“Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”
(Mat. 6: 13)
Ayat nats hari ini, sering menjadi perdebatan teologis di antara para teolog yang memperdebatkannya. Pedebatan itu adalah apakah kita harus mengampuni terlebih dahulu sebelum meminta ampun kepada Allah? Apakah meminta ampun kepada Allah itu menghendaki adanya prasyarat dengan mengampuni kesalahan orang lain pada diri kita? Serunya perdebatan itu justru malah mengaburkan makna dari kerinduan untuk mendapat pengampunan Allah karena dosa dan kesalahan kita.
Dosa adalah hutang, dan hutang haruslah dibayar jika tidak ingin mendapat hukuman akibat dosa dan kesalahan tersebut. Dalam firman Tuhan dinyatakan, Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. (Rm. 3: 23). Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm. 6: 23). Maut (kematian) adalah hukuman yang harus diterima orang berdosa. Tidak ada seorang pun yang luput dari hukuman itu dengan usaha atau kekuatan diri untuk membayar hutang dosa tersebut.
Setiap orang hendaknya berdoa kepada Allah, supaya mengampuni kita dari dosa dan kesalahan kita, sehingga kewajiban untuk menerima hukuman maut itu dibatalkan, dihapuskan supaya tidak jadi dihukum. Di sinilah pemahaman konsep “kasih karunia” harus kita sadari. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3: 16).
Karena Allah telah memberi anugarah/kasih karunia kepada kita melalui kehadiran dan karya besar Tuhan Yesus Kristus, maka sangatlah kurang bijaksana jika kita tidak dapat mengampuni/memberi maaf kepada orang lain yang bersalah kepada kita. Jadi mengampuni orang lain adalah merupakan konsekwensi logis dari kita telah mendapat pengampunan dari Allah. Seorang Hamba Tuhan mengatakan, dengan kesediaan mengampuni/memaafkan orang yang bersalah kepada kita, ini menjadi bukti bahwa Tuhan telah mengampuni kita.
Jadi tidak perlu diperdebatkan lagi, mana yang terlebih dahulu mengampuni atau diampuni, tetapi yang lebih utama adalah mengampuni orang adalah karakter orang yang sudah diampuni. Marilah kita membuang jauh-jauh rasa dendam dan menyimpan kesalahan orang lain, agar kita dapat hidup damai dengan Allah sekaligus hidup damai juga dengan orang lain. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
(RI02052022)
Pokok Doa:
- Situasi yang aman dan kondisif di seluruh wilayah NKRI selama masa perayaan Idul Fitri;
- Sekolah dan Perguruan Tinggi Kristen (khususnya Baptis) dapat menjadi sarana pemberitaan Injil;
- Kekuatan dan penghiburan bagi keluarga besar Alm. Sdr. Basu Buwono yang berpulang ke rumah Bapa di surga.
Pokok Doa Cabang PURWONEGORO, Jawa Tengah
- Pelayanan dan kesehatan Gembala Sidang: Pdm. Eko Kristianto;
- Mengucap syukur ibadah Paskah sudah berjalan dengan lancar dan aman;
- Dukungan jemaat bagi setiap kegiatan gereja, termasuk dalam pelaksanaan Doa Semalaman.
