam ruang ibadah kita boleh membuka HP untuk memeriksa WA yang Anda terima atau chating dengan teman ? Menurut pendapat Anda, apabila sudah berada di dalam ruang ibadah, kita masih boleh menikmati makanan atau minuman yang kita bawa dan menikmatinya di dalam ruang ibadah?
Kalau kita merenungkan renungan SRHI hari ini, sangatlah jelas Tuhan Yesus menginginkan kita menggunakan ruang ibadah sebagai tempat untuk menyembah dan beribadah kepada Tuhan. Menjadikan ruang ibadah sebagai rumah doa.
Ada satu hal lagi yang Tuhan Yesus lakukan dalam Bait Alah setelah membersihkan Bait Allah dari para pedagang. Firman Tuhan dalam Matius 21: 14, 15 memaparkan: “Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. Tetapi ketika imam-imam kepala serta ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: “Hosana bagi Anak Daud!”. Hati mereka menjadi sangat jengkel”. Terlihat dengan nyata bahwa Tuhan Yesus menjadikan Bait Allah sebagai tempat untuk menyembuhkan orang dan juga tempat untuk menyanyi dan memuji Tuhan.
Marilah kita menjadikan rumah ibadah sebagai tempat untuk beribadah kepada Tuhan serta tempat pemulihan bagi setiap orang.
(JET08092023)
Pokok Doa GBIK:
- Doakan Para Pendeta dan Hamba Tuhan beserta keluarga mereka yang melayani jemaat di cabang-cabang GBIK;
- Doakan hikmat Tuhan bagi para pemimpin negara ASEAN setelah mengikuti KTT , terus setia mengabdi bagi kesejahteraan bangsa mereka dan memimpin dengan takut akan Tuhan;
- Bersyukur telah terlaksana nya KTT ASEAN dengan kondisi yang aman dan bersatu;
Pokok Doa Cabang SEKADAU, Kalimantan Barat
- Doakan Pada bulan September akan memulai kelas baptisan kepada 4 orang, dapat berjalan dan jadi berkat;
- Doakan saat ini Jemaat bergumul untuk kerinduan memiliki kolam baptisan;
- Berdoa untuk keluarga jemaat dan pribadi yang sudah lama tidak ke gereja.
(Keluarga pak Edy Asin, Pak Harun, Kel Pak Pudi, Kel Pak Yanto, Pak Agus, Pak Anos, Sdr. Eli, Pak Henry Alpius. ( Sering ada tugas pemerintah keluar kota).
