“Setibanya di Yerusalem, Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya ,bahwa ia juga seorang murid.”
(Kis. 9:26)
Pernahkah Bapak, Ibu dan Saudara-saudari mengalami kejadian ditolak oleh teman-teman yang biasanya bergaul akrab dengan kalian? Saya yakin kalau itu pernah dialami, pasti ada perasaan yang sangat tidak nyaman dan penuh tanda tanya besar dalam diri Anda? Mereka pasti memiliki alasan dalam melakukan tindakannya tersebut. Mari kita belajar dari Paulus dalam menghadapi peristiwa saat dia ditolak ketika mau bergabung dengan murid-murid yang lainnya.
Berdasar Kisah Para Rasul 9: 19b-31 di bawah judul perikop “Saulus dalam lingkungan saudara-saudara”, di mana Saulus -sebelum namanya berubah menjadi Paulus-, setelah bertobat berkehendak menggabungkan diri dengan murid-murid yang lain, beberapa kelompok heran dan berusaha menolak kehadirannya. Bahkan beberapa orang merundingkan rencana untuk membunuh Saulus, namun Saulus berhasil diselamatkan oleh murid-muridnya keluar kota dengan jalan diturunkan dari tembok kota. (Kis. 9: 23-25). Demikian juga pada waktu dia di Yerusalem, saat mau bergabung dengan murid-murid yang lain, mereka ketakutan karena mereka tidak percaya, orang yang dulu bertindak keji terhadap anak-anak Tuhan, sekarang mau bergabung (Kis. 8: 26).
Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan dan sakit hati Paulus menerima perlakuan semua itu, namun Paulus sabar menghadapinya karena dia bisa merasakan bagaimana kalau dirinya ada di pihak mereka, pasti juga tidak begitu gampang percaya terhadap perubahan sikap seseorang. Akhirnya, Paulus dapat diterima dengan baik oleh murid-murid yang lain berkat Barnabas, yang berani menjamin bahwa Paulus sekarang bukan Saulus yang dulu lagi, karena perjumpaannya secara pribadi dengan Tuhan Yesus. Setelah itu Paulus tinggal bersama-sama dengan mereka dan dengan keberanian yang luar biasa mengajar dalam nama Tuhan Yesus Kristus (Kis. 9: 27-28).
Apa yang dialami oleh Paulus, dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita, bahwa kesabaran menghadapi berbagai tekanan hidup, pada akhirnya akan berbuahkan sukacita. Dengan tekanan hidup demi tekanan hidup yang menimpa, Tuhan menghendaki supaya kita semakin kuat dalam iman kita. Tekanan hidup itu bak latihan yang berat dan menantang sehingga akan berujung kepada daya tahan yang kuat. Tuhan Yesus memberkati, Amin.
(RI22022021)
Pokok Doa:
- Doakan Gereja yang terus menolong jemaat memberi bantuan makanan, vitamin dan air mineral yang mengalami musibah banjir;
- Mengucap syukur Panitia tolong menolong dan jemaat yang membantu dalam pengadaan dapur umum dan pembagian makanan;
- Berdoa bagi pemerintah kita dalam mengatasi banjir dan memberi bantuan bagi yang berdampak.
