“Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.”
(Filipi 4:2-3)
Gereja di Filipi adalah salah satu gereja yang sangat dikasihi oleh Rasul Paulus. Ia menyebut mereka sebagai “saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku” (4:1). Dalam tiga belas surat yang ditulis oleh Rasul Paulus dan dikirim kepada gereja-gereja dan orang-orang yang dia kasihi, seingat penulis hanya kepada gereja di Filipi ini Rasul Paulus menyebut mereka sebagai orang orang yang sangat dikasihi, dirindukan, menjadi sukacitanya dan mahkotanya. Tetapi sayang sekali di gereja Filipi ada perselisihan di antara mereka, yaitu antara Euodia dan Sintikhe; untuk itu Rasul Paulus menasihati mereka untuk berdamai. Paulus menasihati mereka untuk sehati sepikir.
Salah satu tantangan terbesar yang kita semua hadapi adalah bagaimana bisa menjaga hubungan kita dengan orang lain tetap menyenangkan, bisa sehati sepikir seperti yang diharapkan oleh Rasul Paulus. Hal ini sesuatu yang harus kita usahakan karena masing masing orang berbeda. Kepribadian kita berbeda dengan orang lain. Kita berasal dari latar belakang yang berbeda. Kita punya temperamen yang berlainan. Ketika seseorang tidak setuju dengan pendapat kita, mudah sekali timbul konflik. Kita berusaha meluruskan atau menjelaskan maksud kita. Kadang-kadang kita lalu berdebat dan kalau kita kurang hati-hati, tidak mengendalikan diri, maka akan timbul konflik yang mungkin menyebabkan hubungan kita menjadi rusak. Persekutuan kita menjadi terganggu. Hal itu bisa terjadi di kantor, di kampus, di rumah dan juga di gereja kita.
Perselisihan adalah suatu ‘semangat atau suasana hati’ sama seperti perdamaian yang juga adalah suatu semangat atau suasana hati. Hal itu dapat kita rasakan dan orang lain juga dapat merasakannya. Ketika terjadi konflik atau perselisihan dengan orang lain, bukan hanya kita yang merasakannya tetapi orang lain juga dapat merasakannya. Perselisihan adalah sesuatu yang mudah terjadi, terutama dengan orang orang yang terdekat dengan kita. Perselisihan adalah suatu kekuatan yang dapat menghancurkan persekutuan kita. Karena itu kita harus berhati-hati dan berusaha mengendalikan diri demi untuk menjauhkan kita dari perselisihan.
Ini tidak berarti bawa kita tidak akan pernah salah dalam berbicara. Atau kita tidak akan pernah menjadi marah. Atau tidak boleh bertengkar. Hal itu sesuatu yang tidak realistis. Tetapi ketika situasi itu datang, hati-hatilah agar Anda tidak terbawa emosi sehingga Anda tidak bisa menguasai diri. Tuhan Yesus bersabda dalam Injil Markus 3:24-25: “Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan”. Ini merupakan peringatan dari Tuhan kita Yesus agar kita berhati-hati dalam memelihara persekutuan di antara kita. Jika Anda memelihara “semangat perselisihan” dalam diri Anda hal itu akan menghancurkan semangat persahabatan di dalam rumah tangga, atau kantor, demikian juga dalam gereja.
Ketika Anda tersinggung karena ada ucapan seseorang yang melukai harga diri Anda atau ada tindakan seseorang yang merendahkan Anda, silakan berhati-hati. Kuasailah diri Anda. Jangan meladeni “umpan” yang sedang ditaburkan oleh Iblis yang ingin menghancurkan persaudaran di antara kita. Berkatalah kepada diri Anda, “saya tidak mau mengambil umpan itu. Saya ingin tetap memelihara semangat perdamaian”. Dibutuhkan kedewasaan untuk meminta maaf walaupun itu bukan kesalahan Anda.
Mari menutup renungan SRHI ini dengan beberapa ayat dari Alkitab yang disabdakan oleh Tuhan kita Yesus:
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).
“Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Matius 5:40-41).
”Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu” (Lukas 6:29-30).
Berdoalah minta Roh Kudus memberikan kekuatan dan kesabaran sehingga Anda dapat menguasai diri untuk menghindari perselisihan dengan siapa pun juga, karena hal itulah yang dikehendaki Tuhan dari kita, pengikut-Nya.
(JET10102021)
Pokok Doa:
- Doakan Pemerintah Indonesia dalam kalaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan termasuk swasta untuk dapat mewujudkan cita-cita Indonesia Maju;
- Doakan program Penginjilan GBIK ditengah-tengah pandemi tetap berjalan sesuai dengan rencana & banyak jiwa jiwa baru di menangkan untuk Tuhan, tercukupi kebutuhan operasional;
- Doakan Jemaat GBIK tetap setia kepada Tuhan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Jemaat, diberi kemampuan hidup seturut KehendakNya dan takut akan Tuhan, dapat menjadi terang dan garam dimana Tuhan tempatkan.
