Bacaan Alkitab : Ayub 11-14
(Kurun waktu : diperkirakan 2.324 – 2.224 S.M.)
(mengikuti masa hidup Abraham)
“Menghibur Atau Menasihati”
Download versi word file : renungan-harian-tgl-8-januari
Pasti Anda pernah bertemu dengan orang-orang yang bertindak seolah-olah mereka lebih tahu dan lebih berpengalaman daripada orang lain (mudah-mudahan Anda bukan orang seperti ini). Kemudian dengan angkuhnya mereka memberi nasihat seolah-olah orang yang diajak bicara tersebut tidak tahu apapun. Tentunya hal ini sangat menjengkelkan jika dialami oleh orang yang berhikmat dan memiliki karakter yang baik dan benar; saat orang ini mengalami masalah dalam hidupnya, sekonyong-konyong orang yang berlagak tahu segalanya itupun menghakiminya seolah-olah ia tidak tahu apapun. Hal inipun dialami oleh Ayub sebagai nenek moyang tokoh orang beriman, saat ketiga sahabatnya mencoba untuk menasihatinya. Ayub memerlukan penghiburan, bukannya nasihat.
Zofar orang Naama adalah sahabat ke tiga yang menasihati Ayub. Sama seperti temannya yang lain, Zofar pun percaya bahwa kesukaran yang terjadi dalam hidup Ayub disebabkan oleh dosa nya. Menurut mereka, sikap Ayub yang mengklaim bahwa ia tidak bersalah, adalah sama dengan telah merendahkan keadilan dan kebenaran Allah.
Zofar berkata : 11:5 “Tetapi, mudah-mudahan Allah sendiri berfirman, dan membuka mulut-Nya terhadap engkau, 11:6 dan memberitakan kepadamu rahasia hikmat, karena itu ajaib bagi pengertian. Maka engkau akan mengetahui, bahwa Allah tidak memperhitungkan bagimu sebagian dari pada kesalahanmu. 11:7 Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? 11:8 Tingginya seperti langit –apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati –apa yang dapat kauketahui?…. 11:13 Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepada-Nya; 11:14 jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu, 11:15 maka sesungguhnya, engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut, “ (Ayub 11 : 5-8, 13-15)
Zofar mengakhiri nasihatnya kepada Ayub dengan menjanjikan masa depan yang cerah jika ia bertobat. Apakah jawaban Ayub? “12:3 Akupun mempunyai pengertian, sama seperti kamu, aku tidak kalah dengan kamu; siapa tidak tahu hal-hal serupa itu?… 13:2 Apa yang kamu tahu, aku juga tahu, aku tidak kalah dengan kamu.” (Ayub 12 : 3; 13:2).
“12:4 Aku menjadi tertawaan sesamaku, aku, yang mendapat jawaban dari Allah, bila aku berseru kepada-Nya; orang yang benar dan saleh menjadi tertawaan. 12:5 Penghinaan bagi orang yang celaka, –demikianlah pendapat orang yang hidup aman–suatu pukulan bagi orang yang tergelincir kakinya.” (Ayub 12 : 4-5), (atau berarti: memang mudah bagi mu untuk menghakimi; saya yang mengalami penderitaan ini, sedangkan engkau hidup dengan aman dan tenang).
Sesungguhnya Ayub sedang berkata: “Lihatlah keadaanku. Engkau dapat melihat bahwa aku sedang menderita. Dengarkanlah: engkau tahu bahwa aku pun orang yang berhikmat. Allah itu Maha Kuasa; Ia melakukan apapun yang Ia kehendaki terhadap ciptaanNya, tetapi aku akan tetap membela perkaraku di hadapanNya, bahwa aku tidak bersalah.”
Sebagai sahabatku, engkau seharusnya memberikan kata-kata penguatan dan penghiburan bagi jiwaku. “13:4 Sebaliknya kamulah orang yang menutupi dusta, tabib palsulah kamu sekalian. 13:5 Sekiranya kamu menutup mulut, itu akan dianggap kebijaksanaan dari padamu.” (Ayub 13 : 4-5).
Sekarang dengarlah: Inilah yang kuyakini, Ayub berkata : “13:15 Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku , namun aku hendak membela perilakuku di hadapan-Nya. 13:16 Itulah yang menyelamatkan aku; tetapi orang fasik tidak akan menghadap kepada-Nya.(Ayub 13 : 15-16)”.
Setelah menanggapi ucapan Zofar, dalam penderitaanhya Ayub menyatakan keluh-kesahnya kepada Allah. Bagi Ayub saat itu tampaknya Allah sedang murka kepadanya dan Ayub ingin menyendiri atau mati saja sehingga penderitaannya akan berhenti. Kita harus ingat : seperti yang telah kita bahas di pelajaran yang lalu, bahwa orang yang sedang berada dalam penderitaan yang berat biasanya akan mengeluhkan beratnya penderitaan yang dialaminya. Orang yang sedang menderita “…Hanya tubuhnya membuat dirinya menderita, dan karena dirinya sendiri jiwanya berduka cita.” (Ayub 14:22) (atau dapat diartikan: hanya dapat merasakan rasa sakit di tubuhnya dan berdukacita bagi dirinya sendiri dan tidak peduli dengan keadaan orang lain). Orang yang sedang mengalami penderitaan biasanya melampiaskan amarahnya kepada orang lain, bahkan juga kepada Tuhan. Namun demikian Ayub tidak mempertanyakan keadilan dan kebenaran Allah; ia hanya ingin memohon belas kasihan Allah. Fakta bahwa Ayub mencoba membela diri di hadapan Allah dengan lantang, tidak berarti bahwa ia telah merendahkan wibawa Allah, namun karena ia sedang menanggung sakitnya penderitaan tersebut. Ia mencoba membela diri di hadapan Allah untuk menanyakan kesalahan apa yang telah dilakukannya, dan agar dapat mengakhiri penderitaan tersebut.
Untuk Direnungkan dan Dilakukan :
- Saat kita mengunjungi seseorang yang sedang mengalami bencana, kesulitan dan penderitaan yang berat, janganlah serta merta kita beranggapan bahwa mereka menderita karena telah melakukan pelanggaran dan penuh dosa. Mari memberi penghiburan lebih banyak daripada hanya sekedar menasihati. Jangan pernah beranggapan bahwa kita mengetahui segala jalan keluar dari kesulitan tersebut;
- Mari menjadi pendengar yang baik dan cobalah memahami keadaan orang yang terkena musibah tersebut. Marilah menjadi kawan sejati dan penyembuh luka hati bagi mereka, memberikan obat bagi jiwa yang menderita.
Pertanyaan Untuk Diskusi :
- Dalam perjalanan hidup kita sehari-hari, ceritakanlah tentang kesulitan , problema hidup atau penderitaan yang manakah yang membuat kita ingin mempertanyakannya dengan jujur di hadapan Tuhan atau memohon keadilan dariNya? Bagaimanakah kemudian, melalui perenungan dan doa-doa pribadi Anda di hadapan Tuhan serta penghiburan yang Anda peroleh, menjadikan penderitaan/ beban hidup tersebut berpengaruh terhadap keimanan Anda? Jelaskan.
Ayat Hafalan Hari Ini :
- Amsal 12 : 18 “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.”
- I Petrus 3 : 8 “Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati.”
