Maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.” Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.””
(1 Raja-raja 19:2-4)
Pernahkah Anda bertanya mengapa ada banyak kisah tokoh Alkitab dimuat di dalamnya? Hal itu terjadi karena Roh Kudus ingin mengajarkan kebenaran kebenaran nyata melalui kehidupan tokoh-tokoh Alkitab itu. Kisah para tokoh Alkitab itu dapat mengilhami kita, juga mampu menegur kita, ataupun mendorong kita untuk lebih setia kepada Tuhan. Jika Anda ingin melihat orang yang menjalani kehidupan yang saleh atau mereka yang kehidupannya dimurkai Tuhan, pelajarilah tokoh-tokoh yang kisahnya tertera di Alkitab. Jika Anda membutuhkan tokoh wanita pemberani, bacalah Ester. Kalau Anda ingin membangun iman Anda, simaklah kisah tentang Abraham. Juga ketika Anda ingin menciptakan satu harapan masa depan yang cerah, telitilah kisah Yusuf. Dan apabila Anda ingin belajar bagaimana orang bisa mengatasi keterpurukan dalam hidupnya, dalamilah kisah Elia yang terdapat dalam 1 Raja-raja khususnya pasal 18 dan 19.
Rasul Yakobus berkata bahwa Elia adalah manusia biasa seperti kita (Yakobus 5:17). Dia pernah mengalami masa-masa terindah dalam hidupnya ketika dia memenangkan pertandingan iman melawan 450 orang nabi Baal. Saat itu Elia berdoa dan Tuhan menurunkan api dari langit membakar hangus korban yang dia persembahkan untuk Tuhan, sedangkan 450 nabi Baal itu, yang walaupun telah berdoa dari pagi sampai petang meminta dewa mereka untuk membakar korban yang mereka persembahkan, sama sekali tidak berhasil. Atas kemenangan Elia itu, Elia membunuh 450 nabi Baal di sungai Kison. Tetapi akibatnya adalah ratu Izebel, istri raja Ahab menjadi marah dan merencanakan membunuh Nabi Elia.
Nabi Elia menjadi takut. Dia terpuruk dan depresi. Ia melarikan diri ke padang gurun, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” Coba perhatikan hal-hal yang membuat Elia terpuruk. Ketika Allah datang kepadanya dan bertanya mengapa dia ada di situ: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang, hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Elia terpuruk. Dia merasa sendirian, . . . seperti akan tenggelam.
Dalam kisah Elia ini, Allah datang kepadanya dan membimbing Elia keluar dari ketepurukannya. Ada beberapa tindakan yang diperintahkan Allah kepada Elia yang juga dapat menolong kita keluar dari keterpurukan kita.
- Allah menyuruh Elia: “Bangunlah, makanlah!“. Dua kali Allah berfirman kepada Elia untuk bangun dan makan (1 Raja-raja 19: 5,7). Perjalanannya masih jauh. Dia memerlukan kekuatan. Dia perlu menjaga kesehatannya. Saudara-saudaraku, kita juga ketika kita merasa terpuruk, tetaplah menjaga kesehatan, karena untuk keluar dari keterpurukan kita perlu tetap sehat dan kuat. Kita harus tetap berjalan.
- Elia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb (1 Raja-raja 19:8,9). Untuk keluar dari keterpurukan, kita harus terus berjalan menjalin persekutuan dengan Allah. Jangan meninggalkan persekutuan dengan saudara-saudara seiman. Datanglah ke rumah Tuhan dan tetaplah beribadah kepada Tuhan.
- Sabarlah menantikan pertolongan dari Tuhan. Jangan putus asa. Allah punya jadwal yang baik. Elia tetap menunggu . Ada angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Sesudah angin itu datanglah gempa. Setelah gempa itu menyeruaklah api. Tetapi Elia tidak melihat Tuhan dalam semua peristiwa itu. Dan Elia tetap menunggu dengan sabar. (1 Raja-raja 19:11,12)
- Dan ahirnya, sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Tuhan memberi petunjuk kepada Elia, ada tugas baru. Tugas yang jauh lebih besar yaitu mengurapi beberapa orang yang akan dipakai oleh Allah. (1 Raja-raja 19:15-17)
Saudara- saudara yang dikasihi Tuhan, dalam masalah-masalah yang kita temui dalam hidup kita, bersabarlah dalam mengatasinya. Lakukanlah langkah-langkah di atas. Tetaplah berusaha. Teruslah berdoa. Tuhan akan menolong kita keluar dari keterpurukan.
(JET12082022)
Pokok Doa:
- Rapat Panitia Perancang dalam rapat rutin bulanan dapat mengkoordinasikan panitia dan organisasi dapat menjalankan tugas dan kegiatannya dengan baik;
- Keamanan NKRI, baik diperkotaan hingga pelosok negeri tetap aman terkendali, setiap aparatur yang ada dari TNI-POLRI hingga swadaya masyarakat diberikan hikmat dari Tuhan;
- Kegiatan ibadah doa fajar esok hari, jemaat dapat hadir untuk saling mendoakan, menguatkan dan terberkati oleh Firman Tuhan.
Pokok Doa BPW SUMUR BANDUNG, Lampung Timur
- Pelayanan dan kesehatan Gembala Sidang: Pdt. Yulius Eko serta keluarga;
- Bersyukur atas pemulihan dari sakit Bu Kasiani dan Pak Yunghin dan jemaat yang membuka praktek dokter;
- Kelas Persiapan Baptisan untuk 2 orang anggota gereja;
- Program persembahan Janji Iman untuk pembangunan Gedung Gereja dan kerinduan bisa membangun tempat ibadah;
- Jemaat yang sedang merintis usaha kuliner: Sdr. Antonius.
