“Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.””
(Yoh. 7:37-38)
Di era modern ini kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi) sangatlah berkembang dengan pesat, menyebar dari kota sampai ke desa dan pelosok sehingga semua orang dengan mudah dan cepat mengakses segala sesuatu yang diinginkan, misalnya keperluan sehari-hari rumah tangga, sekolah, kerja, termasuk cara kita beribadah dan bersekutu. Semua itu akan memberi dampak yang baik jika itu digunakan dengan maksud dan tujuan yang baik serta dalam situasi tertentu misalnya sekarang ini dengan adanya pandemi. Namun kita perlu hati-hati juga, berkaitan dengan bersekutu dan beribadah kepada Tuhan. Jika cara yang selama masa pandemic (online) itu kita lakukan secara terus menerus dan membuat kita “nyaman dan malas” untuk bersekutu dengan saudara seiman secara langsung, jangan-jangan kita sudah tidak lapar dan haus secara rohani. Dan jika itu benar, maka itu tanda bahwa rohani kita sedang sakit, atau mungkin sudah mati. Mengapa? Karena lapar dan haus adalah tanda kehidupan. Atau dengan kata lain, orang yang hidup adalah orang yang memiliki rasa lapar dan haus. Hal ini berlaku untuk kehidupan jasmani dan rohani setiap anak-anak Tuhan.
Seorang anak Tuhan yang sehat rohaninya senantiasa merindukan Tuhan seperti halnya apa yang diungkapkan oleh Pemazmur: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah” (Mzm. 42:2). Dan adalah salah jika kita menganggap bahwa setelah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi maka kehausan kita akan berakhir. Karena kita beranggapan bahwa Dialah air hidup yang memuaskan dahaga kita. Justru kehausan kita seharusnya semakin bertambah.
Ada dua macam kehausan dalam diri manusia atau dengan kata lain ada dua penyebab kehausan dalam kehidupan manusia, yaitu “Kasih dan dosa”. Dalam kisah percakapan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria (Yoh. 4:1-42), kehausan perempuan Samaria, melambangkan ketidakpuasan kekal yang disebabkan oleh dosa didalam dirinya (kita). Sedangkan kehausan Tuhan Yesus melambangkan kehausan kasih yang rindu memberi berkat kepada umat-Nya, atau semua orang yang berdosa dan mau diselamatkan.
Kasih menyebabkan kita merasa haus seperti dosa juga menyebabkan perempuan Samaria merasa haus. Tetapi oleh karena kasih mendapat kepuasan di dalam memenuhi kesejahteraan orang lain dan bukan di dalam memuaskan diri sendiri, maka kehausan karena dorongan kasih adalah benar, kudus, dan mulia.
Jadi jika saat ini kita berada dalam kehausan karena dosa, penuhilah undangan Tuhan Yesus: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (Yoh. 7:37), namun jika kita haus karena kasih-Nya, kasihilah sesama kita seperti mengasihi diri sendiri (Mat. 22:39). Tuhan Yesus memberkati kita.
(AP13042022)
Pokok Doa:
- Doakan pelayanan Ibadah Doa hari Rabu Prapaskah secara hybrid , menyenangkan hati Tuhan dan menguatkan jemaat;
- Doakan perekonomian di Republik Indonesia , dijalankan secara jujur , takut dan andalkan Tuhan Yesus;
- Doakan persiapan pelayanan Jumat Agung dan Minggu Paskah.
Pokok Doa BPW SUMUR BANDUNG, Lampung Timur
- Pelayanan dan bersyukur pemulihan kesehatan Gembala Sidang: Pdt. Yulius Eko;
- Bersyukur untuk Gedung Gereja yang saat ini digunakan, Pelayanan sepanjang bulan Maret 2022;
- Bersyukur untuk Beberapa Simpatisan hasil penjangkauan sudah beberapa kali ikut dalam kegiatan Ibadah antara lain : Sdr. Nyoman dan Sdri. Bunga Kenza.

Amien..