“Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: ”Tuhan tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab; “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.””
(Mat. 15:25-27)
Penguasaan diri tiap orang berbeda satu dengan yang lain. Ada orang yang memiliki penguasaan diri yang baik sehingga ia sabar dalam menghadapi persoalan hidupnya, tetapi ada orang yang sulit mengendalikan diri sehingga dalam menghadapi sering mengandalkan emosinya, akibatnya masalah-demi masalah muncul akibat sikapnya tersebut.
Seorang perempuan Kanaan yang datang kepada Tuhan Yesus dengan iman yang kuat, memohon agar anaknya yang kerasukan setan disembuhkan (Mat. 15:22). Perempuan Kanaan itu sudah mendengar bagaimana Tuhan Yesus menyatakan kuasa-Nya dengan menyembuhkan banyak orang sakit. Namun kelihatannya Tuhan Yesus tidak berkenan menyembuhkan anaknya, bahkan Dia dengan kasar mengatakan dirinya adalah anjing. (Mat. 15: 26). Apakah perempuan Kanaan itu terpancing dan marah karena ucapan yang tidak menghargainya tersebut? Tidak, dia tidak marah, tidak tersinggung. Bahkan dengan kerendah-hatiannya ia menjawab bahwa anjing itu tidak mau roti tuannya, tetapi hanya remah-remah yang jatuh dari meja yang tidak akan dimakan tuannya itu.
Dalam kondisi menghadapi situasi seperti perempuan Kanaan itulah penguasaan diri seseorang diuji. Sikap dan perlakuan yang tidak mengenakkan, tidak menghargai bahkan cenderung menyerang harga diri, sering membuat kita menjadi emosi dan tidak bisa menguasai diri. Di sinilah diperlukan kearifan dalam bersikap dan bertindak. Apa yang dilakukan perempuan Kanaan itu menginspirasi kita dalam penguasaan diri untuk mencapai apa yang dirindukannya. Akhirnya karena sikapnya tersebut kerinduannya agar anaknya yang kerasukan setan menjadi sembuh, terkabulkan. “Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.” (Mat. 15:28).
Puji Tuhan, Tuhan Yesus kelihatannya berlaku kasar terhadap perempuan Kanaan itu, ternyata itu hanya untuk menuji seberapa besar imannya yang merindukan kesembuhan anaknya itu. Terkadang sikap kasar dan tidak menyenangkan terhadap diri kita sering dipakai Tuhan untuk menguji iman kita, menguji penguasaan diri kita. Ingatlah penguasaan diri adalah buah roh (Gal. 5: 22). Jadilah pribadi yang memiliki penguasaan diri yang baik sesuai dengan pertumbuhan rohani kita. Tuhan memberkati, Amin.
(RI04102021)
Pokok Doa:
- Doakan Pemerintah Indonesia dalam membangun Ekonomi Nasional disaat Pandemi, tentang penetapan upah minimum tidak menimbulkan kegaduhan antara tenaga kerja dan perusahaan. Dapat selaras menyesuaikan pertumbuhan ekonomi dan inflasi sehingga segala keputusan yang diambil dapat berjalan dengan baik lancar;
- Doakan GBIK yang sudah memulai Ibadah tatap muka terbatas berjalan dengan baik lancar, semakin hari semakin bertambah yang rindu hadir bersekutu di Gereja;
- Doakan Jemaat GBIK dari acaman dan godaan yang dapat melemahkan Iman keyakinan, biar tetap teguh dan kuat didalam Yesus Kristus di tenga- tengah masa Pendemi yang belum tahu kapan berakhir, tetap waspada dan siap sedia, berserah penuh kepada Tuhan yang menjadi sumber kehidupan.
