“Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku””
(Luk. 9:23; Mat. 10:38)
Hari ini Jumat tanggal 15 April 2022 kita telah memeringati peristiwa luar biasa yang dialami oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Peristiwa ini kita kenal dengan sebutan atau istilah “Jumat Agung”, dimana Ia yang adalah Allah telah turun ke dunia menjadi seorang manusia untuk menyatakan betapa besar kasih-Nya kepada semua orang yang berdosa, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya mengalami kemenangan dan tidak binasa (Rm. 5:8; Yoh. 3:16). Dan cara yang dilakukan tidak lain adalah dengan Ia rela menderita dan mati tergantung dikayu salib di bukit Kalvari (Golgota) sesuai nubuatan Allah dan para nabi (Yes. 53:2-10; Mat. 26:56).
Namun sebagai orang Kristen, kita semua harus tahu bahwa Yesus Kristus mati sesungguhnya juga untuk menciptakan kita para pengikut-Nya di jalan menuju Kalvari. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, Kalvari adalah nama bukit tempat Ia disalibkan. Ia tahu bahwa kehidupan yang dijalani-Nya pada akhirnya akan membawa-Nya ke sana. Faktanya, “Ia mengarahkan pandangan-Nya” ke sana (Luk. 9:51). Tidak ada yang dapat menghalangi tujuan-Nya untuk mati. Dia tahu di mana dan kapan harus terjadi. Ketika sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem, seseorang memperingatkan Dia bahwa raja Herodes sedang mencari-Nya, Dia menolak pandangan bahwa Herodes mempercepat rencana Allah, maka jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besuk, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai” (Luk. 13:32). Semua berjalan sesuai rencana. Ketika waktunya tiba dan tentara menangkap-Nya, pada malam sebelum kematian-Nya, Dia berkata kepada mereka, semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi (Mat. 26:56).
Jalan Kalvari adalah jalan di mana semua orang bertemu dengan Yesus. Dia memang telah melalui jalan itu, mati, bangkit, dan sekarang memerintah di sorga sampai Ia datang kembali. Tetapi, sampai saat ini, ketika Yesus berjumpa dengan seseorang, pastilah itu terjadi di jalan menuju Kalvari – jalan menuju salib. Tuhan berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23). Saat Kristus menuju salib, tujuan-Nya adalah memanggil sekumpulan besar orang percaya untuk mengikuti-Nya. Tujuannya bukanlah bahwa Yesus harus mati kembali ke masa kini, melainkan bahwa kita harus mati. Saat Dia memanggil kita untuk memikul salib, artinya Dia memanggil kita untuk datang dan mati. Salib adalah tempat hukuman yang mengerikan. Di zaman Yesus, orang tidak akan berpikir untuk memakai salib sebagai perhiasan. Perkataan Yesus pastilah terdengar sangat mengerikan pada saat itu: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38).
Pada masa kini, perkataan itu tetap memiliki makna yang serius. Perkataan ini setidaknya berarti bahwa jika kita mengikut Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan, diri lama kita yang egois dan mementingkan diri sendiri harus dihilangkan. Setiap hari kita harus mengingatkan diri untuk mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah inilah jalan kehidupan: “Bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm. 6:11). Tetapi persekutuan di jalan salib memiliki arti yang lebih dari itu. Artinya, Kristus mati agar kita menanggung hinaan atas diri-Nya. “Yesus telah menderita di luar pintu gerbang…. Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya” (Ibr. 13:12-13). Tetapi bukan hanya hinaan. Jika perlu, bahkan menjadi martir. Alkitab menggambarkan sebagian pengikut Kristus seperti ini: “Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” (Why. 12:11). Anak Domba Allah mencurahkan darah-Nya agar kita bisa mengalahkan kejahatan dengan mempercayai darah-Nya dan mencurahkan darah kita sendiri. Tuhan Yesus memanggil kita untuk menjalani jalan salib. Jadi apapun yang terjadi dalam diri kita, mari tetap setia dan mengikut Dia sampai kita kembali kepada-Nya. Amin, Tuhan Yesus memberkati.
(AP15042022)
