“TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia.”
(Kel. 15: 2)
Bagi orang Kristen, menyanyi adalah sesuatu yang tidak asing lagi, apalagi menyanyi lagu-lagu rohani, apakah yang bersifat klasik/himne artinya lagu yang sudah ada ratusan tahun yang lalu, atau lagu rohani masa kini yang dicipta orang percaya pada masa dewasa ini. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh karena memuji Tuhan itu sudah ada sejak jaman Perjanjian Lama bahkan mungkin sejak awal penciptaan dunia dan segala isinya.
Pujian yang tertulis dalam Keluaran 15 ini dinyanyikan oleh Musa bersama-sama dengan bangsa Israel sesaat telah melewati laut Teberau. Setelah mereka mengarungi laut Teberau yang terbelah airnya karena kuasa Allah, mereka telah sampai di daratan kembali. Sementara Firaun dan pasukannya yang mengejar mereka masih berada di laut tersebut, dengan kuasa Allah laut itu menyatu kembali airnya, sehingga Firaun dan pasukannya tenggelam di telan lautan luas, tak ada satu pun yang selamat (Kel. 14: 22-28).
Pujian kepada Allah itu dinyanyikan sebagai rasa syukur dan perayaan kemenangan Allah atas Firaun dan pasukannya yang terus membayangi bangsa Israel dalam perjalanannya menuju Tanah Perjanjian. Semula memang bangsa Israel sempat menggerutu kepada Musa dan juga kepada Allah, “Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN, dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? (Kel. 14: 10-11). Namun akhirnya mata orang Israel dicelikkan TUHAN melalui terkuburnya Firaun dan pasukannya di dalam laut Teberau itu.
Isi pujian kepada Allah tersebut memberi pengajaran indah kepada kita, bahwa kuasa Allah jauh lebih kuasa dari kuasa manapun juga. Musa dan bangsa Israel menyebut-Nya, TUHAN itu “kekuatanku dan mazmurku, penyelamatku, pahlawan perangku.” Apakah sebagai orang percaya kita berani menyebut Tuhan Allah seperti apa kata mereka? Pengalaman hidup kita masing-masing bersama dengan Tuhan Allah lah yang dapat menjadikan kita berani menyatakan hal itu. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
(RI07022022)
Pokok Doa:
- Doakan pelayanan publik di seluruh wilayah Indonesia dapat tetap berjalan baik dan maksimal selama masa pandemi;
- Doakan jemaat dalam masa pemulihan covid-19: Melia, Anton, Kayla, Jonathan (putra Bpk. Sandy & Ibu Hanna), Resa Wiratama Ken, Aryo Wistantomo, Aprililo Surbakti, dll..;
- Doakan keberhasilan pekerjaan, usaha serta kebutuhan ekonomi jemaat GBIK dapat tetap tercukupi.
Pokok Doa Cabang Imanuel, Rantauprapat:
- Doakan pelayanan Gembala Sidang & keluarga Pdm. Rejeki Tambunan;
- Bersyukur untuk Pembaptisan 13 orang anggota gereja pada tanggal 13 Desember 2021 dan rencana Baptisan 4 orang pada tanggal 20 Februari 2022;
- Mengucapsyukur atas pelaksanaan RUG tanggal 23 Januari 2022 dengan baik yang menetapkan Panitia Perancang tahun dan anggaran gereja tahun 2022;
- Doakan jemaat yang sedang mengandung: Inang Doli Br. Hutapea, perkiraan minggu akhir Januari 2022 akan melahirkan dan yang merindukan keturunan: Kel. Pak Beny Tambunan/Sunita;
