“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol. 3:23)
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, antara orang yang satu dengan orang yang lain tidaklah sama. Ada orang-orang dalam menjalani hidup ini tanpa tujuan (Yes. 22:13). Ada orang-orang dalam menjalani hidup ini menjadikan uang dan kepuasaan tujuan hidup mereka (Tit. 1:10-16). Ada pula orang-orang yang menjalani hidupnya di dunia ini apa yang dilakukan adalah untuk kemuliaan Allah (Kol. 3:23). Dan kita sebagai anak-anak Allah supaya hidup berkenan di hati Allah, hendaknya mengajukan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri sebagai perenungan kita setiap saat, yaitu: “Siapa yang memberi saya hidup?”, “Mengapa saya hidup?”, “Untuk apa saya hidup?” Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas tentunya beragam, namun apapun jawaban kita, itulah yang menentukan tujuan hidup kita. Mengapa tujuan hidup bagi anak-anak Tuhan itu penting? Karena tujuan hidup kita memberi nilai hidup kita, memotivasi kita, mendisiplin diri kita dan mengontrol kita apakah kita ini adalah hamba yang setia dan siap membaktikan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan Yesus atau tidak.
Melalui perenungan dari Injil Matius 4:1-11 dalam peristiwa Tuhan Yesus dicobai Iblis di padang gurun, maka kita kembali diingatkan bahwa tujuan hidup kita yang sebenarnya adalah untuk membaktikan diri dan hidup kita hanya kepada Allah. Dan mengapa ini sangat penting? Karena kita dapat membatasi dari hal-hal yang tidak penting, menolong kita memprioritaskan sesuatu yang penting, menolong kita mengerjakan yang terbaik dalam menjalani hidup ini, lebih-lebih mendorong kita untuk semakin percaya kepada Allah sepenuhnya dengan menunjukkan ketaatan kita kepada-Nya dengan pimpinan Roh Kudus.
Jadi, ketika kita memutuskan mengikut Tuhan Yesus berarti kita siap mengikuti jalan-jalan-Nya, kemanapun Tuhan Yesus melangkah kesanalah kaki kita juga harus melangkah. Mengikut Tuhan Yesus juga berarti siap meneladani hidup-Nya, sebab ada tertulis, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yoh. 2:6). Jangan hanya mengikut Tuhan Yesus hanya karena satu tendensi yaitu mengejar berkat dan mujizat-Nya saja, sementara kita tidak peduli keberadaan kita sendiri apakah sudah hidup benar di hadapan Tuhan atau belum, apakah jalan kita sudah seturut dengan kehendak-Nya atau belum, apakah kita sudah melayani Tuhan atau belum, apakah kita sudah membalas kasih Tuhan yang tak terukur, “…. betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya….” (Efs. 3:18), apakah kita sudah menjalankan misi Tuhan atau belum? Ingatlah akan sikap tegas Tuhan Yesus ketika hendak diperangkap oleh Iblis dengan berbagai cara supaya Tuhan Yesus gagal melaksanakan visi-Nya, datang ke dunia untuk mati dengan cara di salib demi menyelamatkan manusia yang berdosa. Tuhan Yesus tetap setia dan berbakti sepenuhnya kepada Bapa-Nya yang mengutus-Nya (Mat. 4:10)
Janganlah menjadi orang kristen yang hanya berkerinduan untuk diberkati saja, karena kalau misi atau tujuan hidup kita adalah bukan untuk berbakti dan melayani-Nya melainkan hanya untuk maksud dan tujuan pribadi kita (mendapat uang, berkat, atau jabatan), iblispun bisa memberikannya (Mat. 8-9). Ingatlah selalu firman Tuhan dari Lukas 9:25, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan diri sendiri?”. Tuhan Yesus memberkati.
(AP25112021)
Pokok Doa:
- Doakan hikmat bagi pemerintah dalam mengatur protokol kesehatan masa liburan akhir tahun 2021;
- Doakan para anak di GBIK dalam menempuh ujian semester ganjil;
- Doakan persiapan Masa Adven di GBIK dan cabang2x.
