“Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.“ (Luk. 6:31)
Siapakah yang senang kalau melayani orang lain? Ujar Plato. Rupanya Plato lebih jujur dalam hal melayani, sebab seringkali kita berkata bahwa kita mau melayani orang lain, namun dalam praktiknya kita bersikap seakan tidak menunjukkan sebagai pelayan yang berusaha menyenangkan orang lain atau Tuhan. Harus kita akui bahwa benar “menjadi pelayan bukanlah perkara yang mudah”, apalagi kita orang-orang percaya dari berbagai karakter, sifat, budaya, tingkat pengertian yang berbeda-beda dipanggil untuk menjadi pelayan Tuhan, yang dituntut sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan serta tidak mencari kepentingan pribadi. Dapat kita bayangkan betapa sulitnya, beratnya, dan pengendalian diri yang tinggi dalam melayani Tuhan. Itulah pelayanan atau melayani! Kita berusaha menyenangkan orang lain. Menyenangkan orang lain bukan berarti kompromi atau mengiyakan kejahatan yang dilakukan orang lain, sebab Alkitab katakan bahwa kita harus menjauhi orang berdosa, pencemooh, dan orang fasik (Mzm. 1:1) karena kejahatan atau dosa itu ibarat virus yang dapat menjangkiti kita dan merusak kelakuan kita yang baik (1 Kor. 15:33). Menjauhi orang jahat, berdosa, dan kefasikan bukan berarti memusuhi, membenci, dan mendambakan kebinasaan orang lain, melainkan membuat orang itu akan merasa malu dan akhirnya orang itu menemukan jalan untuk meninggalkan kejahatannya lalu bertobat kepada Allah (2 Tes. 3:14-15).
Sebagai orang percaya yang dipanggil untuk menjadi pelayan Tuhan hendaklah kita tidak meluapkan amarah kepada orang yang berbuat dosa (Mzm. 37:1) tetapi berdukacita dan menangisi mereka di hadapan Allah (Neh. 1:4-6). Konsep melayani yang “menyenangkan orang lain” seperti inilah yang Alkitab ajarkan kepada kita, yang kebanyakan sudah dilupakan oleh kita. Untuk itu mari kita melayani Tuhan dengan berusaha menyenangkan orang lain bukan diri sendiri dengan beberapa langkah berikut ini!
- Berada dalam kasih setiap waktu. Kasih tidaklah mengenal waktu, tempat, dan kepada siapa kasih itu kita nyatakan. Kasih kepada sesama berasal dari sikap kita mengasihi diri sendiri (Mat. 22:39). Kita tidak saja mengasihi orang yang baik dengan kita, tetapi orang yang menjadi musuh kita juga (Mat. 5:44). Jadi, jika kita memiliki hati yang terbuka dan pikiran yang jernih kita dapat menikmati kasih yang sempurna dan kasih itu dapat kita salurkan kepada orang lain. Dan sesungguhnya kita dapat mengalami kasih bersama orang lain lebih daripada yang dapat kita bayangkan.
- Berlaku sopan. Bawalah diri kita dengan penuh hormat kepada semua orang (1 Ptr. 2:17), bijaksana, saling mengisi, menghargai hak pribadi seseorang, tunjukkan sikap tertartik kita pada apa yang dibicarakan lawan bicara, serta jangan tunjukkan sikap masa bodoh.
- Siap berkorban untuk menyenangkan siapa saja. Berikan ucapan selamat, doa, atau mungkin kado pada hari atau persitiwa yang berkesan. Tunjukkan sikap kepribadian akan kesehatan mereka, masalah mereka, harapan mereka, cita-cita mereka, dan apa saja yang membuat mereka senang dan bahagia walaupun untuk melakukan ini kita harus berkorban waktu, tenaga, bahkan biaya.
Mari kita melayani dengan sepenuh hati meskipun ketika kita melayani tidak mendapat pujian dan penghargaan, malah yang kita dapat adalah hinaan dan celaan, karena melayani yang tulus adalah berusaha menyenangkan Tuhan dan orang lain bukan dirinya sendiri. Tuhan Yesus memberkati.
(AP10112021)
Pokok Doa:
- Mari Dukung dalam doa gereja dalam menentukan program-program untuk tahun depan;
- Mari berdoa bagi Jemaat yang saat ini merindukan hadir kebaktian digereja tetapi terkendala kendaraan atau jarak yang jauh;
- Mari kita berdoa bagi pemerintahan agar dapat mengayomi masyarakat Indonesia dengan kesejahteraan dan keamanan bagi semua disegala lapisan masyarakat.
