“Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.”
(Lukas 4:25-26)
Dalam Injil Lukas pasal 4:16-27, dokter Lukas dengan pimpinan Roh Kudus memaparkan peristiwa ketika Tuhan Yesus datang ke kota Nazaret tempat Ia dibesarkan.
Pada hari Sabat, seperti yang biasa dilakukan oleh Tuhan Yesus, Ia pergi ke rumah ibadat untuk beribadah. Kepada-Nya diberikan gulungan kitab nabi Yesaya untuk dibacakan. Tuhan Yesus membaca dari Yesaya 61:1-2, demikian: “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN telah datang”.
Jika Anda coba membandingkan teks yang dibaca oleh Tuhan Yesus dengan teks yang ada dalam Kitab Yesaya 61:1-2, rupanya Tuhan Yesus tidak membaca lengkap ayat itu. Tuhan Yesus hanya sampai pada frasa “… untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN” lalu Yesus menambahkan “frasa “telah datang”. Mengapa Tuhan Yesus tidak mengutip seluruh fasal itu? Atau mengapa Tuhan Yesus tidak mengutip ayat 1 dan 2 secara lengkap? Ada dua hal yang perlu kita ketahui yaitu: Alkitab masa lampau tidak dibagi dalam pasal dan diberi nomor pasal dan ayat. Jadi kalau Tuhan Yesus membaca ayat 1 dan 2 itu hanya sampai “untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN”, Yesus sudah membaca bagian yang Yesus ingin sampaikan.
Dan alasan kedua yang sangat penting ialah Tuhan Yesus membaca ayat itu hanya sampai pada frase”untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN” lalu menambahkan frasa: “telah datang”. Yesus ingin menyatakan bahwa itulah maksud kedatangan-Nya ke dunia ini. Dia datang untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”.
“Tahun Rahmat Tuhan” adalah tahun yang sangat penting bagi bangsa Israel dalam zaman Perjanjian Lama. Setiap limapuluh tahun sekali di seluruh Israel ditiup sangkakala yang memberitahukan bahwa Tahun Rahmat Tuhan telah datang. Pada tahun itu semua hamba / budak dibebaskan, semua hutang diputihkan /dihapus. Semua rumah atau tanah, kebun atau ladang yang di gadaikan atau di jual, harus dikembalikan kepada pemilik semula. Itulah Tahun Rahmat Tuhan. Pada zaman Yesus, sudah lama Sangkakala Tahun Rahmat Tuhan tidak dibunyikan. Jadi ketika Tuhan Yesus mengutip ayat itu dan menambahkan kata-kata ”telah datang” orang-orang yang mendengarkan pembacaan ayat itu, ada yang sangat kagum, tetapi banyak juga yang tidak mau percaya. Kita pasti tahu siapa yang tidak mau percaya. Pasti orang orang yang akan kehilangan budak karena mereka harus dimerdekakan. Pasti pemilik tanah yang dijual atau digadaikan orang lain kepadanya, karena harus dikembalikan kepada pemilik aslinya. Atau pasti orang orang yang mempunyai piutang , karena mereka harus membebaskan hutang orang yang meminjam kepadanya. Tujuan “Tahun Rahmat Tuhan” adalah mengajar agar bangsa Israel menjdi bangsa yang penuh belas kasih sama seperti Allah yang telah mengasihi mereka. Tetapi mereka menolak ajaran itu. Terlalu berat untuk menyatakan kasih sebesar itu.
Karena orang banyak yang mendengarkan itu tidak mau menerima ajaran Tuhan Yesus, Yesus lalu mengingatkan mereka tentang masa kelaparan yang melanda Israel selama 3 tahun dan enam bulan, di mana Allah mengutus nabi Elia kepada seorang janda di Zarfat, orang kafir yang sangat miskin, walaupun di Yerusalem sendiri terdapat banyak janda miskin.
Mengapa Tuhan Yesus mengingatkan mereka tentang hal itu? Karena pada masa itu, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menindas para janda: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Matius 23:14).
Dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjajian Baru, cukup banyak ayat yang memerintahkan agar umat Tuhan membagikan penghasilan mereka untuk para janda dan yatim piatu. Berikut ini beberapa contoh saja: “Apabila dalam tahun yang ketiga, tahun persembahan persepuluhan, engkau sudah selesai mengambil segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu, maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang” (Ulangan26:12). “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yakobus 1:27). Satu lagi: Mazmur 68:5-6: “Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; beria-rialah di hadapan-Nya! Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus.”
Jika demikian apakah kita telah melakukan perintah Tuhan ini? Ingatlah, sama seperti zaman Elia: Allah bisa mengirimkan berkatnya ke tempat lain apabila kita gagal menyatakan kasih kita.
(JET01100221)
Pokok Doa:
- Doakan Pemerintah Indonesia dalam Vaksinasi Door-to-Door agar berjalan lancar, dapat mempercepat proses penangkalan dan memutus mata rantai penyebaran Virus Covid 19 berserta mutasinya;
- Doakan GBIK tetap dalam perlindungan Tuhan dalam menjalankan Acara Ibadah Hari Minggu dan ibadah Doa Hari Rabu serta ibadah Doa Hari Sabtu secara tatap muka terbatas supaya dapat berjalan dengan baik, lancar & banyak anggota Gereja yg rindu bersekutu di Gereja;
- Doakan Jemaat GBIK tetap dalam perlindungan Tuhan dalam menjaga kesehatan jasmani maupun rohani untuk bertumbuh dewasa berbuah demi kemuliaan Tuhan.
