“Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdiri Lewi lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya sebab banyak orang yang mengikut Dia” (Mrk. 2:13-15)
Dalam misi-Nya memberitakan Injil Kerajaan Allah, Yesus Kristus selama di dunia memakai orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Ada dari kalangan intelektulal, nelayan, bahkan dari golongan pemungut cukai yang dipandang hina oleh masyarakat pada waktu itu. Seorang pemungut cukai itu adalah Matius atau Lewi (Mat. 9:9-10; Mrk. 2:14) .
Dan jika kita memerhatikan bacaan Injil Markus 2:13-17 dengan seksama, maka ditemukan pertanyaan yang unik dari beberapa ahli Taurat dan orang Farisi atau bahkan mungkin kita, yaitu: Mengapa Tuhan Yesus memanggil Matius atau Lewi seorang pemungut cukai untuk mengikut Dia (Mrk. 2:14)? Mengapa Tuhan Yesus mau makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa (Mrk. 2:16)? Ini merupakan pertanyaan yang sangat wajar dan serius karena bagi para ahli Taurat, orang Farisi, bahkan khalayak ramai pada masa itu, Pertama: Pemungut cukai adalah orang yang sangat dibenci mereka karena pemungut cukai pekerjaannya adalah menarik pajak untuk bangsa yang menjajah bangsa Yahudi yaitu Romawi dengan pemerasan dan untuk keuntungan diri bahkan pemungut cukai disebut juga sebagai antek-antek penjajah karena telah bekerjasama. Kedua: Pemungut cukai disebut orang berdosa, karena ia mempraktikkan dalam memungut pajak adalah juga di hari sabat, sehingga guru agama Yahudi mengharamkan setiap orang Yahudi untuk berbicara, berjalan, apalagi makan bersama pemungut cukai. Ketiga: Ketika Yesus yang di mata mereka adalah guru agama dan orang Yahudi tetapi mau makan bersama pemungut cukai itu berarti Yesus telah melanggar fatwa Yahudi dan kompromi dengan dosa.
Meskipun demikian, anggapan para ahli Taurat dan orang Farisi itu dapat dimentahkan dengan jawaban Yesus yang sungguh berhikmat dan luar biasa, yaitu bahwa “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk. 2:17). Dari jawaban Tuhan Yesus ini, maka kita dapat semakin mengerti bahwa setiap orang yang dipanggil Tuhan Yesus untuk mengikuti Dia ada misi yang diemban-Nya, yaitu bahwa: Pertama; Ketika Tuhan Yesus mau makan bersama pemungut cukai menunjukkan bahwa Ia mengasihi orang berdosa dan kasih-Nya itu dapat dinyatakan dan dibuktikan. Kedua; Ketika Tuhan Yesus mau makan bersama pemungut cukai menunjukkan bahwa Ia bukan Allah yang jahat tetapi Allah yang penuh kasih, karena memberikan kesempatan kepada orang berdosa untuk bertobat. Ketiga; Ketika Tuhan Yesus mau makan bersama pemungut cukai menunjukkan bahwa Ia memberi kepercayaan yang besar untuk berkomitmen dalam hal yang benar, bahkan Matius atau Lewi menjadi sahabat dan pemberita Injil-Nya.
Jadi, Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, kebenaran firman Tuhan di atas semakin jelas bagi kita bahwa kita semua dahulu adalah hina dan berdosa, tetapi marilah kita yang berdosa janganlah berputus asa dan hilang pengharapan, karena Yesus Kristus adalah Allah yang mahakasih, yang peduli terhadap orang berdosa untuk dijadikan alat kemuliaan-Nya. Mari bertobatlah, beriman penuh kepada-Nya dan meresponi panggilan-Nya untuk menjadi pelayan-pelayan-Nya. Tuhan Yesus memberkati.
(AP24112021)
Pokok Doa:
- Doakan pelayanan Ibadah Doa hari secara on site dan online , untuk kemuliaan Tuhan Yesus;
- Doakan kinerja Kementerian BUMN dalam mengelola berbagai badan usaha milik Negara;
- Doakan kesehatan dan pemeliharaan Tuhan bagi Hamba Tuhan yang melayani di cabang/TPW/BPW GBIK.
